Jadi baju seperti ini yang dipakainya?
"Sayang, kamu liatin apa sih sampe istri sendiri
dianggurin?"
"Ah, enggak, cuma lihat laporan pekerjaan aja,"
dusta Panji padahal dia sedang mengamati CCTV dan sekarang dia sudah
menyembunyikan kembali aplikasi itu saat istrinya mendekat.
Tadi, Panji sempat mendengar suara Denok saat melihat
putrinya datang dari pintu belakang. Denok penasaran, ingin tahu siapa yang
datang bersama dengan anaknya. Tapi Panji tak bisa kepo juga karena dia memang
tidak pernah ikut campur urusan pembantu di rumah orang tuanya. Dia pamitan
dengan Denok dan Eti. Tapi rasa penasarannya ini membuat Panji tak tahan ingin
melihat CCTV di pagar rumahnya.
Panji tidak sangka saja Ajeng berpakaian seperti itu. Dia masih ingat betul, di hari ulang tahun Sarita, Ajeng tetap berpakaian seperti biasa. Dia bahkan tidak mau di make up. Lalu bagaimana di acara reunian itu Ajeng tampil beda?
Padahal saat bekerja saja Panji menyuruhnya pakai lensa
kontak dia tidak mau karena tidak nyaman. Makanya Panji kesal. Tapi dia harus
menyembunyikan marahnya di depan istrinya bukan? Bahaya kalau sampai Evelyn
salah paham dan cemburu. Panji juga merasa dia tak ada rasa kok sama Ajeng.
"Udah kangen pengen ditemenin nih, hm? Belum puas sebulan lebih dimanjakan?"
Panji sudah menaruh handphonenya di atas nakas dan kini dia
naik ke atas tempat tidur, merengkuh tubuh istrinya. Namanya juga masih
pengantin baru. Tak ada puas rasanya ingin terus bermesraan.
"Sayang, kamu ih, pinter banget bikin aku ser-seran
begini."
Tangan Panji sudah menggherayanghi bagian atas kaki jenjang
istrinya. Siapa lelaki yang tak suka menyentuh tubuh wanita se-molek Evelyn? Putih terawat, sangat halus,
dan menyejukkan dipandang mata. Jelas saja bangkit rasa ingin menikmati
kehangatan malam itu di hati Panji.
"Sayang, maaf ya, aku tadi mainnya agak kasar. Kamu
sakit?" Panji memang tergoda menikmati tubuh istrinya cuma tadi yang
terbayang adalah wajah Ajeng dengan dress
di atas lutut yang dikenakan Ajeng saat Panji dan Evelyn ingin bersenggama. Entah
kenapa rasa kesal itu meningkat sehingga Panji melakukannya agak kasar. Ada
lebam biru di tangan Evelyn dan beberapa bagian tubuhnya seperti pinggang,
paha, dan warna merah juga ada banyak di dadanya. Panji agak sulit menguasai
dirinya. Sampai dia lupa kalau ada janin di dalam kandungan Evelyn
"Ah, sakit sih emang Yang. Tapi gapapa kok. Aku malah seneng nikmatinnya. Ini berasa beda. lebih powerful ketimbang waktu kita di Eropa."
Mereka menghabiskan bulan madu mereka di Italia. Dan
sebenarnya bukan sekali ini mereka menikmati hangatnya ranjang bersama. Tapi
seperti kurang nyawa sebelumnya. Tak ada gregetnya. Tambah lagi, Panji
kebanyakan melamun. Dia lebih memilih mengikuti rencana Evelyn buat mengisi
hari-harinya. Makanya Evelyn senang melihat ghairah membara dari Panji yang
meningkatkan performanya. Ini bikin Evelyn puas.
"Jadi selama di Eropa kamu gak enak mainnya, Yang?"
"Gak gitu, enak sih. Kamu tuh bisaan ngasih enak. Tapi
apa ya? Beda aja," jujur Evelyn.
"Pengaruh hormon kali?" ucap Panji yang asal saja
menjawab menutupi kegugupannya sambil dirinya merangkul istrinya. "Mandi
yuk," ajaknya mengalihkan pikiran Evelyn.
Sebetulnya Panji sendiri juga merasakan kalau dirinya tidak
terlalu menikmati permainan selama mereka bulan madu. Bahkan rasanya ingin
cepat-cepat kembali ke Indonesia meski sebetulnya dia tidak tahu apa yang ingin
dilakukannya. Alasan pekerjaan awalnya yang digadang-gadang Panji.
Tapi tetap, Evelyn tak mau sebelum dirinya mengandung. Lagian
kesepakatan sudah dibuat dari awal. Jadi tidak ada alasan untuk Panji mangkir,
kan?
Akhirnya mereka bertahan dengan aktivitas yang sebetulnya
membosankan juga untuk Panji sampai Evelyn memberi tespek dan melihat hasil
kerja keras mereka. Saat itulah Panji langsung mem-booking
pesawat untuk pulang hari selanjutnya. Tindakannya yang buru-buru ini juga
membuat Evelyn mengerucutkan bibirnya karena sebal sekarang.
"Yang, kenapa sih buru-buru banget ngajakin mandinya? Kan masih anget sih aku ngerasain pelukan kamu."
"Ya ... biar seger aja kalau mandi, kan?"
"Tapi aku masih mau peluk-peluk kamu. Lagian, waktu kita
bulan madu juga, kita udah buru-buru pulang. Kata kamu meski kamu kerja di sini
tapi malam hari aku bisa bermanja-manja. Terus sekarang apa? Baru sebentar aja
udah mau ngajakin mandi. Tahu gitu aku gak mau pulang cepet-cepet. Kita bisa
keliling Eropa dulu kan."
Wajar jika Evelyn ngambek. Panji sudah setuju awalnya kalau
mereka akan keliling Eropa saat bulan madu. Itu rencana mereka yang sudah
diagendakan sejak mereka awal pacaran dulu.
Tapi saat sampai di Eropa. Panji mager sekali. Dirinya tampak
lesu dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, melihat jurnal,
atau menikmati pantai dan makan di restoran untuk killing
time agar istrinya tak bosan di kamar.
Sebetulnya Evelyn juga tidak puas sih hanya jalan-jalan di
sekitaran tempat tinggal mereka selama tinggal di Eropa. Tapi Panji banyak
berkelit.
"Maaf ya Sayang, pas kita bulan madu tuh aku pengen
ngelepasin semua capek aku. Kamu tahu sendiri kan gimana kerjaan aku di sini?
Jadi nggak ngapa-ngapain di rumah tuh bawanya ya pengen istirahat aja. Terus
juga kita kan lagi program buat cepet punya anak jadi aku emang nggak mau
kecapean supaya kualitas benih yang aku tanam bisa cepet berbuah." Panji
memegang tangan istrinya dan dia mengecup punggung tangannya sebelum
melanjutkan.
"Aku juga udah bilang kan kita nggak bisa keliling Eropa
dulu karena aku khawatir sama kondisi janinnya. Kamu baru aja mengandung terus
kalau kita jalan-jalan, tambah berhari-hari di atas kereta, nanti kalau kamu
kecapean sampai buruknya keguguran gimana? Nanti kan susah lagi punya
anaknya?" Panji menambahkan, "jadi maaf ya, next time setelah anak
kita lahir, kita jalan-jalan ke Eropa ya. Kita ulang bulan madunya. Kita
keliling Eropa, oke?" bujuk Panji yang tak ingin istri kesayangannya
merajuk.
"Janji ya?"
“Hm, iya Sayang." Panji lega dia kini mengecup dahi
istrinya dan mendekapnya lagi sebelum mengajak ke kamar mandi lagi.
"Bersihin dulu yuk, biar enak kamu tidurnya. Kan nggak
boleh begadang sampai malam soalnya kasian anak kita. Gimana?"
"Hm, iya deh."
Beruntung Panji memang pandai sekali merayu. Evelyn tak lagi
ngambek padanya. Sekarang, segar rasa tubuhnya sudah bersih dari sisa-sisa
bercinta dengan istrinya tadi.
"Sayang, kamu gak tidur-tidur sih? Kamu kan mesti
istirahat. Inget, nggak boleh begadang," ucap di bibir Panji sambil
tangannya meraih handphone Evelyn dan
menaruhnya di nakas.
Memang sih tubuhnya sudah bersih, Panji merasa segar. Tapi
masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Panji. Ini membuatnya tak tenang.
Matanya dari tadi juga sering menatap ke arah nakas tempat handphone-nya
berada. Dia masih ingin mengecek sesuatu yang tadi dilihatnya tapi sudah
terdistraksi oleh Evelyn.
"Gak bisa tidur Yang. Pengen makan pempek. Malam gini,
masih ada yang jual gak ya, Yang?"
"Kamu mau pempek? Ya udah, aku cariin dulu ya."
"Ih, kamu kok semangat banget sih Yang? Apa
jangan-jangan dari tadi kamu emang mau keluar dan gak mau nemenin aku
disini?"
Ada yang bilang kalau feeling istri itu kuat. Sepertinya
tebakan itu benar karena dari tadi Panji memang ingin keluar cuma dia belum
mendapatkan alasan yang tepat pergi menghindar dari istrinya.
"Ah, kan ini pertama kalinya kamu kepengen Yang. Ngidam
kan? Aku denger dari bapak-bapak muda di kantor, kalau istri lagi ngidam harus
cepat diturutin biar anaknya nggak ileran. Kamu tahu kan, aku gak suka banget
ada liur, masa ya anakku ileran?" kilah Panji yang memang pernah cerita
pada Evelyn kalau dia tak suka orang yang tidur ada liur mengalir itu. Padahal
orang tidur mana bisa sih dipastiin kalau gak mendengkur atau ileran juga. Kan
itu di luar kesadaran.
"Ih, ya udah deh, kalau gitu coba beliin ya, Yang. Aku tungguin."
"Hm. Aku beli dulu ya."
Setelah mengecup bibir istrinya, Panji cepat-cepat keluar
dengan membawa handphone-nya.
"Ck. Cuma anak motor, apa yang bisa dibanggakan?"
cuma bukan langsung membeli apa yang tadi diinginkan istrinya dia justru
mengamati handphone-nya sambil menuruni
tangga.
Dan bukannya keluar, segera mencari makanan yang diinginkan
istrinya dia belok ke arah yang berlawanan. Dia tergesa-gesa, tak melihat sorot
mata di dapur yang gelap itu yang mengawasinya.
"Kak Panji, mo ngapain ke belakang?"