POHON MANGGA

1120 Kata
"Cari mangga muda." "Hah?" "Kakak iparmu lagi ngidam Jim. Ck, masa gak ngerti?" Sejujurnya, jantung Panji bertalu-talu. Dia kaget bukan kepalang, tak sangka saja akan dipergoki seseorang. Tapi untung saja Panji disapa Jimmy. Apa jadinya kalau dia dibiarkan dan Panji terus menjalankan niatnya? "O, iya, iya, hehe. Tapi kenapa gak beli aja, Kak? Nyari mangga malem-malem gini di pohon belakang, bukan dapet mangga malah kunti yang nyangkut, gimana?" "Ah, pikiranmu tuh. Jangan-jangan kamu gelap-gelapan di dapur mau night super ditemenin sama kunti." Nah ini yang bikin Panji tak tahu keberadaan Jimmy. Dapur itu gelap. Kenapa juga Jimmy tidak menyalakan lampu? Panji sebal, sudah susah-susah dia keluar kamar, tapi rencananya gagal. Dia tak menunggu adiknya menjawab, sudah pergi meninggalkan dapur ke pintu depan. "Kak, mau diambilin mangga mudanya gak?" tapi pekikan suara Jimmy masih bisa terdengar. "Gak usah, aku beli saja," ujar Panji dengan suaranya yang terdengar menjauhi Jimmy. Istrinya tidak minta mangga, tapi pempek. Panji tadi terpaksa berbohong. Ah, sial, malam-malam Panji mesti keluar rumah mencari pempek. Padahal dia bukan orang yang suka jajan dan malas juga mencari makanan malam-malam begini, sendirian. "Den Panji mau keluar?" "Ya, Pak Sugeng. Mau cari pempek. Yang jualan pempek disini dimana ya?" tanya Panji ke satpam rumahnya sebelum dia menuju mobilnya. "Wah, itu ndak tahu, Den. Biasa non Ita yang suka pesen makan. Tapi pakai ojek online itu loh." Wah, Panji tak kepikiran. Ojek Online, ini bisa jadi solusi untuknya. Dia tak perlu keluar dan dia bisa melanjutkan niatnya yang belum kesampaian. Panji sudah tak sabaran. "Den, disini banyak nyamuk loh. Gak tunggu di dalam saja?" "Gapapa Pak Sugeng. Saya malas masuk ke dalam. Lagian, biar ga ribet ngambil makanannya kalau tukang ojeknya datang." "Loh, nanti Bapak yang antar ke dalam pesanannya, ndak apa." "Gapapa, Pak. Kalau diantar juga saya mesti turun dari kamar lagi. Iseng di bawah sendirian. Yang lain sudah tidur. Jadi disini aja, mau cari angin sekalian." Panji sudah memesan pempek. Estimasi waktunya 55 menit. Dia sebetulnya ingin masuk ke dalam tapi Panji memastikan dulu, apa adiknya masih di dapur atau tidak. Dia kan bisa mengecek CCTV via handphone-nya. Jadi ingin melihat keamanannya agar tak seperti tadi. "Kak, gak jadi cari mangga muda buat Eve?" "Loh, bukannya pempek, Den Jimmy?" "Mangga muda dan pempek, Pak Sugeng. Kamu mau ngapain ke sini?" Panji kesal. Ini adiknya kenapa lagi keluar. Sudah rencananya tadi berantakan karena Jimmy, kini dia ke depan, harus dihampari Jimmy. Dan dia terpaksa berbohong lagi, karena Jimmy. "Mau ke rumah sakit, Kak. Ada operasi dadakan, emergency. Makanya tadi ke dapur, nih, bungkus makanan." Jimmy buru-buru. Dia membawa beberapa buah dan cemilan dari kulkas, makanya tak menyalakan lampu. Supaya cepat saja. Lagian, dia memang tak takut sama makhluk astral. Dia sudah biasa di rumah sakit malam-malam berjalan di lorong sendirian pun tak apa. Ke kamar mayat sendiri, Jimmy juga tak masalah. Dan Panji lupa, adiknya ini dokter, memang suka ada panggilan jika ada operasi emergency tengah malam. "Kak, ga jadi nyari makanannya?" "Pesen pakai ojol." "Ooo, Kak-" "Udah sana, jangan kaya detektif nanya mulu." "Hehe, aku berangkat dulu ya Kak, Pakde Sugeng." Jimmy, memang lebih santai ketimbang Panji yang tipe serius. Dia lebih dekat juga dengan para kayawan yang bekerja di rumahnya. Masalah karir, kerjanya juga detail dan teliti. Karirnya cemerlang di rumah sakit, dia profesional. Tapi dia bukan orang yang suka berbisnis. Makanya perusahaan ayahnya diturunkan ke Panji. Jimmy tak suka mengurus administrasi, lobi, dan pusing-pusing dengan strategi perusahaan. Memang jiwanya lebih senang membantu orang. Beda dengan Panji yang suka berstrategi dan menyelesaikan kasus. Dia sangat berhati-hati, pandai berbisnis, dan punya keinginan yang kuat mewujudkan apa yang diinginkannya. Kosong, baguslah. Eh, tapi, mau apa dia? Sama seperti sekarang, setelah Jimmy pergi, Panji segera mungkin mengecek CCTV. Dia memastikan tidak ada yang keluar dari dalam kamar dan dia juga mengecek lorong belakang, dekat pintu belakang. Panji tak sangka, seseorang yang ingin ditemuinya ternyata keluar kamar. "Pak, saya mau ke belakang dulu ya cari mangga muda." "Mau dibantu Den?" "Enggak usah Pak. Saya nemu yang pendek tadi posisinya," ucap Panji lagi, sebelum menuju pintu samping. Panji terburu-buru. "Sedang apa kamu?" "Eh-" Wanita itu menutup mulutnya, berdiri dan ingin menutupi apa yang tadi dilakukannya. "Kamu ngapain di sana, Ajeng?" Ketahuan. Ajeng ingin menjawab, tapi dia tak bisa. Ada sesuatu yang membuatnya tetap diam saat Panji yang semakin penasaran menghampirinya dan ingin tahu apa yang disembunyikannya. "Kamu ngapain? Minggir. Lepaskan tangan saya!" ucap Panji, karena Ajeng mencegah, dia berdiri melarang Panji lebih dekat lagi. Pokoknya dia tak ingin Panji lihat apa yang dilakukannya. "Ajeng, minggir!” "Jang-uw-" Ajeng mau bicara, tapi rasa dalam perutnya membuatnya kembali menutup mulut, sayang rasa itu tak bisa dikendalikan olehnya. Uwek, uwek. "Ajeng, kamu kenapa? Kamu- muntah di sana?" Ajeng tak bisa menimpali Panji. Ajeng mual. Dia tak tahan lagi. Pokoknya dia ingin menumpahkan semua yang ada di lambungnya. Tapi tetap, Ajeng menahan suara muntahnya. Dia tak ingin menarik perhatian siapapun di rumah. Kalau Panji tak dekat dengannya, dia pasti tak akan mendengarnya juga. "Menjauh Pak. Uwekk." Ajeng tak ingin Panji dekat-dekat dengannya. Tapi pria itu malah membantu memijat leher belakangnya. Tangan Ajeng juga ingin mengusir Panji. Tapi dirinya sudah mual lagi. "Selesaikan saja urusanmu," ucap Panji yang kini tahu apa yang disembunyikan Ajeng. Wanita itu mengeduk tanah agak dalam di dekat pohon mangga yang tak ada rumputnya. Dia sengaja menggali lubang untuk tempat muntahnya. Panji pikir, Ajeng ingin menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Ternyata hanya ingin muntah. Ck, Panji jadi ingin menahan tawa. Kalau ingin muntah, kenapa tidak di toilet kamar mandi saja, pikir Panji. Tapi sebentar, dia yang ingin tersenyum tiba-tiba mengapit bibirnya dan dahi Panji berkedut. "Maaf, ini menjijikkan, Bapak menjauh dulu saja. Tak perlu memijat leher saya lagi," ucap Ajeng, sambil mengambil cangkul, menutup muntahannya tadi. "Berikan padaku!" "Tak usah, menjauh saja!" Panji ditolak lagi oleh Ajeng. Lagipula itu sudah mau selesai. Tak lama, Ajeng juga sudah berdiri, menginjak-injak bekas tanah yang sudah tertutup itu. Tadi Panji sempat terpaku, dia berpikir dan ketakutan sendiri dalam benaknya. Makanya sempat tak fokus. "Lepaskan tangan saya Pak!" ucap Ajeng yang merasa urusannya di sana sudah selesai, dia ingin masuk tapi Panji menahan tangannya. "Pak, nanti banyak orang yang-" "Ikut saya dulu." "Eh, ap- Pak." Tak mau menunggu, Panji menarik tangan Ajeng ke pintu masuk rumah. "Cepat keluar dari pintu dalam. Saya tunggu di luar. Ikut saya. Atau jangan salahkan saya yang akan keluarkan ayahmu yang masih di ICU sekarang juga!" "Ba-bapak gak mungkin berani," ucap Ajeng dengan suaranya yang pelan. "Kenapa enggak? Saya ada kuasa. Kalaupun saya sabotase, gak akan ada yang tahu dan menghukum saya. Ingat Ajeng, rumah sakit itu milik keluarga Pradana. Keluarga saya juga gak mungkin jatuhkan saya kalaupun mereka tahu saya bersalah." Apa Ajeng akan menurut? Tapi sebenarnya kemana Panji mau membawanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN