Anjarani menatap bengis laki-laki itu. Tidak pernah ia bayangkan ada laki-laki preman yang akan memaksa dirinya menjadi pacarnya. Orang gila satu itu bahkan mencolek dagu Anjarani satu kali dan kemudian tertawa bersama teman-temannya. Teman-teman di kelasnya tidak ada yang berani pasang badan untuk Anjarani atau sekedar membelanya. Ia sedikit sakit hati dengan mereka karena sejak pertama ia bermasalah dengan Ayu, mereka tidak ada juga yang menolongnya. Rasanya tidak adil. Anjarani tahu mereka takut, tapi mereka hanya berempat sedangkan di kelas ada lebih dari sepuluh orang. Anjarani dengan kasar menghempaskan tangan laki-laki itu dari wajanya, matanya nyalang menatap laki-laki itu. “Maaf ya, aku gak biasa ngomong sama beruk gak ada otak yang tiba-tiba ngajak aku pacaran. Kalau kamu masi

