Ini salah Mandala. Salah Mandala karena membuat Vinay tak bisa memberikan hadiahnya. Salah Mandala karena membuat Vinay mengucapkan “selamat ulang tahun” pada udara kosong di persinggahan terakhir.
“Selamat ulang tahun,” Vinay berucap lirih di hadapan makam dengan nama Mandala Zeonard. “Selamat ulang tahun,” ucapnya lagi. Ini sudah hampir dua minggu, dan rasa sesak masih melingkupi hatinya. Tak berkurang sedikitpun. Vinay datang ke pemakanan saat mentari bahkan belum nampak separuhnya. Membiarkan dirinya yang datang tanpa jaket dipeluk oleh rasa dingin.
Gadis itu kini berjongkok, entah kapan air matanya luruh. Mungkin ia menaiki motor, atau mungkin saat ia berjalan memasuki area pemakanan dengan sebuah bingkisan yang digenggamnya erat. “Coba tebak aku bawa apa?” Vinay berujar serak. Ia menggoyangkan bingkisan kotak dengan kertas berwarna biru muda yang nampak manis dalam genggamannya.
“Kamu pernah bilang kalau suka wangi cendana, parfum kamu juga wangi cendana. Jadi di ulang tahun yang ke-19 aku beliin kamu parfum. Ini nggak mahal kok, karena aku tau kamu bakalan marah-marah kalau aku kasih barang mahal.” Vinay berucap dengan terisak.
Hatinya seperti digores dengan begitu menyakitkan. “Selamat ulang tahun,” ulangnya lagi dengan susah payah karena tersedak isak tangisnya. “Biasanya, tiap tahun aku berdoa agar kamu panjang umur, biar bisa sama aku terus.” Vinay berucap dengan menatap nisan yang bertulis nama yang begitu ia rindu. “Tapi kali ini nggak bisa?” tanyanya seolah Mandala benar-benar ada disana.
Vinay menelungkupkan wajahnya sambil memeluk lututnya. Ia tak kuasa memandang nisan dengan nama kekasihnya terlalu lama. “Kumohon, pulanglah padaku…” bisiknya penuh harap.
Ini sangat sakit. Ini tidak adil.
Tak ada hal yang lebih menyakitkan selain dipaksa berpisah untuk selamanya. Saat kita sedang cinta-cintanya.
Ini tidak adil. Sungguh tidak adil. Mandala dijemput paksa begitu saja, setelah mengukir kenangan manis yang begitu hangat memenuhi relung hatinya. Ada banyak hal yang belum sempat terucapkan. Seperti betapa besar rasa cintanya pada lelaki yang kini hilang tertelan masa. Seperti seberapa keras jantungnya berdegup hanya kala lelaki itu menatapnya. Seperti seberapa hangat hatinya saat lelaki itu tersenyum begitu manis hanya padanya. Dan seperti-seperti yang lain.
Begitu banyak, dan hal itu membuat segalanya menjadi begitu berat.
Ia pernah berandai-andai. Tentang alasan mengapa lelaki itu dipanggil begitu cepat. Mungkin karena Tuhan begitu sayang. Atau karena sesebenarnya Mandala adalah malaikat yang masa tugasnya telah habis dan harus kembali pulang. Pastilah begitu.
Selama ini ia telah ditipu. Mandala bukanlah manusia, ia pastilah malaikat yang tengah bermain-main di bumi. Lalu pulang sembari menggenggam hatinya. Meninggalkan dirinya di dunia ini sendirian.
Ini semua salah Mandala.