MASALAH KALUNG

1140 Kata
"Ya ampun, Ajeng. Kamu manglingin deh. Kamu cantik banget Sayang." "Iya beda ya Ma, kalau gak kenal pengantinnya pasti pikir Ajeng loh calon pengantinnya. Ni MUA-nya biased ke Ajeng apa ya, sampe dibuat secantik ini" "Bener Mama sama Ita, kamu beda loh Ajeng." Sepintas, Panji pikir dia salah lihat atau pikirannya terlalu penuh karena rasa bersalahnya ke Ajeng. Tapi ternyata tidak. Mama, papa dan adiknya juga melihat Ajeng sangat cantik. "Tapi, kejam. Kok cuma Ajeng yang dapet pujian. Buat aku mana nih?" "Kamu juga cantik kok Ita. Masalahnya selama ini Ajeng tuh pakai kacamata tebel banget. Udah gitu dia jarang make up, rambutnya cuma dikuncir ponytail. Dia juga jarang banget pakai baju perempuan. Makanya pada pangling. Kamu kan udah sering make up. Bener gak Ma?" "Iya juga ya Jim. Ita sama Wulan juga cantik. Tapi memang suka dandan. makanya Ajeng aja yang keliatan beda. Kayak di-make over jadinya, padahal tekniknya sama aja," ucap Ayu supaya putri bungsunya gak ngambek. Diam-diam di lubuk hatinya Panji juga setuju kalau Ajeng mungkin terlihat berbeda karena wanita itu jarang dandan. Paling mentok Ajeng ganti kacamatanya dengan lensa kontak kalau mau ketemu client. Itu juga diprotes dulu oleh Panji. Kata Ajeng, pakai lensa kontak tak enak. Matanya terasa tak nyaman dan gatal. Dia tak betah. Makanya kaca mata itu selalu jadi pilihan terbaik untuk Ajeng. Panji juga tak ingin melarang lagi, selama kerjaan Ajeng sesuai arahannya dan selesai tepat waktu. Cuma kini agak berbeda. Binar mata dan senyum Ajeng yang tersipu karena pujian keluarga Pradana, membuat desiran berbeda dalam hati Panji. "Tuh, kak Panji aja perhatiin kamu sampe gak ngedip. Entar dia lupa lagi siapa bride-nya." Sampai Panji jadi tersindir oleh adiknya Sarita. Sungguh dia kesal, malu, dan saat matanya bertatapan dengan Ajeng, rasa bersalah itu membuat keduanya segera membuang pandangan, canggung. "B aja sih. Itik gak mungkin jadi angsa, beda jenis. Aku ngeliatin karena kalungnya, itu punya Eve kok bisa ada di lehernya. Kepengen banget kamu ambil yang udah jadi milik Eve?" Pedas. Mata Ajeng sampai ingin menitikkan air mata karena ucapan Panji barusan. Sebegitu buruknya kah dia sampai diibaratkan sebagai itik dan dihina di depan anggota keluarga Pradana? Andaikan bisa, Ajeng ingin sekali kabur dan masuk kamar karena malu. "Hush, kamu seneng banget sih mem-bully Ajeng. Itu kalung, sengaja dipinjamkan Eve, calon istrimu karena kalung yang Mama belikan terlalu besar, kurang pas buat tubuh mungil Ajeng. Jadi kata Eve, dia pinjamkan kalung pertunangan kalian aja dulu. Ajengnya juga kemarin gak mau, Eve sama Mama yang maksa. Lagian itu bukan diambil, Ajeng gak serendah pikiran kamu!" 'Kenapa denganku ya?' Menyesal memang selalu belakangan dan rasa itu bikin hati makin gak enak. Sama seperti yang dirasakan Panji. Dia lihat kalung itu, dia juga semalam dengar sendiri obrolan para wanita saat melewati kamar Sarita yang pintunya agak terbuka. Panji dengar kalau Eve memaksa Ajeng yang sudah terus-terusan menolak. Tapi tadi demi menyelamatkan mukanya dan tak ingin orang berpikir dia terkagum-kagum dengan kecantikan Ajeng juga tubuhnya yang tak pernah dibalut kebaya pas body nan elegan itu, jadi tak sengaja Panji jadikan kalung itu sebagai perisainya. Dia tahu, dirinya brhengshek dan tak seharusnya menyindir Ajeng. Jadi saja rasa bersalah dalam hatinya makin menjadi-jadi. Sepanjang jalan, perasaan Panji tak jelas. "Saya terima nikah dan kawinnya Evelyn Aneira Bradley binti Theo Boyd Bradley dengan mas kawin yang disebutkan, dibayar tunai!" "ALHAMDUILLLAH, SAH!" Untung saja, rasa di hatinya tak membuat Panji salah ucap ijab qabul dan sesuai janji ke mamanya, dia bisa menghalalkan istrinya yang berdarah blasteran itu dengan sekali ucap. Para saksi pun memanjatkan syukur, senyum kebahagiaan terulas di bibir mereka yang menyaksikan ijab qabul itu. Semua merasa bahagia kecuali satu orang wanita berpakaian bridesmaid yang jari tangannya menghapus satu bulir di sudut matanya. Pria yang telah merenggut kesuciannya kini sudah jadi suami orang. Keperawanannya memang tak ada harganya dibandingkan senyum Evelyn dan kecantikan wanita itu. Tak mungkin Panji mau bertanggungjawab padanya, apalagi, Evelyn memang berbeda. Dia punya karir, terkenal, cantik, dan dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Pradana. Tak mungkin kan Panji mau menebus dosa padanya? Lupakan. Mending mulai fokus cari kerjaan baru, bisik hati Ajeng berusaha menghibur diri. Lagi pula akan aneh jika orang melihatnya menitikkan air mata. Ajeng tak ingin menarik perhatian para tamu undangan. Dia hanya seorang anak pembantu yang kebetulan diberikan kemudahan oleh majikan orang tuanya sehingga bisa mendapatkan pendidikan dan pekerjaan enak sekarang. Dia tak ingin merusak citranya juga apalagi sampai dianggap sebagai wanita ketiga perusak rumah tangga. Hidupnya masih panjang, Ajeng tak ingin merusak masa depannya karena lelaki pengecut. Urusan keperawanannya, bukankah dia masih bisa menjelaskan pada calon suaminya nanti? Dan lagi, tidak semua perawan harus memiliki selaput dara bukan? Beberapa perawan mereka tidak berdarah saat melakukan hubungan pertama. Selain itu Ajeng juga bisa nabung untuk membuat selaput dara palsu kan? Zaman sudah maju, ini masalah kecil. Dia tak ingin menipu calon suaminya kelak. Tapi ini demi kebaikan bersama. Toh dia juga tidak sengaja kan kehilangan itu? Kalau Ajeng tahu, dia akan meminta tolong Jimmy saja yang menjemput Panji di hotel itu. Cuma untuk apa berandai-andai kalau masa lalu tak bisa diubah? "Hai Ajeng." Sampai ada yang menyapa, barulah pikiran Ajeng teralihkan. "Eh, Mas Dasta, ngagetin aja." "Kamu ngapain diem sendirian? Gak ganti baju? Bentar lagi kan pengantinnya ke pelaminan habis ganti baju." "Eh, ini, nungguin Ita Mas. Gantian, mbak Wulan dulu, terus Ita, baru aku. Ni aku pegangin tasnya Ita." "Oh, pantesan. Eh, ngomong-ngomong, kamu beda amat Jeng. Cantik banget loh sekarang. Kalau tiap hari kamu dandannya kayak gini pas ngantor, bisa-bisa si Panji naik ke pelaminannya sama kamu loh, Jeng." Ck. Ajeng sudah berusaha melupakan nama itu tapi sahabatnya Panji yang sedang mengajaknya mengobrol malah sukses membuat pikiran Ajeng mengingat sentuhan Panji pada tubuhnya. Mungkin untuk wanita lain, hanya disentuh bisa dilupakan cepat. Tapi Ajeng, pacar saja tak punya. Dia gadis kuper yang bermimpi menjaga diri demi calon suaminya kelak, tak mudah baginya move on. Ajeng kesal. Kapan sih acara ini akan selesai? "Yang ada kalau saya dandannya kaya gini, saya berakihr bukan jadi sekretaris temennya Mas Dasta, tapi jadi simpenan gadun." "Ahaha, bisa aja kamu Jeng." Dasta terkekeh. Dia terlihat lepas sekali tertawa sehingga menarik perhatian orang-orang sekelilingnya. Ada rasa ingin tahu saja apa yang dibicarakan keduanya yang tampak dekat ini. Termasuk seorang pria yang baru keluar dari ruang ganti pakaian, ikut terganggu pandangan matanya saat menyapu ruangan itu. Pandangan matanya tak suka. "Ya abis, masa ya sekretaris harus dandan menor kaya gini sih Mas Dasta. Aneh-aneh aja sih?" Apalagi saat melihat senyum si wanita yang masih melayani Dasta bicara. Dia tak mendengar apa yang dibahas. Cuma kedekatan Ajeng dan Dasta membuat hatinya tak suka saja. Apalagi saat dia mendekat dan mendengar ucapan Dasta. "Ya tapi gak jadi simpenan g***n juga, sih. Gimana kalau jadi istri saya aja, Jeng?" "Ajeng yang lain udah ganti baju kenapa kamu masih flirting teman saya? Gatel banget kamu ya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN