"Gak suka liat gue di sini?"
"Ya gak gitu, tapi kan lo bilang balik pas bini lo udah tek dung. Ini baru satu setengah bulan."
"Benih gue tokcer. Gak butuh waktu lama buat jadi bakal anak."
Satu setengah bulan? Kenapa aku juga belum haid?
Sejujurnya, Ajeng tak mau peduli dengan urusan bosnya. Dia juga tak mau dengar obrolan itu. Mau bosnya pulang kapan juga dia tak peduli. Karena setahu Ajeng, rencana bulan madu itu memang antara tiga sampai enam bulan.
Keduanya sibuk. Jadi Panji dan Evelyn membuat rencana program hamil dulu selama bulan madu. Makanya Ajeng berencana cari kerja di tempat lain secepatnya. Jadi bosnya pulang, dia sudah dapat kerjaan baru.
Tuhan, apa yang Engkau rencanakan untukku? Ini bukan kesengajaanku, kenapa aku juga harus menanggungnya?
Alangkah kejamnya Tuhan, ternyata rencananya Ajeng tak sesuai dengan inginnya Tuhan. Ajeng, bergetar tubuhnya mengingat dia tak pernah sekalipun terlambat haid.
Tapi dia memang betulan lupa kalau sudah satu setengah bulan tak datang bulan. Ajeng mengingat-ingat, seharusnya seminggu setelah kejadian di hotel itu adalah tanggal mensturasinya. Kenapa juga dia tak berpikir soal ini sebelumnya?
Ajeng memaki sendiri di dalam hatinya. Sungguh dia amat ceroboh. Dan apakah ini alasan dirinya sering pusing di pagi hari, mudah lapar dan tak fokus?
"Ajeng."
"Eh, i-iya Pak?" Ajeng sampai lupa kalau di ruangan itu dirinya tak sendirian.
Duh, kenapa konsentrasiya buruk sekali sih?
"Ajeng, kamu mikirin tawaran lamaran aku tadi sampai gak konsen ya?"
"Mind your words, Dasta!"
"Hehe, jangan ngambek dong Ji. Kan lo baru pulang, kok udah marah-marah? Mau jadi calon Bapak lo, jangan emosian."
"Ck. Intinya ini di kantor. Di tempat ini, haram hukumnya office romance seperti di cerita-cerita erhothis," ucap Panji yang memang sangat mementingkan keprofesionalan dalam bekerja.
"Ini draft proposalnya Pak," meski kesal dengan kehadiran Panji, Ajeng hapal betul bagaimana Panji mengurus bisnisnya. Jadi dengan cepat dia mulai berusaha fokus kembali.
Dasta juga tak berani macam-macam kalau Panji sudah membahas kerjasama mereka. Ketimbang sahabatnya itu tantrum dan bikin ribet kalau sudah emosi, Dasta ikuti saja dulu alurnya.
"Oke, kalau begitu gue setuju."
"Kalau begitu, draft kerjasama ini bisa kita tandatangani, kalau gak ada tambahan lain."
"Sip, deh. Gue mah orangnya gak ribet, Ji." Dasta sudah meandatanganinya lebih dulu sebelum Panji.
Setengah jam rapat, kesepakatan sudah terjalin. Memang karena mereka sahabat juga dan pembahasan ini sudah dibicarakan sebelumnya, jadi proses berjalan smooth.
"Ajeng, pulang bareng yuk," ajak Dasta yang merasa urusan pekerjaan sudah selesai, mulai modus lagi.
"Ajeng masih ada kerjaan. Urusan kita sudah selesai, silakan meninggalkan kantor."
"Isk, udah sore gini, ya. Lo masih mo nyuruh dia ngerjain apaan lagi?"
"Gue baru pulang. Satu setengah bulan, banyak laporan yang mesti gue pelajarin. Jadi sekretaris gue lembur."
"Ah, tega lo ama gue. Lagi mo ngerayu calon istri, dihalangin terus. Besok aja kenapa? Lagian bini lo hamil kan? Masa ya lo baru pulang udah lembur?"
"Eve udah ada pemotretan untuk endorse sama live di TV swasta petang ini. Dah, sono balik. Gue masih harus ngecek urusan perusahaan."
Andaikan bisa memilih, Ajeng juga maunya pergi dengan Dasta saja ketimbang lembur dengan bosnya. Yah, meski harus mendengar rayuan garing Dasta, tak apalah. Ketimbang harus bersama seseorang yang seharusnya sudah bisa dilupakan Ajeng apalagi wanita itu tahu Panji sudah mau punya anak dengan istrinya, tapi dia masih terikat urusan perusahaan. Ajeng tak bisa pergi.
Meski dia benci setengah mati pada Panji dan khawatir sekali kalau sesuatu betulan berkembang dalam kandungannya.
"Ajeng-"
"Sebentar saya siapkan laporan perusahaan selama satu setengah bulan terakhir Pak," ucap Ajeng selepas kepergian Dasta.
Dirinya juga tak mau berdua-dua dengan Panji dalam ruangan itu. Tanpa menatap Panji, Ajeng sengaja merapikan proposal kerjasama, baru keluar tanpa menunggu Panji bicara lagi.
Dia masih marah dan menghindar dariku? Lah, memang apalagi yang Panji harapkan sih? Ajeng masih bisa seperti dulu?
Mimpi. Itu tak akan pernah terjadi. Hati Ajeng sudah remuk, hubungan mereka bagai gelas kaca yang sudah jatuh berkeping-keping, bekas retakan yang sudah di lem tetap tak bisa dihilangkan.
Panji hanya bisa menelan salivanya melihat sikap Ajeng yang membuat jarak terhadapnya.
"Ajeng, kamu sekretaris saya, seharusnya kamu yang antar laporan ini. Kenapa menyuruh Leni? Saya sudah bilang kan kita mesti menatap ke depan. Mau sampai kapan kamu mengingat kejadian itu dan mengganggu keprofesionalan kerja?"
"Saya mohon maaf Pak Panji. Tapi bukan Bapak sendiri yang meminta saya supaya tidak muncul di hadapan Bapak dan harus menghindar supaya tidak berada di ruangan yang sama?"
Panji marah dan memanggil Ajeng ke ruangannya setelah data perusahaan dikirimkan oleh Leni. Beberapa karyawan belum pulang. Makanya Ajeng sempat meminta tolong ke Leni membawakan data yang dijanjikan ke ruangan bosnya.
Siapa sangka ini menyulut emosi Panji sampai Leni ketakutan melihat wajah penuh murka bosnya dan segera menyuruh Ajeng masuk. Panji memanggilnya. Tapi dengan santai, Ajeng berhasil menyiram air ke bara api dalam d**a Panji berganti dengan rasa malu yang menyeruak dalam diri pria itu.
Panji lupa soal permintaannya di dalam kamar hotel itu pada Ajeng.
"Tapi perjanjian itu sudah tak berlaku sejak saya datang ke kamar kamu sebelum bulan madu. Saya sudah menjelaskan kalau kita harus profesional dan tak lagi melihat masa lalu," ucap Panji yang tak kehilangan akal untuk berkelit. Dia tak mau sepenuhnya disalahkan meski yah, Panji bukan orang bodoh. Dia tahu tindakannya ini absurd. Sangat memalukan.
Hanya saja pride-nya terlalu tinggi untuk mengakui. Panji lebih suka memelintir fakta ketimbang harus mengakui dia yang salah. Apalagi sama Ajeng, Panji tak mau kalah.
"Mohon maaf Pak. Mungkin saya terlalu bodoh tidak mengerti arti tersirat di sana. Untuk data, semua sudah dibawakan Leni. Silakan Bapak pelajari. Kalau sudah tak ada yang mau disampaikan lagi, saya izin keluar Pak."
"Siapa bilang kamu bisa pergi? Kepala saya penat, masih jetlag. Bacakan semua laporannya. Saya pusing kalau harus baca satu persatu."
Kalau pusing kenapa tak baca besok saja? lagi-lagi Ajeng berdecih dalam hatinya saat mendengar alasan Panji yang tak masuk akal.
Cuma dirinya harus profesional, kan? Baiklah, Ajeng pun membacakan satu persatu kontrak kerjasama dan apa saja yang memang perlu diketahui oleh Panji selama ke-absenannya.
Apa-apaan aku ini? dan jujur saja, Panji juga merasa awkward atas tindakannya ini.
Bisa-bisanya dia menyuruh Ajeng membacakan data, padahal dia bisa baca sendiri. Panji juga bukan tipe audio. Dia lebih bisa fokus saat memperhatikan visual juga. Semua kontrak itu, data yang dibacakan, harus dia baca ulang karena dia tak bisa menangkap detail hanya dengan suara.
"Uhuk-uhuk. Maaf Pak, saya izin minum dulu."
Tapi apa yang salah padanya sampai dia menyiksa Ajeng yang sudah bekerja dari pagi harus membacakan berkas tebal itu lembar demi lembar? Sudah hampir dua jam juga.
"Sudah mau jam tujuh. Lanjutkan besok saja, ayo kita pulang dulu. Saya juga masih penat, masih jetleg."
Bukan tadi Dasta sudah bilang Panji harusnya pulang dulu dan istirahat? Dia baru pulang, kenapa harus ke perusahaan? Bahkan mensabotase jadwal Hamdan. Ajeng tadi tak sempat mengecek handphone-nya, jadi dia baru buka setelah rapat selesai dan dia juga lupa memasang getar.
Jadi saja Ajeng tak tahu kalau Hamdan sudah menginfokan Panji yang akan menemui Dasta.
Sudahlah, itu kecerobohannya. Sekarang yang bikin malas, sudah tahu kecapekan, kenapa juga Panji harus datang ke perusahaan, mengerjai Ajeng sampai suaranya serak?
Tak cukupkah sudah berhasil merusak hidupnya? Isk, Ajeng kesal.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu Pak."
"Tidak usah dibawa, laporan itu biar di meja saya dulu," ucap Panji karena dia memang berencana membaca ulang esok pagi.
Tadi dia tak konsen. Semua hanya lewat saja yang dijelaskan Ajeng.
"Ayo pulang. Bawakan tas saya ke mobil, Jeng."
"Maaf Pak, silakan kalau Bapak mau pulang. Saya bisa pulang sendiri."
"Saya masih tinggal di rumah mama saya. Beberapa hari lagi baru urus pindahan ke rumah saya. Ayo bareng."
"Maaf Pak, terima kasih. Saya masih ada urusan lain. Bapak silakan duluan."
"Ajeng, kamu mau menghindari saya lagi? Apa sulit sih untuk profesional?" tegas Panji yang sudah meninggikan suaranya.
Sulitkah untuk Ajeng mengerti kalau mereka tak harus melihat ke belakang dan fokus saja ke masa depan? Sudah lelah, dia masih harus berdamai dengan kekerasan Ajeng. Panji lelah.
"Kamu pulang bareng sama saya. Jangan mengelak."
"Baik Pak." Ajeng malas berdebat, dia menundukkan kepalanya dan keluar lebih dulu dari ruangan Panji sambil membawakan tas pria itu lalu menuju meja mengambil tasnya.
"Ayo Pak."
Apa aku terlalu kasar padanya? Ajeng menurut, tapi Panji malah merasa bersalah karena sudah menyentak Ajeng tadi.
"Ajeng, maaf, tadi saya-"
TING!
Panji ingin menjelaskan saat mereka menunggu lift ke atas. Tapi ucapannya terpotong di sana saat lift terbuka dan seseorang tampak di dalamnya yang langsung bicara tanpa putus
"Sayang, kamu baru pulang udah lembur sih? Aku sengaja dateng jemput kamu. Mama khawatir tuh kamu kecapekan. Kenapa sih gak istirahat dulu? Malah ninggalin aku tidur di kamar sendirian demi kerja. Tega sama istrinya yang lagi hamil ya?"