"Apa alasan kamu bertanya begitu?" Bukan langsung menjawab malah Panji membalikkan pertanyaannya ke Ajeng. Tak cukupkah dia menahan kesal dari tadi sampai harus diberikan pertanyaan aneh lagi oleh Ajeng? Apa wanita itu sedang menguji kesabarannya? "Itu-" tapi bukan langsung menjawab wajah Ajeng malah terlihat cemas dan dia seperti kebingungan menundukkan kepalanya, memperhatikan luka di tangan kiri Panji yang sudah diobatinya, sebelum menatap Panji. "Bukan harusnya Bapak bersyukur kalau bayi saya keguguran? Bapak jadi tidak harus bertanggungjawab ke saya. Kita bisa bercerai dan Bapak gak mengkhianati bu Evelyn." Ajeng sebenarnya tidak mau straight forward seperti ini. Cuma memang ini masalah yang mengganjal dalam hatinya apalagi tadi Panji bilang kalau Ajeng ingin membunuh anaknya. I

