Siang ini sudah sangat terik dan hampir terasa seperti terbakar ketika mereka ke belakang rumah dan duduk santai di pinggir kolam renang dengan payung besar yang menutupi mereka semua dari teriknya matahari.
Payung itu menutupi meja dan kursi yang ada di bawahnya, beserta Anjarani yang sudah mengibas pelan kemeja hitamnya yang sudah terasa lengket karena keringat. Ingin rasanya ia segera menceburkan diri ke dalam kolam renang.
Sayangnya Om Dananjaya sedang berbincang-bincang dengannya. Belum lagi tatapan kesal Indra yang menatapnya dengan tatapan mengusir, seakan-akan menyuruhnya untuk segera pergi dari rumahnya. Cih! Anjarani mengangkat gelas jusnya di atas meja dan meminumnya dengan sengaja bertingkah menyebalkan agar Indra semakin kesal.
Indra memutar matanya dan beralih pada ponselnya. Ayahnya ini terlalu sayang dengan Anjarani dan Indra sendiri sudah seperti anak pungut karena ayahnya yang pilih kasih.
“Ngomong-ngomong, kamu bakalan tinggal disini lagi ‘kan Ran? Lanjut SMA dimana?” Tanya Pak Danajaya sambil meneguk minumannya. Anjarani tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Om Danajaya.
“Aku belum nentuin pilihan Om. Mungkin setelah ini aku bakal nyari SMA yang bakal jadi target.” Ucapnya tenang.
Kak Feri sendiri menaikkan kedua alisnya ketika melihat adiknya ini sudah konsisten walaupun dari sikap dan perilakunya masih saja kekanakan. Indra yang mendengar perkataan sok bijak Anjarani langsung mendengus kasar dan mencibir dalam hati.
Ia kesal lantaran sewaktu mereka kelulusan SD, nilai Anjarani peringkat pertama yang terpajang di papan peringkat kelulusan. Betapa kesalnya Indra ketika melihat namanya berada di barisan nomor dua setelah Anjarani di atasnya.
Indra kini juga ikut mengibaskan seragam SMPnya karena panas. Jika dipikirkan kembali, kenapa mereka tidak berbicara santai di ruang tengah saja? Duduk di bawah terik matahari seperti ini terasa tidak nyaman walaupun ada payung yang melindungi mereka dan juga segelas minuman dingin. Indra menggelengkan kepalanya tidak mengerti lagi dengan pikiran ayahnya.
“Masuk ke SMA 1 saja Ran. Indra Om masukkan kesana juga.”
Indra hampir tersedak minumannya ketika ayahnya mengajak Anjarani untuk mendaftar di SMA tujuannya. Ia buru-buru menatap Anjarani yang terlihat berpikir sebelum ia balas tersenyum pada Om Dananjaya.
“Akan aku pikirkan Om.” Ucap Anjarani dan melirik pada Indra sambil tersenyum menjengkelkan.
Indra membuang muka ke samping. Jika Anjarani serius akan mendaftar SMA di sekolah incarannya, bisa hancur masa depannya karena Anjarani akan terus mengerjainya sampai mereka lulus sekolah dan siksaan kembali berlanjut sampai lulus kuliah juga.
Pikiran sempit Indra langsung mendoktrin dirinya sendiri bahwa hidupnya hanya untuk menjadi mainan bagi Anjarani. Berusaha melawan pun percuma, karena sudah pasti ayahnya akan membela wanita itu. Dan Indra sudah dipastikan kalah telak dengan Anjarani. Tidak ada pembelaan.
Setelah mereka berbincang cukup lama, akhirnya Anjarani dan Kak Feri berpamitan pulang karena banyak sekali pekerjaan yang harus mereka persiapkan.
“Rani? Kapan kesini?” Rani pun menoleh dan mendapati Mamahnya Indra yang baru saja menutup pintu kamarnya. Ia langsung tersenyum cerah dan berlari kecil menghampiri Tante Sekar.
“Hehehe sengaja gak nyariin tante, soalnya kata om tante lagi istirahat. Gimana kabar tante?” Indra sudah menampilkan wajah sewot dan berjalan melewati kedua wanita yang nyatanya tidak memperdulikannya sama sekali.
“Alhamdulillah, tante sudah sehat lagi sekarang. Ada Nak Feri juga, sini.” Ucapnya masih terdengar lembut dari tutur katanya. Kak Feri tampak canggung sebelum ia berjalan mendekat dan kemudian salim dengan Tante Sekar.
Sudah dua kali Tante Sekar masuk rumah sakit selama sebulan ini karena penyakit diabetes yang di deritanya sejak lima tahun belakangan. Tapi bulan ini rekor pertama kali Tante Sekar menginap selama lebih dari dua minggu di rumah sakit.
Tubuhnya yang terlihat sehat ini ternyata sudah termakan oleh penyakit berbahaya. Anjarani tahu Tante Sekar yang memeluknya ini masih dalam kondisi lemah karena gemuruh nafasnya yang terdengar berat. Rasanya ia tidak tega meninggalkan Tante Sekar sendiri.
“Tante istirahat aja lagi. Nanti Rani bakal main kesini lagi.” Ekspresi Tante Sekar berubah sedih.
“Tante sedih Ran, anak Tante Indra gak betah di rumah. Tante cuma ngobrol sama Om, tapi kakek tua itu sukanya ngomongin aquarium. Tante kan bosen.” Ujar Tante Sekar yang langsung mendapat deheman yang disengaja oleh Indra dan Juga Dananjaya.
Anjarani sudah akan tertawa tapi tidak tega ketika melihat Om Dananjaya yang tersenyum hambar. Jika sudah hobby memang hanya itu yang akan dibicarakan setiap harinya.
“Nanti Rani main lagi kok Tante. Tante banyak-banyak istirahat aja, kan kalo Rani datang kita bisa ngobrol bareng lama-lama.” Ujar Rani sambil mengelus punggung tangan Tante Sekar.
Dengan ekspresi tidak ingin ditinggal, Tante Sekar menatap Anjarani sedih seakan tidak mau lepas darinya. “Janji ya. Awas kalau bohong.”
Anjarani pun mengangkat dua jari telunjuknya sambil tersenyum lebar. “Janji.”
Anjarani pun akhirnya diperbolehkan pulang oleh Tante Sekar dan ia pun melanjutkan aktivitas mengantar undangan pernikahan ke rumah orang-orang yang keluarga mereka kenal.
-Dua minggu kemudian-
Acara pesta pernikahan Feri dengan Teh Elsa pun digelar. Dengan menggunakan konsep pernikahan adat Jawa, Feri sudah sejak tadi lepas pasang blangkon yang ada di kepalanya. bukan karena tidak nyaman, tapi untuk menutupi wajahnya ketika melihat teman semasa kuliahnya datang dan menyorakinya seperti orang tidak pernah melihat sepasang pengantin di atas pelaminan.
Anjarani tidak ditugaskan untuk menjadi pagar ayu seperti wanita-wanita cantik yang didandani cantik untuk menerima tamu, tapi ia sudah berkeliling mencari makanan kesana kemari. Tidak peduli jika ia sudah nambah dua kali.
Seperti sekarang ini. Riasan sempurna wajah Anjarani sudah sangat mengundang perhatian. Apalagi dengan semangkuk bakso yang ia pegang di tangan kirinya beserta sambal yang ia tuangkan di dalam baksonya sudah tidak terhitung berapa sendok.
“Nak, banyak banget sambelnya. Nanti sakit perut.” Tegur ibu-ibu penjaga makanan. Anjarani tersenyum lebar sambil menuangkan satu sendok sambal terakhir.
“Suka pedes hehehe.” Ucap Anjarani yang langsung mengambil tisu dan kemudian mengungsi untuk mencari kursi kosong. Meninggalkan ibu penjaga bakso yang menggelengkan kepala heran.
Di panggung pelaminan, Feri yang melihat dari kejauhan Anjarani sedang menyantap bakso juga ikut menggelengkan kepala. Sambil berbisik dia berbicara dengan istrinya yang hanya tertawa menanggapi ocehan Feri yang mulai berbicara macam-macam tentang Anjarani.
“Mah! Lihat tuh Rani. Udah berapa mangkok bakso dia makan?” Tanya Feri pada Mamahnya yang hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala juga.
“Biarin aja Fer. Masih masa pertumbuhan.” Ucap sang Mamah pengertian.
Acara yang digelar di sebuah hotel bintang lima yang terkenal dengan kemewahannya di Balikpapan. Hari sudah hampir sore ketika tamu undangan perlahan sudah mulai sedikit yang datang. Begitu juga dengan suasana yang perlahan mulai kondusif kembali.
Feri dan Teh Elsa sudah bisa sedikit santai dan duduk sambil memijati kaki yang sudah terasa pegal sampai sekali. Anjarani pun dengan pengertiannya membawakan dessert pudding dan buah-buahan untuk Teh Elsa yang sedang dipijat oleh Feri.
“Teh, sudah makan belum? Rani ambilin ya?” Tanya Anjarani langsung menyerobot kursi di tengah-tengah hingga Feri hampir terjungkal ke samping.
“Buset dah ini bocah.” Omel Feri yang hanya diacuhkan oleh Anjarani.
“Iya nih laper. Makan yuk mumpung tamunya udah mulai sepi.” Kata Teh Elsa kelelahan. Anjarani langsung kesal dengan kakaknya.
“Kak Feri ini gimana sih! Teh Elsa belum makan. Bukannya ngomong ke aku biar diambilin makan juga.” Dengan raut wajah kesal Anjarani sambil memukul paha kakaknya tanpa rasa berdosa sedikit pun. Feri meringis.
“Aku kan laper juga Ran. Lagian banyak tamu. Mamah sama Papah sudah ngungsi.” Anjarani memutar matanya malas.
Memang hanya mempelai saja yang masih di pelaminan saat ini. Sedangkan kedua keluarga termasuk besan dari keluarga Teh Elsa juga sama mengungsi lebih dulu karena usia mereka yang sudah tidak lagi kuat untuk duduk seharian di kursi dan menyalami tamu.
“Yaudah! Ayo makan. Entar tamunya salaman sama aku aja disini.” Ujar Rani bercanda.
“Ngawur aja! Ayo!” Anjarani memajukan bibirnya sewot dan langsung ditarik oleh Feri untuk turun dari panggung pelaminan.
Ketika mereka semua berdiri dan hendak turun, mata Anjarani tidak sengaja melihat keluarga Dananjaya yang memasuki ballroom dengan Indra di belakang mereka. Anjarani dan Feri beserta Teh Elsa langsung turun dari panggung.
Dibantu oleh Anjarani yang mengangkat ekor gaun Teh Elsa turun dari panggung, mereka pun menyambut Tante Sekar dan Om Dananjaya yang tersenyum sambil menepuk pundak Feri.
“Sudah nikah aja kamu Fer. Om jadi ngerasa semakin tua. Selamat yaa.” Ucap Om Dananjaya bangga.
“Iya Om, makasi banyak hehe. Oh iya Om sama Tante ke ruang makan hotel aja. Mamah sama Papah disana lagi istirahat, sama besan juga. Gak enak disini suasananya kurang nyaman.” Ucap Feri begitu pengertian.
“Iya Om, Tante. Biar. Rani yang anterin. Kak Feri sama Teh Elsa mau makan dulu soalnya.” Anjarani menimpali dan langsung ditarik oleh Tante Sekar.
“Ran, itu istri kakakmu cantik banget. Kok mau yaa sama Feri.” Bisik Tante Sekar dan Anjarani langsung menutup mulutnya supaya tidak tertawa kencang.
“Mah. Gak sopan ih.” Tegur Indra yang mendengar bisikan mamanya bersama Anjarani.
Setelah itu mereka bersalaman lalu Anjarani mengantar Om dan Tante Sekar ke restaurant hotel. Indra berjalan di sampingnya tampak lebih pendiam dari biasanya. Anjarani mengerutkan alisnya bingung. Biasanya laki-laki itu suka mencari gara-gara dengannya.
“Kenapa kamu diam? Kerasukan?” Tanya Anjarani yang mengekor di belakang Tante Sekar. Indra membuang muka ke samping.
“Jangan ngomong sama aku. Aku malu ngomong sama ondel-ondel.” Anjarani langsung berhenti melangkah karena terkejutnya ia dengan hinaan Indra.
‘Apa? Ondel-ondel?’ Batin Anjarani sakit hati dan langsung berkaca pada deretan dinding keramik hitam yang memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar. Buru-buru dia mengecek make upnya. Takut make upnya ternyata luntur dan membuatnya terlihat memalukan.
“Make up ku luntur ya?” Tanya Anjarani pada Indra lagi dan langsung menundukkan kepalanya malu.
Indra melirik ke arah Anjarani. Sudah berkali-kali ia mengalihkan pandangan matanya agar tidak melihat ke arahnya yang entah sadar atau tidak orang-orang menatap ke arahnya dengan tatapan lain.
Anjarani baru saja lulus SMP, yang dimana itu adalah proses dimana ia akan menjadi wanita dewasa. Tapi tampaknya dia tidak begitu peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya. Itulah kenapa Indra heran melihat Anjarani saat ini.
Mengenakan kebaya berwarna gold tanpa kerah dan bagian dadanya yang dihiasi oleh brukat gold cantik. Kulitnya putih bersih dan juga wajahnya yang bertabur make up sangat menarik untuk dipandang.
Indra tidak tahu jika bocah kecil yang suka menjahilinya itu bisa secantik ini. Padahal Indra sendiri berusaha keras untuk tidak menatap Anjarani terus menerus lantaran memang dia satu-satunya objek yang sayang jika tidak dilihat.
“Gak luntur. Cuma menor aja.” Ucap Indra kembali berdusta.
Tangannya terkepal erat karena jantungnya yang tidak bisa berdetak santai. Indra takut wajahnya memerah hanya karena memandangi Anjarani.
Anjarani tidak kurus dan tidak gemuk. Tubuhnya semampai dan gaya rambutnya yang di tata menyisakan sedikit anak rambut yang menjuntai bagai sulur yang menggantung indah di pipinya. Ada perasaan yang perlahan berubah menjadi merah jambu ketika Indra terhenti karena Anjarani yang terus menundukkan kepala.
“Ikut aku.” Anjarani sedikit terkejut ketika Indra meraih tangannya dan kemudian menggandengnya berbalik arah. Membiarkan keluarga mereka berbincang-bincang santai di restaurant.
“Eh? Kita mau kemana?”