"Mau apa ke sini?"
"Nanti kamu tahu. Ayo, masuk ke kliniknya."
Ajeng tak berani melawan. Dia mengambil cardigan dan keluar lewat pintu depan. Panji sendiri tadi mengambil dua mangga muda sebelum ke depan tapi lewat pintu samping. Dia juga berpesan ke pak Sugeng untuk menaruh dulu makanannya di pos satpam.
Dia akan keluar, ada urusan perusahaan yang penting. Ada masalah dengan stock barang alasannya karena Panji mengajak Ajeng. Tak mungkin mereka pergi berdua kecuali urusan perusahaan, kan?
Selama dalam perjalanan, mereka juga tak bicara. Meski Ajeng penasaran dirinya mau dibawa kemana, tapi tak berani bertanya. Toh nanti juga dia tahu tujuannya setelah Panji berhenti, pikirnya.
"Tunggu apalagi, ayo cepat."
"Kalau Bapak sakit, Bapak aja yang masuk, saya tunggu disini."
"Saya kesini untuk cek kondisimu."
Nah ini yang sekarang bikin Ajeng tak berani turun. Dia takut. Sesal dalam hatinya karena tadi makan agak banyak. Seharusnya dia tak akan di kondisi sesulit ini.
"Saya gapapa Pak. Pulang saja."
"Turun sekarang. Kamu gak bisa tolak perintah saya!"
"Saya bisa berteriak," ucap Ajeng saat Panji sudah memegang handle pintu mobil.
"Coba saja menguji kesabaran saya. Ayahmu yang akan-"
"Baik saya turun."
Uang memberikan power. Ini yang menambah kesal hati Ajeng. Dia kalah dari Panji. Pria itu dengan kuasanya bisa melakukan apa saja termasuk menariknya masuk ke ruang dokter.
"Adik saya sakit, dia muntah-muntah. Bisa dicek kondisinya, Dokter?"
Panji juga tak mau menunggu di luar ruangan dokter. Ajeng sampai frustasi. Pria itu seakan tahu kalau Ajeng menyembunyikan sesuatu, Dan kini, apa yang bisa dilakukannya selain pasrah?
"Mbak Ajeng sudah menikah?"
"Suaminya salah satu wakil dari kesatuan TNI yang ditugaskan jadi perwakilan untuk Indonesia di wilayah konflik di Lebanon," ucap Panji dengan santainya.
Kata-kata itu mengalir begitu saja seakan itu kenyataan. Tak terlihat sama sekali kalau Panji berbohong. Ajeng bingung, ada ya orang berbohong yang bisa se-natural itu seakan dia tak bersalah?
Ah, bodo, lah! Ajeng lebih sibuk memikirkan apa yang dikatakan oleh dokter sekarang.
"Oh, pantesan kakaknya yang jagain. Ini, bisa dicek dulu di kamar mandi dari denyut nadinya saya yakin mbak Ajeng mengandung."
Disitulah denyut jantung Panji berdetak tak beraturan. Ajeng sendiri sampai dingin tangannya menerima tespek dari dokter. Apa sekarang yang harus dilakukannya?
"Silakan, bisa ke kamar mandi sekarang."
"Ayo Jeng."
Panji berdiri, begitupun Ajeng yang semula sempat ragu. Dia sudah beli tespek. Tapi kata orang, paling akurat di pagi hari, pas bangun tidur. Makanya dia belum cek. Dan sial, sekarang dia harus mengeceknya dengan Panji menemani ke kamar mandi.
Gimana ini?
Hati Panji tak tenang. Dia cemas. Apa jadinya kalau Ajeng juga mengandung? Duh, ini tambah masalah baru.
Apa Panji harus menyuruh Ajeng menggugurkannya?
Ini opsi yang tiba-tiba saja terbesit dalam benaknya. Tapi tidak. Panji menggelengkan kepalanya dan berjalan mondar mandir, mencoba melupakan opsi itu.
Dia tak mungkin kan membunuh manusia? Bayi adalah manusia. Terlebih lagi itu anaknya. Mana mungkin dia berani membunuh calon janinnya sendiri?
Tapi kalau Panji tak melakukan itu, bagaimana mama dan papanya? Bagaimana dengan Evelyn dan anak di kandungannya? Panji tak pernah mencintai Ajeng. Itu cuma kecelakaan. Dia tak mau sampai kehilangan Evelyn.
Sayangnya bayangan menghilangkan nyawa bayi masih menjadi pertentangan jauh di dasar nurani Panji.
Tapi menikahinya juga tak mungkin.
Cuma sekarang Panji ada dilema baru. Dia tak tenang. Berkali-kali memperhatikan pintu kamar mandi, tapi Ajeng tak kunjung keluar. Perasaan waktu menunggu Eve tak selama ini. Panji ingin mendobrak pintunya dan mengecek sendiri.
"Mana, lihat hasilnya!"
Meski pria itu terlihat tenang, tetap saja, situasi makin tak baik-baik saja. Ajeng bisa merasakannya. Apalagi saat dia keluar dari dalam toilet Panji langsung meminta tespeknya.
"Apa yang kamu sembunyikan? Berikan cepat!"
Panji sampai tak sabaran. Panji yakin sekali Ajeng menyembunyikan sesuatu. Dia tak tahan lagi, Panji menarik tangan Ajeng dan merebut paksa tespek dalam genggaman sekretarisnya itu.
Kejam. Sakit sekali. Ajeng jadi teringat saat Panji merenggut paksa mahkotanya, pria itu menariknya juga menyakitkan. Tenaga Panji sangat kuat.
Dia dengan sekali sentak bisa menjatuhkan Ajeng. Kejadian rebut paksa alat tes kehamilan itu mengingatkan Ajeng pada deritanya malam itu. Kesal hatinya. Ada luka yang kembali terbuka karena ulah Panji.
"Sudah puas ngeliatinnya, Pak?" cicit Ajeng menyindir sebelum jari-jari lentiknya bergerak merebut paksa lagi tespek di tangan Panji.
Pria itu masih termangu, belum mengatakan satu katapun, tapi kakinya terasa lemas.
"Tunggu sebentar," ujar Panji yang kembali menarik tangan Ajeng supaya wanita itu tak pergi.
"Kalau kamu masuk sendiri ke dalam sana, aneh. Tunggu sebentar, saya harus duduk dulu," ucap Panji mencoba menstabilkan irama jantungnya yang mempengaruhi ekspresi wajahnya.
Dia tak ingin membuat kecurigaan dokter tentang hubungannya dan Ajeng.
"Lepaskan tangan saya Pak!"
Panji tak sadar juga kalau dirinya menggenggam lengan Ajeng cukup kuat. Cepat-cepat dia menarik tangannya.
"Ajeng-"
"Kalau Bapak sudah bisa konsentrasi, ayo Pak kita ke dokter. Saya tidak mau lama-lama keluar begini, nanti menimbulkan kecurigaan kalau saya tak cepat kembali."
"Tenang saja, aku sudah bilang kalau kita mau ke kantor ke pak Sugeng. Ada yang diurus."
Nah, kalau ini, Ajeng juga tak tahu. Soalnya Panji juga tidak cerita.
Ajeng juga tak kepikiran mau tanya-tanya padanya. Sepanjang jalan tadi kan mereka tak bicara. Dan Ajeng sudah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya sudah, kalau begitu tak usah buang waktu lagi. Ayo kita ke dalam saja," ucap Ajeng, bukan karena dia ketakutan orang-orang akan mencari dan menduga mereka melakukan sesuatu. Tapi lebih menjaga hatinya sendiri karena dia tak nyaman berada di sisi Panji. Dari tadi saat Panji membantunya di dekat pohon mangga, Ajeng sendiri sudah merasa desiran aneh. Dia khawatir kalau diteruskan rasa itu bisa membuatnya memiliki perasaan ingin dianggap lebih dari sekretaris atau anak pembantu oleh Panji.
Tidak! Ajeng tahu kalau Panji sudah memiliki istri. Dia tidak boleh menjadi orang diantara mereka. Semakin cepat mereka pergi menemui dokter, semakin cepat mereka berpisah.
"Sebentar," ucap Panji saat Ajeng sudah berdiri. Panji sendiri baru mengangkat bhokhongnya meninggalkan kursi yang tadi memberikannya kenyamanan sejenak. Dia juga memang tidak bisa berlama-lama karena tadi Panji merasakan getar di handphone-nya dan dia sempat mengeluarkan handphone itu lalu membaca popup notification sebelum kembali mengantonginya lagi dan bicara dengan Ajeng.
Cintaku:
Kamu dimana Sayang? Udah dapat belum pempeknya? Cepetan dong Yang, ngebut ya pulangnya.
Evelyn sudah menghubunginya dan mereka memang tidak bisa berlama-lama lagi.
"Ayo." Makanya Panji sudah memimpin berjalan selangkah di depan Ajeng.
"Silakan masuk," ucap sang dokter saat Panji mengetuk pintu.
Lalu mereka duduk di hadapan dokter yang sudah menatap Ajeng dan meminta sesuatu:
"Mana tespeknya? Boleh saya lihat hasilnya?"