SAHABAT?
‘Bruaaakk ...!!!!’
“Rama!” bentak seseorang yang kini berkacak pinggang sambil menggebrak meja. “Lo nggak bisa kayak gini terus, Ram! Mau sampe kapan lo lari?”
Sementara laki-laki yang tertunduk di meja besi berkarat itu hanya bisa menggeleng. Memijat dahinya, menyadari semua yang ia lakukan justru semakin membuat rumit keadaan.
Sedang di luar, hujan turun semakin lebat. Mengetuk atap seng gudang berantakan ini. Menambah dingin percakapan antara dua laki-laki dewasa ini.
Kilat menyambar, cahaya yang berpendar sedetik mengurai gelap malam. Menembus jendela dengan kaca yang sudah pecah berantakan. Menyisakan dua potong kaca yang masih menggantung di gawang jendela.
Sementara pecahan kaca lainnya berhamburan. Jadi puing-puing berceceran di bawah, bercampur dengan guguran daun kering yang masuk dari luar diterpa angin.
Gudang gelap terbengkalai tanpa satu pun cahaya itu kini disulap jadi markas rahasia mereka berdua.
“Siapa juga yang bisa menghadapinya, Markus?” tanya Rama balik. Suaranya bergetar putus asa. Menggeleng, kehabisan akal.
Cahaya yang datang dari bara rokok di bibir Rama menyala. Dihisap laki-laki itu, menerangi sedikit garis rahang besarnya. Menerangi bibirnya yang tipis dan mata yang menyorot tajam ke arah Markus.
“GUA BISA RAM!” bentak Markus. Tepat saat petir menyambar sekali lagi. Sinarnya menyorot tubuh mereka berdua.
Sekilas menyinari, sekaligus memberi kejelasan tentang siapa Markus. Seragam coklat dengan sepatu pantofel. Rompi anti peluru mebalut tubuh bagian atasnya. Helm yang tergeletak sembarang di atas meja menjelaskan bahwa tidak salah lagi, laki-laki satu ini adalah polisi.
“Tadinya gua bisa Ram,” dengusnya kesal. Napasnya tersengal, menahan emosi yang meledak-ledak diiringi guntur yang terdengar menyalak di langit nan jauh di sana.
“Tadinya gua masih bisa bersihin nama lo dari deretan nama incaran polisi, Ram! Tadinya gua masih bisa selametin! Lo ngerti nggak sh?! Tapi itu tadi sebelum lo rusak semua rencana gua! Sebelum muka lo muncul di CCTV! Arrgghhhh .... !!” lanjut Rama sebelum;
“BRRUUAAKKKK .... !!!” laki-laki itu membanting helmnya yang ada di atas meja.
“g****k !! Lo nggak ngerti gimana gua muter otak buat selametin lo! Lo udah untung gua sembunyiin selama ini,” bentak laki-laki itu lagi. Kini dengan jari telunjuk yang menunjuk, mengacung di depan wajah Rama.
“Ya, lo kira cuma lo doang yang mikir? Gua juga, Kus!” Rama menelan ludah. Membuat kalimatnya terpotong. Tepat saat petir menyambar sekali lagi. Hujan di luar semakin deras. Bertambah angin yang semakin kencang bertiup, berarak tanpa arah. “Gua juga mikir nasib gua sendiri.”
“TAPI BUKAN DENGAN CARA NGOBRAK-ABRIK KANTOR POLISI JUGA RAM!” jawab Markus lagi. Masih dengan nada bicara yang belum turun. Dadanya memompa jauh lebih cepat. Kembang-kempis naik turun mengikuti napasnya yang memburu hebat. “Orang lo itu, orang yang udah masuk penjara itu bayaran yang pas. Itu bayaran biar lo bisa lari lebih jauh. Gua udah kasih kelonggaran buat lo. Tapi lo malah nyolot!”
Terengah-engah lagi, menahan emosinya yang memuncak. Ingin rasanya mendaratkan tinju ke muka orang yang ada di depannya. Ingin rasanya menusukkan sangkur yang ada di sabuknya ke d**a laki-laki ini. Ingin rasanya menembakkan peluru ke dalam mulut Rama, agar laki-laki itu bisa mengerti.
“Bukan dengan cara mengobrak-abrik kantor polisi, Ram. Bukan dengan cara merampok tempat itu. Mengambil semua barang bukti kembali. Lo sama aja bunuh diri sekarang!” lanjut Markus sambil membuang muka.
Berjalan ke arah gawang kayu tanpa pintu. Menatap hujan yang turun deras di luar sana. Membiarkan tepias air hujan yang dibawa angin menerpa wajahnya. Memberi udara segar dari pengap masalah yang kini tengah membekap Markus.
Ia tak bisa terus menatap Rama dengan kemarahannya sekarang. Ia tak bisa melakukannya, membiarkan emosinya meledak-ledak. Karena ia tahu, mudah saja bagi Markus untuk mengakhiri nyawa Rama saat ini juga andaikan ia mau itu terjadi.
Udara dingin membuat percakapan mereka surut. Tapi hujan di luar sana masih turun dengan sangat deras. Sederas berbagai pasal yang akan menunggu salah satu dari mereka. Sederas dakwaan yang akan Rama dapatkan.
Setengah jam yang lalu Markus datang. Suara cipratan air yang beradu dengan sepatunya mengiring kedatangannya. Menembus gelapnya malam dan pekatnya suara hewan-hewan hutan pedalaman Sumatra.
Di tempat yang sudah lama terpakai ini. Tempat yang sekaligus dijadikan markas rahasia oleh Rama karena lokasinya yang diapit berhektar-hektar kebun sawit penduduk. Dua sahabat itu bertemu lagi.
Namun hujan yang turun saat ia datang belum sederas sekarang. Belum bercampur petir apalagi angin seperti saat ini. Susana mencekam bercampur jadi satu dengan kenyataan bahwa laki-laki bernama Rama itu hanya tinggal menunggu waktu untuk diringkus pihak kepolisian.
“Tapi lo tahu kan, gua ngelakuin itu bukan tanpa alasan, Kus!” ujar Rama menyambung kembali percakapan di antara mereka berdua.
“Itu dia masalahnya!” potong Markus cepat. “Itu yang bikin lo nggak ngerti-ngerti juga kenapa sampai detik ini gua masih mau nolongin lo.”
“Apa? Karena lo sahabat gue? Hah?” jawab Rama cepat. Suaranya terdengar bergetar lagi-lagi. Entah karena udara dingin ini atau karena terlalu berat rasanya mengungkit status mereka berdua selama ini. “Basi, Kus! Udahlah, Gue bukan Rama yang dulu lo kenal.”
Isapan rokok terakhir. Isapan yang lebih panjang dari sebelumnya. Menandaskan linting tembakau itu hingga gabus yang diapit dua jari Rama.
“Ngapain sih lo masih berjuang buat gue?” lanjut Rama dengan suara lirih.
Kepulan asap membumbung sebentar, sebelum akhirnya hilang diterpa angin. Sebelum lenyap tak tersisa. Kecuali aroma rokok yang sama-sama mereka berdua sukai itu.
Markus hanya bisa menelan ludah mendengar kalimat laki-laki yang ada di belakang tubuhnya itu. Menatap air yang jatuh mengucur lewat lekukan atap seng di depannya. Melipat tangan di d**a. Meratapi kenyataan yang kini harus memisahkan mereka.
“Gua bukan Rama si bintang kelas itu lagi, Kus. Gua bukan dia. Rama itu sudah lama mati,” lanjut Rama datar sambil mendaratkan ujung rokoknya yang membara di permukaan meja berkarat. Mematikan bara yang menyala itu, membuangnya jauh-jauh. “Sebaiknya sudahi saja semua usaha sia-siamu itu.”
“LO NGGAK NGERTI APA YANG GUA RASAIN!” bentak Markus.
“LO JUGA NGGAK NGERTI APA YANG SELAMA INI GUE PIKIRIN, KUS!” bentak Rama balik sambil menggebrak meja di depannya. Berdiri, menatap tajam ke arah Markus yang tak bergeming di mulut pintu.
“Itu dia masalahnya, Kus! Kita sudah tak sejalan. Kita nggak mungkin bisa beriringan lagi. Lo yang maksain ini dari awal kan? Lo harusnya tangkap gur sekarang. Lo seharusnya menembakkan peluru dari senjata di sabuk lo itu ke ubun-ubun gua sekarang.”
“Lo nggak tahu apa yang gua pikirkan, Kus! Itu dia masalahnya. Lo nggak pernah ada di posisi gua! Lo nggak pernah tahu berapa lama pelarian ini. Lo nggak pernah tahu nasib setiap bandar yang gua punya. Lo nggak tahu getirnya rasa takut berada di ambang kematian berkali kali. Lo nggak tahu rasanya itu, Kus!”
“Lo nggak akan tahu rasanya seorang bintang kelas yang kini berakhir jadi mafia narkoba terbesar di kota ini. Lo nggak tahu rasanya tidak lagi percaya pada semua orang. Lo nggak tahu rasanya jantung berdebar menyadari bahwa gua masih hidup hari ini. Ayo tembak gua. TEMBAK GUA, KUS!” bentak Rama sekali lagi. Membentangkan tangannya, seakan mempersilahkan Markus untuk memilih bagian mana pun dari tubuhnya.
“Lo nggak tahu rasanya menjamin semua bandar aman padahal lo sendiri setiap hari berharap hari ini adalah hari terakhir merasakan neraka di dunia ini,” tandas Rama mengakhiri kalimatnya. Menurunkan lengannya kembali. Membenahi jaket hitam kulit sapi yang membungkus tubuhnya.
Percakapan hening lagi. Air hujan yang mengetuk atap gubuk ini kembali menyalak. Ditambah petir yang terdengar menyambar, saling sahut dari kejauhan.
Udara dingin makin merasuk. Mendarat di tubuh mereka berdua yang sudah separuh basah tersiram gerimis saat berjalan kaki menuju tempat ini. Tapi perdebatan ini membuat semua perasaan terbalik.
Dingin jadi panas, sayang jadi benci, sahabat jadi musuh. Hanya satu yang tak berubah; kenyataan. Kenyataan bahwa percakapan malam ini, masih tentang pemimpin mafia narkoba, dan seorang polisi muda dengan prestasi mentereng di kesatuannya. Kenyataan bahwa mereka pernah jadi sepasang sahabat sejak lima belas tahun yang lalu.
“Lo tahu apa yang pertama kali kuucapkan pada komandan saat preman pasar itu tertangkap? Siapa namanya?” ujar Markus akhirnya memecah keheningan.
“Arya,” jawab Rama singkat. “Lo tembak kaki kirinya bukan?” lanjut laki-laki itu sambil kembali duduk di kursi besinya, melipat tangan di d**a.
Markus berbalik, terpingkal tanpa suara, tersenyum miring. Berjalan dengan suara sepatu yang terdengar menyalak mengetuk lantai. Mengalahkan suara petir, mengalahkan suara ketukan air hujan.
Berhenti tepat di sebelah Rama, merunduk, mendekatkan bibirnya di dekat daun telinga sahabatnya itu.
“Itu dia masalahnya! Lo terlalu punya hati sebagai mafia. Lo inget nama laki-laki itu sementara gua cuma inget aroma darahnya,” bisik Markus. “Aromanya nikmat sekali. Seperti daging sapi panggang setengah matang.”
Kalimat yang berhasil membuat gigi Rama bergeretak, menahan kepal tangannya yang hampir melayang ke arah Markus.
Bersambung ....