"Ajeng, kamu sakit?"
"Eh, Iwan, ka-kamu ngapain disini?" tanya Ajeng,
canggung dan kaget melihat siapa yang ditemuinya.
"Aku mau beli ini nih, obat buat ibuku. Tadi nitip beli
obat sebelum aku berangkat kerja. Kamu beli obat apa Jeng? Kamu sakit?"
"Ah, enggak. Beli vitamin aja nih, biasa kecapean."
Ajeng meremas kantong obatnya dan dia cepat-cepat memasukkan
ke dalam tas tak ingin apa yang ada di sana dilihat oleh temannya. Mereka tak
sengaja ketemu di apotek. Makanya Ajeng kaget saja.
"Eh iya Jeng, kamu nggak berangkat ke gathering?"
"Itu- enggak. Aku gak bawa baju ganti, gak make up juga, kayaknya terlambat kalau
berangkat sekarang."
"Aku juga baru mau berangkat, yuk bareng aja. Masalah make up, gitu aja sih. Banyak kok yang
pulang kerja juga yang datang ke sana. Jadi mereka nggak well
preparation juga."
"Tapi kayaknya enggak deh, udah kemaleman."
"Ah, enggak kok. Belum telat. Dateng aja yuk, tapi
tunggu, aku beli obat buat ibu dulu."
"Eh, tapi-"
"Udah ga ada tapi. Kamu harus dateng Jeng, have fun. Biar nggak jenuh kebanyakan kerja.
Lagian, kapan lagi bisa ketemu yang lain? Yuk. Biar ga stress, kita juga butuh healing,
habisin waktu sama temen, bukan aja sama bos."
Bener juga. Lagian
untuk apa pulang cepat? Ajeng sudah mau menolak dengan berbagai
cara. Tapi tetap saja dibujuk. Dia awalnya masih tetap ingin menolak karena
Ajeng tidak terbiasa datang ke pesta begitu.
Tapi setelah dipikir ulang benar juga yang dibilang Iwan.
Ajeng menghabiskan waktu di kantor sama bos, saat pulang ke rumah itu bukan
rumahnya jadi dia tidak bisa langsung bermalas-malasan. Kalau masih ada
pekerjaan dia harus membantu ibunya membersihkan rumah majikan ibunya. Terutama
di dapur.
Apalagi sekarang habis makan besar bukan? Pasti banyak sekali cucian piringnya ditambah lagi ibunya sudah tua dan hanya berdua dengan Eti bekerja dari pagi. Karena dua lagi pembantu lain, mereka pulang pergi dan tugasnya hanya urusan cuci, setrika, sapu, ngepel. Urusan dapur, bersihkan kamar tidur majikan itu pekerjaan Denok dan Eti. Ruangan lain bisa dikerjakan oleh ART lain kecuali daerah-daerah tertentu termasuk ruang kerja. Makanya Ajeng suka membantu. Ibunya sudah lima puluh lebih. Bi Eti sendiri, usianya sudah di atas empat puluh. Ajeng tak tega.
"Ayo deh."
Cuma untuk kali ini saja, Ajeng menepis semua tanggung jawab
itu. Dia ingin istirahat sejenak. Penat kepalanya memikirkan soal bosnya yang
sudah pulang dan sikap Panji yang terlalu mengekang dan memaksakan keinginannya
memonopoli Ajeng. Dia ingin membangkang untuk kali ini saja menikmati waktunya.
Menghilangkan semua stress-nya. Ajeng setuju.
"Nah gitu dong. Yuk, berangkat." Iwan senang. Dia cepat-cepat membeli obat dan mengajak Ajeng ke motornya.
"Eh, apa enggak aku pakai taksi online
aja kali ya?"
"Kenapa emang?"
"Itu motor kamu nungging banget, hehe. Aku gak pernah
naik motor gitu."
"Gapapa, gak bakalan jatoh. Kamu pegangan aku aja."
"Enggak deh, soalnya-"
"Udah ayok. Lagian kamu pakai celana panjang ini kan?
Aman pakai motorku. Yuk."
Salah satu kelemahan Ajeng adalah malas berdebat dan dia
tidak enakan kalau harus menolak berkali-kali. Jadi saja Ajeng naik atas motor
itu meski dia jadi bingung sendiri harus peregangan ke mana. Mau pegangan ke
Iwan dia tidak biasa. Akhirnya Ajeng menaruh tasnya di tengah dan memegang ke
belakang.
"Jeng, kamu pegangan aku aja. Soalnya kalau kamu pegangan ke belakang gitu badan kamu tuh jadi kaku nggak lentur. Kalau kamu pegangan aku bisa ngikutin ke mana arah motor gerak, jadi gak berat aku ngendarain motornya."
"Oh, i-iya deh."
Ajeng tidak tahu apakah teori ini benar atau tidak tapi dia
memang merasakan sih Iwan membawa motornya agak kaku dan berbeda saat dia sudah
memegang pinggang pria itu motor melaju lebih smooth.
Tubuhnya memang bergerak seperti gerakan tubuh Iwan. Ajeng juga tidak lagi
takut jatuh.
"Ajeng, ya ampun, kamu dari zaman kuliah sampai sekarang
nggak ada yang berubah ya. Cuman kayaknya kacamata kamu makin tebel deh."
"Hehe, i-iya nih, kemarin minusnya nambah satu. Apa
kabar Ismi?"
"Baik dong. Eh iya Jeng, kamu nggak pakai lensa
kontak?"
"Oh, ada nih, cuma jarang pakai."
“Ikut yuk kalau gitu. Aku make
over kamu dulu aja sebentar. Kamu tuh cantik loh kalau pakai lensa kontak
soalnya aku lihat di IG-nya Sarita, kamu tuh cantik banget pas pakai
kebaya."
"Eh itu-"
"Yuk ah, ikut. Sebentar aja. Aku juga bawa baju ganti
kok di mobil. Acara gathering ini kita
bikin surprise teman-teman. Iwan aku
pinjam Ajengnya dulu ya sebentar."
Lagi-lagi Ajeng tak bisa menolak keinginan Ismi, salah satu
teman dekatnya yang juga bekerja di firma hukum sama seperti Sarita.
"Kayaknya nggak pakai baju kayak gini juga nggak apa-apa
deh."
"Isk, udah, kamu cantik begini. Sekali-kali tampil
begini juga gapapa Jeng."
"Belahan lehernya terlalu ke bawah tapi."
"Enggaklah. Aman segitu. Udah pokoknya udah pas. Nggak
usah kamu tarik-tarik juga bawahan dress-nya. Emang modelnya segitu, panjangnya
segitu. Yuk ah."
"Ih, tapi aku ga pernah pakai baju begini, Mi."
"Gapapa, cuma acara gathering
kok. Yuk, kita buat mereka semua terpikat. Kamu tuh cantik. Sekali-kali
mengapresiasi kecantikan diri enggak masalah kan?"
Benar juga.
Sekali-kali aja kan. Ajeng akhirnya setuju. Lagian Ajeng melihat sendiri
dirinya tampak cantik dengan riasan sederhana yang ditorehkan Ismi di wajahnya.
"Eits, jangan deket-deket. Ajeng dateng ama gue hari ini
tuh. Anggep aja temen nge-date gue
sekarang."
"Wah, wah, Jeng, liat tuh, Iwan protektif banget. Elo
emang mau jadian ama dia?"
Ajeng suka. Dia juga tak sangka saja apresiasi teman-temannya
luar biasa padanya. Mereka memuji Ajeng. Beberapa kali teman lelakinya yang
lain menyapa dan yang masih lajang ingin dekat-dekat dengan Ajeng. Tapi Iwan
tak izinkan. Ajeng jadi lucu sendiri. Dia memang tidak pernah punya masalah
dengan teman-teman di tempat kuliahnya dulu. Mereka tidak pernah menghina
penampilan fisiknya dengan kacamata tebal dan dandanan super kolot. Cuma kali
ini Ajeng tak sangka saja pandangan mereka berubah karena Ismi. Ajeng menikmati
itu tanpa disadarinya dia senang juga jadi pusat perhatian.
"Ajeng, kamu kenapa?"
"Enggak apa, cuma mual aja, ehm, bau ikannya ngeganggu,
kaya ... amis banget gitu."
"Masa sih? Kayanya eggak deh."
"Iya Jeng, bener kata Iwan. Enak kok ikannya."
Sampai Ajeng menyadari rasa mual dari perutnya bukan hal yang
biasa karena teman-temannya merasa baik-baik saja. Ajeng jadi makin ngeri kalau
benar dugaannya ada yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Mu-mungkin karena aku nggak suka ikan kali ya? Hm ... aku
ke kamar mandi dulu ya."
Ajeng jadi merasa salah menikmati acara malam itu dan pujian
yang diberikan teman-temannya. Bagaimana jika teman-temannya tahu sekarang di
dalam kandungannya ada janin laki-laki yang belum menikahinya? Apa mereka akan
menghinanya?
Getir terasa di dalam hati Ajeng dan dia tidak bisa menikmati acara itu lagi.
"Jeng, kamu gapapa?"
"Maaf ya Iwan aku jadi ganggu kamu nikmatin acara.
Padahal kamu seharusnya nggak usah nungguin aku di deket kamar mandi
gini."
"Gapapa kok. Aku cuma mastin aja kamu nggak
apa-apa."
"Ehm, mungkin aku masuk angin kali ya soalnya aku nggak
biasa juga pakai baju kayak gini di tempat yang sedingin ini AC-nya. Tambah aku
nggak suka ikan jadi aku ngerasa mual."
"Mau ke dokter?"
"Gak usah." Ajeng jadi merasa bersalah dengan wajah
Iwan yang terlihat khawatir, "aku mau pulang aja. Hm ... titip pamit ya ke
temen-temen."
"Eh, ayo aku anter deh."
"Gapapa, aku bisa sendiri."
"Udah, sama aku aja. Kamu masih tinggal di rumahnya
Sarita kan?"
Teman-teman kuliahnya tahunya Ajeng ini anak angkat di rumah
keluarga Pradana. Memang Sarita juga mengatakan Ajeng adalah anak angkat
mamanya. Keluarga Pradana tidak pernah merendahkan Ajeng jadi mereka tak ada
yang tahu kalau Ajeng cuma anak pembantu.
"Kamu pakai jaketku ya. Duduk miring aja, aku bawa
motornya ga ngebut kok."
Ajeng akhirnya diantar juga oleh Iwan. Dia jadi tak enak
dengan pria itu tapi beda hal dengan Iwan yang justru senang bisa dekat dengan
Ajeng.
"Maaf ya aku jadi ngerepotin kamu nih. Makasih
jaketnya."
"Direpotin tiap hari juga nggak apa-apa kok. Kamu mau
aku jemput juga ke kantor besok? Eh, tapi kalau masih sakit nggak usah ngantor
deh. Izin aja dulu," senyum Ajeng melihat perhatian Iwan yang manis
untuknya.
"Makasih buat malam ini ya. Bye."
"Jadi besok mau dijemput nggak?"
"Enggak deh, aku biasa bareng Sarita," ucap Ajeng
yang tak juga berbohong. Biasa Sarita memang ikut menumpang mobil kakaknya
Panji karena arah ke firma hukum tempatnya bekerja satu arah dengan kantor
Panji. Tapi kalau pulang Sarita lebih suka sendiri karena Panji sering lembur.
"Met istirahat Ajeng."
"Bye."
Ajeng masuk rumah lewat pintu belakang seperti biasa supaya
dia bisa langsung masuk ke dalam kamarnya yang tepat ada di samping pintu
kamarnya. Lagian pintu itu akan selalu terbuka sampai dia pulang baru Ajeng
akan mengunci pintunya. Ajeng masuk seperti itu supaya tidak mengganggu
keluarga Pradana misalkan ada tamu yang datang atau mereka sedang berkumpul di
ruang tengah. Dia cukup tahu diri kalau dirinya cuma pembantu, masuk lewat
jalur belakang.
Niatnya, Ajeng ingin segera masuk kamar dan istirahat dulu. Ini kan sudah lewat jam sepuluh malam. Tapi sayang, rencana itu lagi-lagi bertentangan dengan takdir Tuhan.
"Astaghfirullah
Ajeng, itu baju kenapa pendek banget sampe lutut kamu keliatan!"