"Bun, Pak Cipto batalin kontrak furnitur untuk villanya!" Suara mas Adam membuat ruang makan yang tadinya tenang kini menjadi ribut. Aku dan bunda kini berada di ruang makan, sedang menyiapkan makan siang. Bunda memang memanggil mas Adam untuk makan siang di sini. "Loh…Ara, kamu di sini?" Mas Adam terlihat kaget melihatku. Aku hanya menatapnya datar kemudian kembali ke dapur untuk membawa beberapa piring. Mengabaikan wajahnya yang terlihat terkejut. Andaikan saja kamu tidak mengecewakanku mas, pasti aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan menyambutmu dengan seulas senyum yang manis. Bukan seperti ini. Jika hatimu sakit karena perilaku ku, itu salahmu sendiri mas. "Iya, Ara bunda suruh main. Kamu sih, nggak pernah ajak dia main ke sini," ucap Bunda bohong. Bunda tampaknya tak

