'Ajeng, yang waras! Dia cuma gak mau gak ada asisten yang bantuin dia.' Sejenak, Ajeng berusaha untuk tetap menggunakan pikiran sehatnya. Tapi tetap saja sisi lain dari hatinya memaksa otaknya berpikir yang berbeda. 'Tapi dia gak gini juga dulu. Ah, udahlah! Yang penting aku gak kemakan omongan lelaki beristri. Ajeng, kamu gak pernah suka dia dari dulu juga, jadi jangan berpikiran sempit!' Ajeng yang tahu sikap Panji berbeda dari yang dulu, tetap berusaha untuk melupakan. Ajeng tak boleh memikirkan Panji. Apapun yang terjadi, Panji dengannya hanya ada di waktu yang salah, di tempat yang salah. Kebersamaan mereka bukan sesuatu yang istimewa. ‘Yang penting yang kulakukan sekarang untuk kebaikanku dan kesehatanku sendiri.’ Ajeng, memang tak mengakui menurut ke Panji. Tapi dia tetap membu

