"Waduh, bachot lo Ji! Gue yang ngerayu si Ajeng kenapa lo malah maki-maki dia? Gue yang gatel, GUE!"
"Gak akan ada asap kalau gak ada api."
"Anjrith! kesian bro si Ajeng, gue yang salah ko lo maki dia terus sih?"
"Ga apa Mas Dasta. Saya yang salah. Permisi."
Ajeng tak mau menambah keributan, dia pun memilih pergi. Lagian, Ajeng memang tak ingin bicara dengan Panji. Dia berpaling dengan kepala tetap menunduk, menghindari menatap wajah Panji yang terlihat tenang, meski hatinya kembali merasa bersalah karena dia menyalahkan Ajeng barusan.
Sebenarnya Panji juga tak bodoh. Dia tahu yang merayu itu Dasta. Dan wajar gadis cantik belum ada gandengan dirayu pria lajang bukan? Cuma entah apa yang salah dengan dirinya, Panji tak suka kedekatan keduanya.
"Sekretaris lo jadi kabur tuh. Ah, elo mah, gak tahu apa gue lagi PDKT. Eh tapi, omongan lo tadi kejam banget Ji."
"Cari cewek lain aja. Dia dah punya calon."
"Masa? Kok gue gak tahu? Nipu gue lo ya?" Dengan polosnya Dasta menimpali.
Dasta tak tahu apa yang terjadi antara Panji dan Ajeng malam itu. Hanya antara Panji dan Evan. Panji sendiri tak mengakui kejadian malam itu ke Evan. Biarlah ini cuma rahasia dirinya dan Ajeng.
"Nyokap gue yang bilang. Bentar, gue lupa mau ngasih titipan nyokap ke Ajeng," makanya Panji tak mau sahabatnya curiga. "Evan sama Tori di sana. Lo tunggu di pojok sana gih," ucapnya lagi sebelum pergi.
Panji, dia berlari kecil menyusul sosok wanita muda mungil yang berjalan cepat tak ingin sampai air matanya tumpah dan terlihat oleh tamu undangan.
Anak pembantu nangis di acara nikahan anak majikannya. Ini akan jadi gosip hangat yang mengerikan. Ajeng harus menghindarinya.
"Ah, lepasin!" Sayang tak semua hal bisa dihindari Ajeng, "Bapak mau apa?"
"Ajeng, maaf. Bukan saya ingin merendahkan kamu. Tapi kamu tahu kan Dasta? Dia cuma merayu kamu aja. Dia gak serius. Lagian kalau dia serius juga, orang tuanya-"
"Buat anak orang kaya, apalagi seperti keluarga Dasta yang ayahnya direktur salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, anak pembantu gak akan punya slot bersanding dengannya. Apalagi sudah bukan perawan. Cuma perempuan bekas!"
"Ajeng, dengar-"
"STOP Pak Panji! Ini masih acara resepsi pernikahan Anda. Gerak gerik Anda terlihat di kamera CCTV. Jadi tolong jangan hancurkan saya dengan status mistress."
"Ajeng. Kamu jangan bersikap implusif denganku. Dengarkan dulu. Aku minta maaf. Bukan maksudku merendahkanmu. Aku cuma-"
"Pak Panji, sebaiknya tetap mempertahankan ke-formal-an diantara kita. Saya tidak ingin ada yang salah paham. Saya juga tahu diri kok. Jadi mulai hari ini, kita profesional saja."
"Lagi-lagi kamu gak mau dengar saya, pergi gitu aja."
Panji hanya mendengus saat Ajeng meninggalkannya dalam ruang kosong itu sendirian. Panji tadi menariknya masuk ke salah satu ruang ganti yang tidak digunakan untuk salin pakaian.
Dia ingin menjelaskan supaya Ajeng tidak salah paham tapi wanita itu sudah meninggalkannya. Situasi memang sudah tidak sama seperti sebelum kejadian di dalam kamar hotel itu.
Mereka berdua sangat dekat, klop, dan jadi tim yang kuat sebagai CEO dan sekretarisnya. Tapi kini, Ajeng selalu menghindar. Dia tak ingin dekat Panji lagi. Cuma tidak salah juga sih bukannya Panji yang dulu menyuruhnya untuk tidak muncul di hadapannya?
Tapi kini kenapa Panji yang jadi kesal sendiri Ajeng menghindar?
"Sayang, kamu mukanya kok serius banget sih. Relax dong, kita kan lagi di pelaminan. Kamu juga kayaknya nggak konsen ke acara."
"Sorry Eve, aku kepikiran perusahaan. Ada tender yang mesti aku tinjau ulang."
"Tapi ini kan acara pernikahan kita. Lagian juga kita udah sepakat kalau selama pernikahan dan honeymoon, kita nggak ngebahas masalah kerjaan masing-masing kan?"
Baik Panji dan Evelyn, mereka punya kerjaan masing-masing dan mereka disiplin dengan tuntutan karir masing-masing. Jadi mereka super sibuk. Selama berpacaran saja bisa bertemu seminggu sekali, itu sudah bagus. Karena padatnya jadwal, mereka paling bicara satu sama lain via telepon. Untuk makan siang dan malam bareng, itu juga sangat sulit kecuali mereka berada di satu lokasi yang berdekatan, bisa makan bareng.
Jadi waktu berduaan sangatlah penting. Kenapa pula harus dilanggar rencana yang sudah dibuat?
"Maaf Sayang. Aku janji nggak akan bahas masalah kerjaan lagi." Panji jadi merasa bersalah pada istrinya.
Dia berusaha memalingkan tatapannya tak lagi memperhatikan Ajeng yang dari tadi memang mempengaruhi fokusnya.
Ajeng duduk bersama Sarita dan teman-temannya. Evan, Tori, Larry, dan Dasta. Evan, Tori dan Larry membawa teman wanita mereka masing-masing. Hanya Dasta yang datangnya sendirian dan Panji tak suka mengingat kejadian tadi saat Dasta merayu Ajeng. Entah kenapa mood-nya berantakan.
Tapi itu seharusnya tidak perlu dipikirkannya bukan? Dia sudah menikah dengan kekasih yang selalu mengisi hatinya selama bertahun-tahun ini. Hidup Panji juga diatas kehidupan pemuda rata-rata di usianya.
Karirnya gemilang, keluarganya terpandang, kini dia memiliki pendamping yang sangat cantik dan bertalenta. Kenapa dia harus memikirkan seseorang yang hanya akan membuat semua peruntungannya hilang?
Toh Panji sudah memberikan pilihan berapa kompensasi yang diinginkan Ajeng tapi dia tidak mau menyebutnya. Jadi semua bukan salahnya kan?
"Beruntung banget Panji bisa mempertahankan cintanya buat Eve. Akhirnya mereka bisa bersatu juga dan kelihatan happy banget ya."
'Ck. Apa kau masih bisa tersenyum semanis itu kalau semua orang di sini tahu apa yang kau lakukan padaku?'
Panji sudah mulai fokus pada tamu-tamunya dan Ajeng yang dari tadi tidak tahu kalau Panji curi pandang memperhatikannya karena dia juga tidak mau menatap Panji sebelumnya, tak sengaja mengalihkan pandangannya ke Panji karena celetukan Evan.
Ajeng tidak ingin melihat kebahagiaan itu tapi dia tidak bisa mengarahkan matanya untuk tidak melihat. Entah kenapa ada keinginan juga membuktikan kebenaran itu.
Meski ujungnya dia sendiri merasa sakit dalam hatinya. Ajeng tak ingin menjadi sandungan atas kebahagiaan orang lain tapi bagaimana kalau sudah seperti ini?
"Permisi dulu ya, aku mau ke kamar mandi."
Ajeng tak kuat melihat itu. Dia juga tidak bisa mengendalikan emosinya dan takut kalau dirinya tak bisa mengendalikan diri dan mendatangi kedua mempelai di atas pelaminan itu lalu mengacau dengan menceritakan semua yang terjadi padanya
Lebih baik pergi daripada terus berada di sana bukan?
"Ajeng kamu nggak apa-apa?"
"Eh, Bu Ayu, Sa-saya gapapa Bu."
"Tapi tadi kamu pulang duluan kata ibumu kamu sakit. Beneran kamu nggak apa-apa? Biar diperiksa Jimmy dulu ya?"
"Oh, kecapean aja Bu. Tadi malam saya nggak bisa tidur makanya saya nonton, jadi pusing pas acara. Maaf ya Bu Ayu. Saya nggak bisa di acara sampai selesai."
Ajeng bilangnya dia mau ke kamar mandi saja tapi setelah sampai kamar mandi air matanya malahan banjir. Makanya dia mengirim pesan ke Sarita dan ibunya kalau dirinya pulang duluan.
Ajeng bilang, meriang dan kambuh maag-nya.
Ajeng tak sangka saja kalau majikan ibunya sangat memperhatikannya bahkan mengunjungi kamarnya dulu saat mereka baru tiba di rumah.
"Beneran Jeng? Bukannya kamu ngehindar dari Dasta ya?"
"Eh, enggak Ita. Lagian aku juga nggak kemakan kok sama gombalannya. Hihi, aku gak suka dia. Beneran pusing aja."
"Kalau gitu aku cek dulu aja."
Bukan hanya nyonya rumah, Sarita, Jimmy dan kekasihnya Wulan juga ikut menghampiri kamar Ajeng bersama ibunya Ajeng.
"Gapapa Kak Jimmy. Saya nggak pa-apa kok cuma butuh istirahat aja dan malam ini nggak nonton drama lagi."
"Iya sih, kantung matanya bengkak terus muka kamu juga sedikit bengkak kayak kecapean gitu. Tambah lagi, kamu pucat, kurang minum juga. Mending istirahat aja dulu." Wulan bicara saat sudah mendekat dan mengecek denyut nadi Ajeng.
Kondisi Ajeng memang tidak sedang baik-baik saja, dirinya sedang tak enak badan karena pikirannya sendiri. Jadi wajar kalau Wulan melihatnya kelelahan karena dia semalam begadang sambil nangis. Untung MUA-nya pandai bisa menutupi lingkar hitam dan kantung matanya tadi
"Iya Mbak Wulan. Besok juga sudah istirahat pasti sembuh kok."
"Nanti aku suruh Ita anterin vitamin ke kamu ya."
"Makasih Mbak."
Wulan sudah tidak lagi cemburu pada Ajeng karena memang dia juga sudah mengenal Ajeng. Kemarin kesalahpahaman bisa diselesaikan. Lagian Jimmy itu sebetulnya memang suka bercanda. Jadi Wulan memaklumi.
Apalagi terlihat pria itu memang sangat mencintai Wulan. Ajeng terbebas dari amarah Wulan. Dan kekasih Jimmy itu sebetulnya baik makanya dia mengirim obat ke Ajeng.
"Sebentar Ita." Suara ketukan pintu kamar Ajeng yang segera dibukanya karena yakin sekali itu ita yang ingin mengirim obat.
"Ita lagi ganti baju jadi saya yang antar."
"Makasih Pak." Ajeng mau menutup pintu tapi dicegat oleh kaki pria itu yang mengganjal pintu.
"Ajeng, jangan emosi dulu. Saya mau bicara. Demi kepentingan kita berdua."
"SAYA TIDAK MAU!" tegas Ajeng menolak tapi pria itu tak juga mengangkat kakinya yang mengganjal pintu.
"Sebentar saja. Mumpung mereka semua sedang sibuk di ruang tengah!"