"Cari mangga muda."
"Hah?"
"Kakak iparmu lagi
ngidam Jim. Ck, masa gak ngerti?"
Sejujurnya, jantung Panji
bertalu-talu. Dia kaget bukan kepalang, tak sangka saja akan dipergoki
seseorang. Tapi untung saja Panji disapa Jimmy. Apa jadinya kalau dia dibiarkan
dan Panji terus menjalankan niatnya?
"O, iya, iya, hehe.
Tapi kenapa gak beli aja, Kak? Nyari mangga malem-malem gini di pohon belakang,
bukan dapet mangga malah kunti yang nyangkut, gimana?"
"Ah, pikiranmu tuh.
Jangan-jangan kamu gelap-gelapan di dapur mau night super ditemenin sama
kunti."
Nah ini yang bikin Panji
tak tahu keberadaan Jimmy. Dapur itu gelap. Kenapa juga Jimmy tidak menyalakan
lampu? Panji sebal, sudah susah-susah dia keluar kamar, tapi rencananya gagal.
Dia tak menunggu adiknya menjawab, sudah pergi meninggalkan dapur ke pintu
depan.
"Kak, mau diambilin
mangga mudanya gak?" tapi pekikan suara Jimmy masih bisa terdengar.
"Gak usah, aku beli
saja," ujar Panji dengan suaranya yang terdengar menjauhi Jimmy.
Istrinya tidak minta
mangga, tapi pempek. Panji tadi terpaksa berbohong. Ah, sial, malam-malam Panji
mesti keluar rumah mencari pempek. Padahal dia bukan orang yang suka jajan dan
malas juga mencari makanan malam-malam begini, sendirian.
"Den Panji mau
keluar?"
"Ya, Pak Sugeng. Mau
cari pempek. Yang jualan pempek disini dimana ya?" tanya Panji ke satpam
rumahnya sebelum dia menuju mobilnya.
"Wah, itu ndak tahu,
Den. Biasa non Ita yang suka pesen makan. Tapi pakai ojek online itu loh."
Wah, Panji tak kepikiran.
Ojek Online, ini bisa jadi solusi untuknya. Dia tak perlu keluar dan dia bisa
melanjutkan niatnya yang belum kesampaian.
Panji sudah tak sabaran.
"Den, disini banyak
nyamuk loh. Gak tunggu di dalam saja?"
"Gapapa Pak Sugeng.
Saya malas masuk ke dalam. Lagian, biar ga ribet ngambil makanannya kalau
tukang ojeknya datang."
"Loh, nanti Bapak
yang antar ke dalam pesanannya, ndak apa."
"Gapapa, Pak. Kalau
diantar juga saya mesti turun dari kamar lagi. Iseng di bawah sendirian. Yang
lain sudah tidur. Jadi disini aja, mau cari angin sekalian."
Panji sudah memesan
pempek. Estimasi waktunya 55 menit. Dia sebetulnya ingin masuk ke dalam tapi
Panji memastikan dulu, apa adiknya masih di dapur atau tidak. Dia kan bisa
mengecek CCTV via handphone-nya. Jadi
ingin melihat keamanannya agar tak seperti tadi.
"Kak, gak jadi cari
mangga muda buat Eve?"
"Loh, bukannya
pempek, Den Jimmy?"
"Mangga muda dan
pempek, Pak Sugeng. Kamu mau ngapain ke sini?"
Panji kesal. Ini adiknya
kenapa lagi keluar. Sudah rencananya tadi berantakan karena Jimmy, kini dia ke
depan, harus dihampari Jimmy. Dan dia terpaksa berbohong lagi, karena Jimmy.
"Mau ke rumah sakit,
Kak. Ada operasi dadakan, emergency.
Makanya tadi ke dapur, nih, bungkus makanan."
Jimmy buru-buru. Dia
membawa beberapa buah dan cemilan dari kulkas, makanya tak menyalakan lampu.
Supaya cepat saja. Lagian, dia memang tak takut sama makhluk astral. Dia sudah
biasa di rumah sakit malam-malam berjalan di lorong sendirian pun tak apa. Ke
kamar mayat sendiri, Jimmy juga tak masalah.
Dan Panji lupa, adiknya
ini dokter, memang suka ada panggilan jika ada operasi emergency
tengah malam.
"Kak, ga jadi nyari
makanannya?"
"Pesen pakai ojol."
"Ooo, Kak-"
"Udah sana, jangan
kaya detektif nanya mulu."
"Hehe, aku berangkat
dulu ya Kak, Pakde Sugeng."
Jimmy, memang lebih santai
ketimbang Panji yang tipe serius. Dia lebih dekat juga dengan para kayawan yang
bekerja di rumahnya. Masalah karir, kerjanya juga detail dan teliti. Karirnya
cemerlang di rumah sakit, dia profesional. Tapi dia bukan orang yang suka
berbisnis. Makanya perusahaan ayahnya diturunkan ke Panji. Jimmy tak suka
mengurus administrasi, lobi, dan pusing-pusing dengan strategi perusahaan.
Memang jiwanya lebih senang membantu orang.
Beda dengan Panji yang
suka berstrategi dan menyelesaikan kasus. Dia sangat berhati-hati, pandai
berbisnis, dan punya keinginan yang kuat mewujudkan apa yang diinginkannya.
Kosong, baguslah. Eh, tapi, mau apa dia?
Sama seperti sekarang,
setelah Jimmy pergi, Panji segera mungkin mengecek CCTV. Dia memastikan tidak
ada yang keluar dari dalam kamar dan dia juga mengecek lorong belakang, dekat
pintu belakang.
Panji tak sangka,
seseorang yang ingin ditemuinya ternyata keluar kamar.
"Pak, saya mau ke
belakang dulu ya cari mangga muda."
"Mau dibantu
Den?"
"Enggak usah Pak.
Saya nemu yang pendek tadi posisinya," ucap Panji lagi, sebelum menuju
pintu samping. Panji terburu-buru.
"Sedang apa
kamu?"
"Eh-"
Wanita itu menutup
mulutnya, berdiri dan ingin menutupi apa yang tadi dilakukannya.
"Kamu ngapain di
sana, Ajeng?"
Ketahuan. Ajeng ingin
menjawab, tapi dia tak bisa. Ada sesuatu yang membuatnya tetap diam saat Panji
yang semakin penasaran menghampirinya dan ingin tahu apa yang disembunyikannya.
"Kamu ngapain?
Minggir. Lepaskan tangan saya!" ucap Panji, karena Ajeng mencegah, dia
berdiri melarang Panji lebih dekat lagi.
Pokoknya dia tak ingin
Panji lihat apa yang dilakukannya.
"Ajeng, minggir!”
"Jang-uw-" Ajeng
mau bicara, tapi rasa dalam perutnya membuatnya kembali menutup mulut, sayang
rasa itu tak bisa dikendalikan olehnya.
Uwek, uwek.
"Ajeng, kamu kenapa?
Kamu- muntah di sana?"
Ajeng tak bisa menimpali
Panji. Ajeng mual. Dia tak tahan lagi. Pokoknya dia ingin menumpahkan semua
yang ada di lambungnya. Tapi tetap, Ajeng menahan suara muntahnya. Dia tak
ingin menarik perhatian siapapun di rumah.
Kalau Panji tak dekat
dengannya, dia pasti tak akan mendengarnya juga.
"Menjauh Pak.
Uwekk."
Ajeng tak ingin Panji
dekat-dekat dengannya. Tapi pria itu malah membantu memijat leher belakangnya.
Tangan Ajeng juga ingin mengusir Panji. Tapi dirinya sudah mual lagi.
"Selesaikan saja
urusanmu," ucap Panji yang kini tahu apa yang disembunyikan Ajeng.
Wanita itu mengeduk tanah
agak dalam di dekat pohon mangga yang tak ada rumputnya. Dia sengaja menggali
lubang untuk tempat muntahnya.
Panji pikir, Ajeng ingin
menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Ternyata hanya ingin muntah. Ck, Panji jadi
ingin menahan tawa. Kalau ingin muntah, kenapa tidak di toilet kamar mandi
saja, pikir Panji. Tapi sebentar, dia yang ingin tersenyum tiba-tiba mengapit
bibirnya dan dahi Panji berkedut.
"Maaf, ini
menjijikkan, Bapak menjauh dulu saja. Tak perlu memijat leher saya lagi,"
ucap Ajeng, sambil mengambil cangkul, menutup muntahannya tadi.
"Berikan padaku!"
"Tak usah, menjauh
saja!" Panji ditolak lagi oleh Ajeng.
Lagipula itu sudah mau
selesai. Tak lama, Ajeng juga sudah berdiri, menginjak-injak bekas tanah yang
sudah tertutup itu. Tadi Panji sempat terpaku, dia berpikir dan ketakutan
sendiri dalam benaknya. Makanya sempat tak fokus.
"Lepaskan tangan saya
Pak!" ucap Ajeng yang merasa urusannya di sana sudah selesai, dia ingin
masuk tapi Panji menahan tangannya.
"Pak, nanti banyak
orang yang-"
"Ikut saya
dulu."
"Eh, ap- Pak."
Tak mau menunggu, Panji
menarik tangan Ajeng ke pintu masuk rumah.
"Cepat keluar dari
pintu dalam. Saya tunggu di luar. Ikut saya. Atau jangan salahkan saya yang
akan keluarkan ayahmu yang masih di ICU sekarang juga!"
"Ba-bapak gak mungkin
berani," ucap Ajeng dengan suaranya yang pelan.
"Kenapa enggak? Saya
ada kuasa. Kalaupun saya sabotase, gak akan ada yang tahu dan menghukum saya.
Ingat Ajeng, rumah sakit itu milik keluarga Pradana. Keluarga saya juga gak
mungkin jatuhkan saya kalaupun mereka tahu saya bersalah."
Apa Ajeng akan menurut?
Tapi sebenarnya kemana Panji mau membawanya?