Ketika istirahat, Jessie tampak tidak seperti biasanya. Ia yang selalu membuka percakapan dan mencairkan suasana. Kini ia tampak muram dan tidak bersemangat menyantap nasi goreng pesanannya ketika mereka di kantin. Indra juga merasakan kemurungkan Jessie, ia lalu sedikit keras menyenggol lengan Anjarani untuk bertanya. Anjarani mendelik kesal ke arah Indra, ia bukannya tidak ingin bertanya. Tapi ia juga tidak pernah menenangkan orang galau sebelumnya. “Jess? Kamu kenapa?” Tanya Anjarani khawatir. Rasanya aneh saja melihat Jessie yang tiba-tiba murung. Seperti ada gempa bumi di selatan dan gunung meletus di utara. Jessie murung itu sesuatu yang mustahil bagi Anjarani. Jessie mengangkat kepalanya merasa gundah sekali. Matanya sedikit berkaca-kaca menatap Anjarani dan menahan tangisnya. “

