KARENA PENAMPILAN

1216 Kata
"Eve, ini, suamimu kasih minum dulu." "Hm, makasih Ma," ucap Evelyn sambil mengambil gelas dari tangan ibu mertuanya. "Kalo makan baca bismillah dulu makanya biar gak keselek!" tambah Ayu lagi menyindir putranya. "Aku tahu si Dasta. Dia gak mungkin suka Ajeng, kecuali cuma buat main-main aja. Mereka gak dari satu derajat yang sama, Ma." "Panji, kamu ngomong apa sih? Sejak kapan kiita mengelompok-ngelompokkan orang?" Tak sangka saja Ayu kalau anaknya akan menjawab begitu. Dia jadi gemas sendiri. Pasalnya, di sana ada ibunya Ajeng yang juga ikut berkumpul. Hanya Ajeng sendiri yang tak bergabung karena sakit. "Ma, bukan aku mau menghina Ajeng. Tapi aku tahu keluarga Dasta. Bibit, bobot, bebet, itu penting untuk mereka. Makanya aku gak mau Ajeng tambah sakit hati. Meski Dastanya baik, tapi keluarganya gak akan bisa terima. Mending dia dijodohin sama Sarita, karena udah jelas mereka nggak akan berani ke keluarga kita." "Dih, ogah! Aku gak mau ya Kak punya calon keluarga mertua yang ribet dan killer!" "Tau nih, Panji. Ada-ada aja. Baik Ajeng maupun Sarita, Mama gak akan izinin kalau mereka dideketin sama keluarga yang terlalu kotak-kotak soal status. Ajeng itu udah kaya anak Mama sendiri," tegas Ayu yang berkata jujur. Dia memang sangat menyayangi Ajeng dan Sarita. Mereka berdua tumbuh bersama, sekolah satu kelas, dari dulu, Ayu juga yang mengambilkan rapot Ajeng. Dia bilang Ajeng anak angkatnya jika ditanya guru. Ayu menjaga martabat Ajeng. Makanya, dia tak terima saja dengan pikiran putranya Panji. "Eve, cepet deh bawa suamimu berangkat. Kayaknya dia udah gak tahan pengen bulan madu. Biar otaknya ga sange kelamaan nahan-nahan." "Eh, jangan sembarangan Jim!" "Emang bener, kesian tuh Mama sampai marah-marah. Udah sono berangkat." Panji merengut, tapi jam sudah menunjukkan mereka harus segera pergi. Mamanya juga sudah mengusirnya dan Evelyn sudah merajuk juga. Terpaksa, Panji harus pergi. "Cepet ya, cetak cucu Mama," ucap Ayu sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian anak dan menantunya. Bibirnya tersenyum lega. Rasa bahagia hatinya karena acara besar hari ini sudah selesai dan sekarang, harapannya untuk punya cucu akan segera terwujud. "Wulan, tahun depan, giliran kamu dan Jimmy ya yang kasih Mama calon bakal cucu." "Hihi, siap Ma. Yang penting Mama sehat terus dan panjang umur ya." "Hm, makasih Wulan. Yuk, masuk. Kamu nginep sini aja ya di kamarnya Sarita." Keluarga yang sangat harmonis. Aku apa-apaan sih, hampir aja bikin mereka kehilangan kebahagiaan mereka. Diam-diam, di pintu samping rumah, Ajeng berdiri di sana menyaksikan keberangkatan Panji dan Evelyn. Dia tak ada niat buruk setelah perjanjiannya dengan Panji di kamar tadi. Yang Ajeng sesalkan, kemarin-kemarin dirinya yang sempat ingin memberitahukan tentang peristiwa di hotel itu pada keluarga Panji. Dia sudah sadar diri tentang kerugiannya dan tak ingin menarik keluarga Pradana ikut sulit karena kesalahpahaman dirinya dengan Panji. Ajeng mencoba tegar, berusaha melupakan semuanya, toh dia juga sudah banyak berhutang budi pada keluarga itu. Ajeng mulai berpikir lebih rasional setelah kepergian Panji berbulan madu. Setidaknya, dia bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan dan melupakan tentang peristiwa merengut kesuciannya itu. "Ajeng, aku ada operasi penting siang ini. Nanti siang, rapat dengan perusahaan tekstil, papaku yang urus ya." "Hm, siap Kak Jim." Selama Panji bulan madu, urusan bisnis perusahaan di handle oleh adiknya Jimmy dan ayahnya, Hamdan Pradana. Ajeng tak masalah, ini lebih baik untuknya. Dia bisa fokus kerja seperti biasa, bahkan hampir melupakan soal Panji. "Hi Ajeng, kok pakai kacamata tebel lagi? Padahal kamu cantik loh kalau make up nya sama kayak waktu di resepsi Panji sama Eve." Sampai Ajeng baru ingat, perusahaan tekstil yang dimaksud Jimmy adalah perusahaan keluarga milik Dasta dan pria itu sudah menyebut nama sahabatnya yang Ajeng tak ingin dengar sebetulnya. Hanya mengingatkan tentang lukanya yang sedang berusaha dikubur. "Sore Pak Dasta. Saya mohon maaf, Pak Hamdan mungkin baru tiba seperempat jam lagi. Beliau habis mengecek pabrik di luar kota, jadi sepertinya terjebak macet," ucap Ajeng yang tahu jadwal Hamdan hari ini. Tapi biasa pemimpin keluarga Pradana itu memang tak pernah telat. Entah kenapa hari ini memang belum datang. Salahnya Ajeng, tadi dirinya yang baru saja selesai ikut rapat dengan divisi humas, lupa mengecek posisi Hamdan. Padahal Ajeng biasanya tak seceroboh itu. Dia tak tahu Hamdan belum datang ke ruangan rapat. Sekarang, dirinya terpaksa memberikan penjelasan itu sambil memikirkan alasan apa yang harus diberikannya ke Dasta sebelum keluar dan menelepon Hamdan Pradana. "Selow. Aku juga gak buru-buru. Tapi Jeng, kamu ga da minat buat make over penampilan kamu? Sekretaris itu, kalau penampilannya oke-" "Untungnya bos saya tak mempermasalahkan penampilan Pak Dasta. Selama pekerjaan saya sesuai desk job, tidak dipermasalahkan." "Ya karena kamu udah dianggap anak angkatnya keluarga Pradana. Coba kalau bukan, gak mudah buat kamu jadi sekretaris meski otak kamu sepintar Einstein." Itukah alasan aku sulit diterima kerja? sebetulnya Ajeng tipe orang yang tak peduli kalau disindir. Dia cuek dan fokus pada pekerjaannya saja. Cuma kali ini berbeda. Setelah kepergian Panji bulan madu, diam-diam Ajeng semakin gencar mengirim CV lamaran ke perusahaan lain yang tak ada hubungannya dengan perusahaan Pradana. Tapi tak ada satupun panggilan untuknya. Dia jadi terganggu dengan penampilannya sendiri. Bagaimana kalau benar yang dibilang Dasta? Penampilan kurang menarik jadi pemicu dia harus tetap berada di perusahaan Pradana. Tak bisa. Ajeng tak mau itu terjadi. Dia harus mandiri, pergi secepatnya dari keluarga Pradana. Ajeng sudah memutuskan, mungkin dia tak bisa membawa kedua orang tuanya pergi meninggalkan rumah keluarga Pradana berbarengan. Tapi dia bisa menabung dulu, sampai uangnya cukup, baru mengajak orang tuanya dan Ajeng akan mengembalikan dengan mencicil uang yang selama ini diberikan keluarga Pradana untuk pengobatan ayahnya, biaya sekolahnya, dan lainnya. Apakah ini artinya Ajeng harus mengubah penampilan? "Eh, Jeng, maaf deh kalo tadi omonganku bikin kamu gak nyaman. Aku gak maksud ngehina kamu kok, aku-" "Tenang aja Pak Dasta, saya bukan orang yang gampang tersinggung. Saya cuma berpikir saja dimana posisi Pak Hamdan. Permisi ya Pak, saya mau telepon dulu untuk memastikan dan Bapak tak menunggu lama," ucap Ajeng yang tadi memotong penjelasan Dasta. Dia memang diam setelah sindiran Dasta. Tapi Ajeng tak membencinya. Dia justru mendapatkan alasan kenapa CV-nya selalu ditolak. Ajeng harus berubah. Ini demi impiannya bisa bebas dari bayang-bayang keluarga Pradana. Makanya Ajeng masih bisa menyuguhkan senyum untuk Dasta, tanda dirinya tak mendendam. "Eh, gak usah. Om Hamdan lama dateng gapapa, kamu nemenin aku ngobrol dulu aja." "Nanti Bapak bisa mati rasa ngobrol sama sekretaris berpenampilan tak menarik seperti saya. Tunggu sebentar ya Pak, saya pastikan posisi beliau." "Ah, kamu nyindir aku?" cicit Dasta agak tak enak juga, "Maaf deh, tadi aku cuma bercanda. Lagian, siapa yang bakal bosan bicara sama sekretaris pintar dan menarik kayak kamu?" "Penampilan saya tak menarik, justru saya merasa tersindir kalau Bapak bilang menarik," ucap Ajeng masih terdengar sama intonasi suaranya meski ini lumayan tajam menyindir Dasta. "Menarik kok Jeng, kaya di pesta tuh. Hidden germ, effortlessly pretty without your glasses. Tapi menariknya apa mau disimpan sampai resmi hubungan kita jadi suami istri? Cuma untuk calon suamimu ini?" "Bapak terlalu berlebihan berpikirnya." "Ah, gak usah pakai Bapak lah Jeng, aku kamu aja, aku masih muda kok, lagian, aku beneran mo ngajakin kamu nikah." "Ini kantor, kenapa harus menggoda sekretaris saya Pak Dasta?" Kenapa bisa disini? Ajeng berbisik di hatinya. Sebenarnya tadi dia ingin menjawab Dasta. Tapi tak sangka saja ada yang masuk dan karena pintu tak tertutup rapat, sepertinya dia sudah mendengar semua. Dasta juga, tak sangka melihat sosok yang baru masuk itu. "Eh, Panji, kok udah balik honeymoon?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN