"Kamu sudah tenang? Saya lepaskan tangan saya dan kita bicara."
Sampai Ajeng mengangguk, barulah Panji mau melepaskan tangan dari bibir wanita yang tadi disergapnya itu. Detak jantung Ajeng masih bergejolak tak menentu. Entah apa yang salah dengan dirinya sampai kelenjar hipofisis di otaknya memproduksi endorfin dan memperbaiki mood-nya yang sempat turun padahal ini kondisi yang tak diinginkannya.
"Kita sedang di rumah orang tua Bapak. Saya tidak mau ada yang salah paham dengan saya. Sebaiknya Bapak cepat bicara!" cuma pikiran Ajeng masih bisa memilah benar atau salah, jadi dia mengingatkan lagi Panji yang belum juga bicara.
Panji merutuki hatinya karena sekejap, dalam ruangan gelap yang hanya disinari lampu senter dari handphone-nya itu, bibirnya malah membisu. Pikirannya dengan berani menunjukkan rekaman saat Ajeng di kasur bersamanya dan tubuh polos mereka hanya dibalut selimut.
Oh Tuhan, bukankah selama ini yang dicintai Panji hanya Evelyn? Kenapa bisa bayangan meshyum itu menari-nari mengganggu konsentrasinya? Panji kesal. Apalagi besok adalah hari pernikahannya. Kalau bukan karena kejujuran Evan, dia tak akan merasa bersalah dan menghampiri Ajeng sekarang.
"Maaf. Saya sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Saya salah minum. Itu ramuan minuman untuk Evan dari Tori."
Bukan! Kejadian yang sebenarnya bukan begitu. Tapi tidak mungkin kan Panji cerita dalam kondisinya yang mabuk dia bertaruh dan menjadikan Ajeng bahan taruhan? Panji memang gentleman. Tapi soal ini, dia tak seberani itu untuk jujur. Meliat kegarangan dan kemarahan Ajeng sudah membuat hatinya jadi pengecut.
"Brhengshek!"
"Kamu bilang saya apa?" Panji tak sangka kalau Ajeng, anak pembantu di rumahnya yang selalu menurut dan manis itu bisa mengatakan kalimat sekasar itu.
"Bapak bisa pilih, saya memarahi Bapak sekarang atau saya keluar dari sini, buat keributan di rumah orang tua Bapak dan menceritakan apa yang Bapak lakukan di hotel itu seminggu lalu."
"Kamu mengancam saya?"
"Apa saya tidak berhak marah setelah apa yang Bapak lakukan? Menggagahi tubuh saya karena Bapak ceroboh dan salah minum?"
Panji diam. Dia sadar ini salahnya. Wajar jika Ajeng marah padanya. Toh dia merengut sesuatu yang berharga milik wanita itu.
Darah pherawhan. Panji melihatnya sendiri. Jantungnya bergemuruh karena rasa bersalah. Panji tak suka dengan rasa sesak di dadanya ini. Dia paling tak suka dianggap kalah, salah, dan lemah. Tapi bagaimana kalau posisinya memang bersalah sekarang?
"Kamu minta berapa? Saya akan penuhi!"
"Enak ya jadi orang kaya, tinggal sebut angka saja untuk selesaikan masalahnya," cicit Ajeng menyindir.
Sejujurnya, Ajeng juga ingin menampar pipi Panji kalau dia tidak ingat ini di rumah orang tuanya Panji dan besok pria itu akan menikah. Bagaimana kalau tamparan itu meninggalkan jejak merah telapak tangan Ajeng di wajah putih pria itu? Ajeng masih memikirkan perasaan orang tua Panji yang selama ini sudah baik sekali pada keluarganya.
Dia tak ingin menyakiti mereka. Toh kesalahan Panji bukan salah pak Hamdan dan bu Ayu. Meski kalau boleh jujur, Ajeng juga merasa sakit hati dan kecewa karena harga kesuciannya hanya dinilai oleh nominal angka. Padahal itu harta berharga untuk suaminya kelak.
"Ajeng, kejadian itu bukan mau saya. Itu kecelakan."
"KE-CE-RO-BO-HAN tepatnya, Bapak Panji yang terhormat!"
"Oke, saya bersalah dan ceroboh." Kesal tapi memang dia bersalah, Panji mengucapkan itu sambil menutup matanya. "Tapi saya mau memberikan kamu kompensasi atas kesalahan saya makanya saya menawarkan nominalnya."
"Nikahi saya, itu kompensasi yang pas!"
"Jangan gila kamu! Saya cuma cinta sama Eve, dia kekasih saya. Jaga sikapmu atau saya tak ragu bertindak kejam pada siapa saja yang mau menggagalkan pernikahan saya dengan Eve!" Mata Panji menyorot tajam ke netra Ajeng yang kini menahan tawanya melihat respon Panji.
"Tenang saja Bapak Panji yang pengecut, pernikahan Anda aman. Minggir, saya mau keluar! Atau jangan salahkan jika saya berteriak sekarang!"
"Berapa yang kamu mau?"
Panji merasakan panas di wajahnya saat kata pengecut itu terlontar dari bibir Ajeng. Suaranya pelan berbisik tapi membuat bulu kuduknya merinding karena Ajeng berjinjit dan bicara tepat di dekat telinga kanan Panji. Hembusan napasnya bisa dirasa di tengkuknya itu.
'Hell, kenapa dia mau bangun?' Panji mundur dan menjauhkan tangannya dari pintu sambil bertanya barusan. Panji tak tahu kenapa reaksi tubuhnya sangat absurd.
"Bapak tanya pada ibu Bapak, apakah kesucian wanita bisa dihargai dengan uang?"
"Saya tidak bisa menikahimu!"
"Tenang saja, saya cuma bercanda Pak! Saya gak minat punya suami pengecut!"
"Diajeng Kencana Putri!"
"Hm, saya dengar, gak perlu panggil nama lengkap saya Pak," cicit Ajeng lagi sambil tersenyum sinis, "Oke kalau Bapak masih mau bayar, tenang saja, sudah dibayar impas dengan biaya pendidikan saya, tempat tinggal yang keluarga Bapak berikan, dan ketulusan orang tua Bapak peduli ke orang tua saya."
Itu ucapan terakhir yang didengar Panji sebelum Ajeng keluar meninggalkannya dalam gudang kecil itu bersama perasaan yang semakin tak menentu.
Merasa bersalah sudah pasti. Panji bukan lelaki brengshek yang tak tahu bahwa kesucian wanita baik-baik itu tak ternilai harganya. Panji tahu, sulit untuk Ajeng menjelaskan pada suaminya kelak saat menikah. Cuma Panji memang tak bisa meninggalkan Evelyn. Dia mencintai calon istrinya. Wanita yang susah payah didapatkan dan butuh perjuangan untuk mempertahankan cinta mereka selama bertahun-tahun ini.
Panji juga tak punya cinta untuk Ajeng. Selama ini dia hanya menganggap Ajeng sebagai saudara. Tak pernah ada keinginan lebih. Layaknya majikan ke anak pembantu yang tinggal di rumahnya, Panji berusaha bersikap baik saja. Dia yang tahu kemampuan Ajeng, juga cuma membantu gadis itu punya pekerjaan lebih baik. Makanya Panji menjadikannya sekretaris.
Dia menghormati Ajeng dan tak ada yang spesial. Tapi rasa bersalah ini membuatnya jadi tidak bisa tidur semalaman.
"Sudah hapal buat ijab qabul-nya nanti?"
"Eh, ngangetin aja sih Ma. Sudahlah. Sekali ucap dijamin benar," ucap Panji saat membiarkan tangan mamanya merapikan dasi di kerah bajunya.
"Kaget soalnya kamu lagi bengong. Mikirin apa sih? Bentar lagi nikah juga. Ada masalah di perusahaan?"
Karena hanya perusahaan yang membuat Panji biasanya lemas dan lesu. Ayu paham tingkah anaknya ini. Sampai pintu dibuka saja Panji tak dengar. Ini aneh.
"Enggak, semua aman."
"Yakin?"
"Iya. Cuma kepikiran aja nanti kalau udah nikah kayak gimana ngejalanin rumah tangga. Kata orang, suasananya udah nggak sama kaya masih pacaran kan," dusta Panji yang tidak berani jujur pada mamanya kalau dia memikirkan ucapan Ajeng dan rasa bersalahnya.
"Tenang aja, yang penting itu komunikasi diantara kalian lancar dan satu lagi, kepercayaan! Suami istri itu harus saling percaya dan jaga kepercayaan itu. Terus kamu sebagai laki-laki yang paling rentan sama godaan. Hati-hati, jangan sampai kamu nyakitin Evelyn karena perempuan lain. Jangan sampai menduakannya. Karena Mama juga gak akan pernah maafin kamu kalau kamu sampai punya ani-ani. Mengerti Panji?"
"Mama tahu cintaku sama Eve kayak gimana kan? Masa iya aku selingkuh?" ucap Panji menutupi kegugupannya. Karena jujur saja, denyut jantungnya mulai berakselerasi lebih cepat.
"Ya, Mama tahu. Tapi Panji, kadang selingkuh bukan cuma karena cinta. Nafsu, kecerobohan, rasa kasihan dan kebodohan juga bisa jadi pintu perselingkuhan. Makanya, kamu harus hati-hati ya. Mama percaya kamu!" Ayu memeluk putra sulungnya saat Panji masih membeku karena ucapan mamanya.
'Bagaimana kalau anakmu sudah ceroboh dan bodoh sebelum menikah, Ma?' Panji lemas.
Panji tahu seharusnya sekarang dia bertanggung jawab pada wanita yang sudah ditidurinya karena meski itu kecelakaan tetap saja Panji yang salah. Evelyn masih bersih dari sentuhan Panji. Paling dia hanya kehilangan cinta atau marah ke Panji. Kerugian besar Panji adalah kehilangan wanita pujaannya. Cuma ada rasa ingin memiliki cukup besar yang membuat Panji tak mugkin melepaskan Evelyn. Perjuangan dan kenangan selama mereka menjalin hubungan itu tak mungkin bisa dilupakan.
Panji tak mau kehilangan Evelyn. Dia memilih menjadi pengecut ketimbang harus bertanggungjawab.
"Yuk ah, kita berangkat. Udah jam tujuh nih. Kamu ijab qabul jam sembilan, kan? Biar gak kena macet!"
"Iya Ma."
Ajakan mamanya membuatnya mantap melangkah dengan pilihannya, Evelyn. Dia berjalan dengan mamanya menuruni tangga menuju ruang tamu yang sudah penuh dengan sanak saudara.
Mereka berkumpul dan nantinya akan berangkat beriringan menuju lokasi gedung pernikahan.
"Semua sudah kumpul?"
"Belum Ma, nunggu Sarita sama Ajeng. Tadi Ita mau pipis dulu katanya, jadi dia minta anterin Ajeng biar ada yang pakaikan kain lagi," ucap Jimmy dengan tangannya kini merangkul kekasihnya Wulan.
"Haduh, lama lagi. Coba telepon, suruh cepet-cepet!" Ayu tak ingin mereka terlambat untuk sesi ijab qabul. Makanya dia cemas.
"Udah selesai nih Ma! Yuk berangkat!" tapi untung Sarita sudah selesai.
Semua mata menatap ke suara yang baru saja terdengar di ruang tamu itu dan senyum Ayu pun terlihat lega di waktu yang bersamaan putranya Panji salah fokus, bukan menatap adiknya, justru wanita di samping Sarita dan berbisik lirih di hatinya.
'Kenapa bisa secantik itu? Salah lihatkah aku?'