"Saya tidak bisa!"
"Semakin kamu menunda waktu, akan semakin besar kemungkinan kita ketangkap basah."
Sayangnya, Panji memaksa. Dia mendorong Ajeng ke dalam kamar wanita itu dan segera menutup pintunya.
"Ba-"
"Sssst. Kamarmu tidak kedap suara," ujar Panji mengingatkan, "kalau kamu berisik, mereka dengar. Kalau kamu teriak, itu artinya kamu membuat mereka pasti menduga apa yang kita lakukan disini inappropriate dan itu artinya kamu mempertaruhkan pekerjaan ibumu dan biaya pengobatan ayahmu."
"Anda mengancam dengan Ambu dan Abah?"
"Mengingatkan, kalau kamu mesti ikuti permainan ini demi keberlangsungan kesejahteraan keluargamu. Ayahmu butuh uang untuk berobat. Sebaik-baiknya orang tuaku pada kalian, pasti mereka lebih mendengar dan mengutamakan darah dagingnya ketimbang orang lain!”
SKAKMAT! Ajeng pasti merasa sangat berdosa sekali pada kedua orang tuanya kalau sampai yang diucapkan Panji jadi kenyataan.
Uang tabungan Ajeng hanya cukup untuk mereka bertahan sampai sebulan ke depan. Biaya pengobatan sangat besar. Keluarganya sudah terlalu bergantung pada keluarga Pradana. Lalu apa dia harus menguji Panji?
"Silakan bicara Pak." Ajeng akhirnya menyerah. Dia mengikuti maunya Panji. Dan sebal hatinya melihat senyum menghinakan yang terukir di sudut bibir Panji seakan mengatakan betapa lemah Ajeng. Yang terkuat adalah mereka yang memiliki uang. Mereka punya pilihan, berbeda dengan mereka yang dibawah rata-rata ekonominya. Ajeng sungguh merasa terhina.
"Ajeng, yang terjadi diantara kita di kamar hotel itu bukan kesengajaan. Aku akui aku ceroboh. Tapi kita tak mungkin selamanya melihat ke belakang. Banyak tanggungjawabku di perusahaan, di keluargaku. Aku tahu kalau aku tidak adil padamu. Aku tidak bisa bertanggungjawab atas kesalahanku. Cuma aku janji, apapun masalahnya, suatu saat kamu butuh bantuanku, bilang saja. Aku usahakan akan membantumu. Termasuk ... operasi keperawananmu, aku janji akan carikan sebelum pernikahanmu kalau kamu sudah ada calonnya."
Hell. Full of himself. Does he think only him has family and life? Ajeng tak sangka kalau Panji bahkan berpikir sejauh itu. Mungkin seharusnya dia senang. Tapi entah kenapa itu makin menambah kebenciannya ke Panji.
Ajeng marah. Dia ingin menjauh secepat mungkin dari Panji, dari keluarganya Panji, dari kekuasaan keluarga Pradana, dari semua yang mengingatkan tentang kecelakaan malam itu.
Andai Ajeng punya kemampuan dan bisa pergi sejauh mungkin. Tapi bagaimana dengan abah dan ambu-nya? Mereka pasti tak mudah melupakan jasa keluarga Pradana bukan? Atau mungkinakan
"Ajeng, kenapa kamu diam? Kalaupun kamu tak setuju dengan diskusi kita, kamu tetap tak ada pilihan lain. Aku tidak bisa menikahimu. Yang kucintai cuma Eve. Kita, hanya ada di situasi yang salah dan waktu yang salah."
"Jadi ini yang Bapak maksud diskusi? Apapun pikiran saya tak penting karena keputusan tetap sudah diputuskan sesuai dengan maunya Bapak?"
"Ajeng. Ini demi kebikan bersama!"
"Demi nama baik Bapak, keluarga Bapak, harga diri Bapak, yang pasti Bapak ingin tetap terlihat seperti ikan segar yang baik meski sebetulnya sudah busuk."
"AJENG. Kamu-"
"Saya setuju. Apa yang orang miskin seperti kami bisa lakukan untuk menentang keinginan orang kaya seperti Bapak?"
"What a sharp tongue."
"Cuma sekedar mengeluarkan unek-unek biar saya gak makan ati Pak. Tapi saya dengar dan patuh. Tenang saja. Saya akan mengikuti rencana Bapak. Tak perlu khawatir saya akan merusak kebahagiaan keluarga Bapak."
Panji mengepalkan tangannya di udara dan menutup matanya untuk meredakan emosi. Sekretarisnya ini memang pandai bicara. Banyak klien yang kesulitan untuk mematahkan pendapat Ajeng saat negosiasi bisnis. Selama ini Ajeng tak pernah juga secara personal menyerang Panji begini. Dia patuh dan penurut. Selalu mendukung Panji dan perusahaannya. Jadi baru kali ini Panji tahu seberapa pedas serangan Ajeng.
"Aku harap kamu memenuhi perjanjian kita."
Tapi Panji tahu, Ajeng paling bisa dipegang omongannya. Kalau dia sudah memutuskan begitu, berarti dia tak akan menusuknya dari belakang, kan?
"Silakan keluar dari kamar saya Pak."
Tak ada lagi yang ingin disampaikan Ajeng. Dia hanya tidak ingin lagi melihat wajah Panji di hadapannya saat ini. Perihal nanti dia masih tetap harus menjadi sekretaris Panji, setidaknya tak harus bertemu hari ini bukan?
Lagian dia juga sudah punya kesepakatan dengan Panji untuk saling menjaga jarak dan mereka tidak akan berada dalam scene yang sama. Seperti setelah kejadian di dalam kamar hotel itu, Panji baru konfrontasi kemarin padanya. Dan itu karena kejujuran Evan.
Ajeng tahu, Panji sangat mencintai Evelyn. Itu bukan rahasia umum karena hubungan Panji dan istrinya yang sekarang sudah berjalan bertahun-tahun. Evelyn juga sering dibawa Panji ke rumah orang tuanya. Jadi bukankah Ajeng dari awal memang sudah harus sadar diri kalau tidak ada tempat untuk dirinya meski dia berhak mendapatkan tanggung jawab.
"Kamu jaga kesehatan. Dan ini, gunakan uang di kartu ini untuk berobat ayahmu."
"Tidak perlu. Ibu Ayu sudah mengurus biaya pengobatannya langsung jadi saya memang tidak perlu memegang uang. Selama ini memang begitu. Bapak silakan keluar."
Ajeng tahu, niat Panji adalah menyuapnya dengan kartu itu. Tidak mungkin pria itu tidak tahu kebiasaan ibunya mengurus semua kebutuhan rumah sakit.
"Baiklah kalau kamu tidak mau terima. Ingat, jangan memikirkan apapun yang terjadi di malam itu karena saya juga tidak ingat apapun," ucap Panji setelah dia melihat CCTV tak ada orang di sekitaran kamar Ajeng dan dia bisa keluar.
Panji memang mensinkronkan CCTV di handphone-nya sejak semalam. Dia tak mungkin berani masuk ke dalam gudang dekat tangga dan menunggu Ajeng kalau tak memperhatikan lingkungan sekitar.
Sejak kembali semalam dan tahu kejadian yang sebenarnya dari Evan, Panji memang sudah men-setting ini.
Dia sangat berhati-hati sekali, tak ingin keluarganya sampai tahu yang terjadi.
"Panji, kamu bawa apa itu?"
"Popcorn Ma. Aku tadi bikin popcorn dulu di dapur. Sama nyeduh kopi," ucap Panji yang memang sudah memasukkan popcorn ke microwave sebelum ke kamar Ajeng.
"Oh, pantesan kamu lama. Kenapa belum salin? Kalian harus berangkat honeymoon kan?"
"Pake ini aja Ma, santai aja, lagian terbang malam, di pesawat paling tidur," ucap Panji. Dan mereka masih berkumpul di ruang tengah untuk melepas kepergian Panji dan Evelyn bulan madu.
"Kak, obatnya Ajeng udah dikasih?"
"Hm, udah Jim," jawab Panji sambil dengan santainya duduk di samping Evelyn dan menyuapkan satu popcorn ke dalam mulut istrinya itu.
"Kok gak bikin popcorn caramel sih, Sayang?"
"Kamu udah manis kaya gula, ngapain lagi di kasih manis. Nanti aku sakit gigi."
"Aduuuh, yang baru aja sah, udah bikin baper sih ya. Gak tahu apa masih ada jomblo disini."
"Sarita, Dasta masih jomblo juga. Kamu mau aku jodohin sama dia?" ucap Panji menyeletuk begitu saja setelah menelan popcorn-nya.
"Ih gak ya."
"Evan kalo gitu?"
"Mata keranjang gitu mo dikasih ke aku. Ogah ya Kak!" tolak Sarita adik Panji sambil merengut.
"Iya sih Ta, sama Dasta aja, dia itu, pengusaha muda, temennya Panji lagi. Pasti aman kalau kamu ama dia."
"Ih, ga ah, kakak ipar," tolak Sarita membuat anggota keluarga yang berkumpul di ruang tengah itu terkekeh karena sikapnya. Termasuk Panji yang sebetulnya tahu, Sarita tak pernah menyukai satupun teman-teman satu kelompoknya.
"Lagian nih ya, aku rasa Dasta tuh suka sama Ajeng deh Kak."
"Uhuk-uhuk."
"Eh, kamu kenapa Sayang? Keselek? Makan popcorn-nya pelan-pelan dong, Yang."