Indra memijat pelipisnya setelah sejak pukul tujuh malam ia berkutat dengan rumus matematika. Karena Anjarani hendak mengajaknya untuk ikut kompetisi, sudah pasti Indra harus ekstra belajar mengingat Anjarani sudah jauh lebih pintar darinya. “Iya, Indra turun.” Jawab Indra sedikit keras. Ia meraih ponselnya sebelum ia keluar dari kamar untuk makan. Ketika Indra turun, sudah ada martabak telor kesukaannya disana. Tanpa basa basi Indra mengambil sepotong sebelum ia ke dapur untuk mengambil jus di dalam kulkas. “Mamah tinggal istirahat gak apa-apa kan?” Indra mengangguk sambil memberikan senyum hangat untuk ibunya. “Iya, gak apa-apa Mah. Bobok syantik aja, Indra bisa beresin sendiri kok.” Sang ibu tertawa kecil sambil mengusap rambut anaknya yang begitu pengertian. Dan seperti apa kegiat

