Anjarani datang ke perpustakaan tanpa mengatakan apa pun. Ia sudah tidak akan mempedulikan lagi bagaimana keadaan kelasnya nanti. Hanya Indra dan Jessie yang hanya akan ia bantu jika sewaktu-waktu mereka butuh bantuannya di masa depan. Ia sudah bertekad dalam hatinya, pikirannya sudah bulat walau saat ini kekalutan masih melanda dirinya tiada henti. Sudah sejak dua jam yang lalu Anjarani diam saja sewaktu Bu Salma dengan semangatnya mengajar mereka di perpustakaan. Seandainya Bu Salma tahu bahwa Anjarani baru saja memukul anak kelas tiga, sudah pasti sesi belajar akan menjadi sesi bimbingan konseling. Dan lagi pula siapa orang gila tadi? Tiba-tiba mengklaim dirinya pacar. Cih! Sampai mati pun Anjarani tidak akan mau dengan preman seperti dia. Biar kakak kelas sekalipun, Anjarani tidak a

