Chapter 12

909 Kata
            Ia kini tengah duduk menyantap bakso dengan Levi yang duduk di depannya. Menu mereka sama bukan karena mereka jodoh atau apapun. Semua itu hanya karena stand bakso lah satu-satunya stand yang sudah berjualan. Sedangkan stand lain masih sibuk berkemas-kemas mempersiapkan dagangannya.             “Vin,” panggil Levi sambil menyeruput kuah baksonya.             “Kalau makan nggak boleh ngomong,” gumam Vinay tidak jelas karena tengah mengunyah pentol bulat-bulat.             “Hah! Apaan?”             “Kalau makan nggak boleh ngomong!” ulang Vinay dengan kesal.             Levi tersenyum mengejek, “Nah itu kamu lagi ngomong.”             “Aku kan lagi jawab pertanyaan kamu. Salah kamu kenapa punya kuping kok dibuntu.” Vinay mendelik agar Levi diam dan tak mencari gara-gara lagi. Sungguh! Vinay hanya ingin menikmati sarapannya dengan tenang dan hikmat agar barokah sampai siang.             “Kamu nyadar nggak Vin, kalau aslinya kamu yang lebih banyak ngomong dari pada aku,” kata Levi dengan tampang menyebalkan.             “Yaudah jangan ngomong lagi!” kesal Vinay. Ia kini menghela napas kesal dan melahap satu somay tanpa memotong atau menggigitnya.             Levi terkekeh pelan, “Aku cuma mau nanya doang kok. Kamu itu pakai parfum cowok ya?” tanya Levi yang membuat Vinay langsung tersedak hebat setelahnya. “Minum dulu!” Levi menyodorkan gelasnya yang langsung diteguk cepat oleh Vinay. “Kamu nggak papa?” tanya Levi memastikan.             Vinay terdiam, menata napasnya. Atau juga hatinya. Bersama Levi membuat Vinay seakan tengah berenang menyusuri lautan. Sejenak ia bisa mengambil napas, namun setelahnya Levi dengan keingintahuannya membuat Vinay kembali menyelam. Menyelam, semakin dalam untuk mengorek segala hal yang tersimpan dalam lautan yang gelap. Lalu saat ia hampir berada di dasarnya, ia harus kembali menarik napas. Sejenak, sebelum kembali menyelam agar tak tenggelam.             “Nggak apa-apa,” jawab Vinay sembari bersandar di kursi. Rasa laparnya mendadak hilang.             “Kenapa bisa sekaget itu sih?” Levi menarik tisu di meja makan dan menyodorkannya pada Vinay.             “Biasa aja, cuma emang waktunya keselek,” Vinay berucap dengan mengusap bibirnya dengan tisu pemberian Levi.             Levi terdiam untuk mengamati ekspresi wajah Vinay yang memerah karena beberapa saat lalu tersedak. “Beneran?” Levi bertanya seetengah tidak percaya.             “Kenapa tanya gitu?” Bukan menjawab, Vinay malah balik bertanya. Sekilas dari sudut mata Levi, ia bisa menangkap ketidak senangan dari Vinay.             Levi tersenyum minta maaf, “Sorry, kalau misalnya pertanyaanku bikin kamu nggak nyaman. Aku tanya cuma karena penasaran, nggak ada maksud apa-apa,” jelas Levi takut Vinay salah paham kepadanya.             Vinay membuang muka, “Iya, aku emang pakai parfum cowok? Kenapa? Freak ya?” tanya Viinay bersamaan dengan manik matanya yang menatap tajam kearah Levi.             Levi dengan cepat dan gelisah mengibaskan tangannya. “Enggak kok! Cuma—agak aneh aja,” lanjutnya dengan kejujuran yang tidak tahu tempat.             Vinay mendengus sebal, “Aneh itu kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris jadi freak! Sama aja!”             “Kalau gitu ku ganti jadi unik! Tenang aja, aku seneng kok kamu pakai parfum cowok. Jujur aku nggak terlalu suka parfum cewek yang baunya manis kayak roti itu.” Levi berujar menerangkan. Vinay sudah sedikit senang mendengar ucapan Levi, namun rasa senangnya langsung sirna saat cowok itu melanjutkan ucapannya. “Tapi agak aneh aja, makanya aku tanya kenapa kamu pakai parfum cowok,” ujar Levi dengan senyum cengengesan.             Ada sekelumit hal yang membingungkan dalam hati Vinay. Pada satu sisi, ia begitu ingin berbagi dengan menceritakan segala hal yang ia pendam sendiri. Namun disisi lain rasa takut dan enggan membuat dirinya begitu ingin bungkam. Setahun ini, ia tidak bisa untuk sekadar bercerita. Tatapan rasa kasihan yang mereka lemparkan kepadanya membuatnya menutup diri, lalu menyelimuti dirinya dengan tampilan gadis ceria yang bahagia. Tapi Vinay merasa terlalu lama berselimut dan ia mulai merasa kepanasan.             Vinay lalu mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari tengahnya. “Janji nggak bakalan bilang ke siapa-siapa?”             Levi menarik sudut bibirnya melihat acungan jari tengah Vinay. “Janji,” gumamnya lalu menyambut acungan jari tengah itu dengan mengaitkannya seperti simbol janji yang biasanya memakai jari kelingking. “Kenapa jari tengah?” tanya Levi tanpa bisa menahan rasa ingin tahunya. Bersama Vinay membuatnya selalu bertanya-tanya, dan dilputi rasa ingin tahu. Ia begitu penasaran dengan segala hal mengenai Vinay.             “Karena jari kelingking terlalu manis buat kita. Sedangkan hubungan kita nggak ada manis-manisnya. Nggak cocok.” Vinay menatap sekeliling kantin lalu mendongak melihat jam dinding yang ada di pintu masuk kantin. Kurang lima belas menit lagi, batinnya.             Melihat Vinay yang mendongak menatap jam dinding lantas membuat Levi kembali mendesak cewek itu. “Jadi kenapa kamu pakai parfum cowok?” ulangnya.             “Ini sebenarnya parfum yang pengen aku kasih cowokku,” Vinay mulai bercerita. Dan tepat saat ia bercerita, bayangan-bayangan itu kembali memenuhi kepalanya. Mencengkeram hatinya. “Mandala pernah bilang kalau dia suka aroma cendana,” gumam Vinay. “Harusnya aku kasih parfum ini buat hadiah ulang tahunnya. Tapi dia naik gunung dan belum pulang sampai sekarang. Karena terlanjur kesel jadi aku pakai aja sekalian. Salah sendiri kenapa dia nggak pulang-pulang!” Vinay berujar dengan menyalahkan.             Ini semua salah Mandala. Salah Mandala kenapa tak kunjung pulang padanya. “Dia yang salah, kan?” tanya Vinay meminta persetujuan. Levi mengangguk, “Ya dia yang salah, diakan cowok, kamu cewek. Kemana-mana pasti yang salah cowok.” “Kok kesel ya?” Levi tertawa, “terus-terus?” “Nanti kalau dia pulang, aku bakalan kasih botol kosongnya aja,” Vinay tersenyum kecil. Ia membayangkan wajah sebal Mandala jika ia benar-benar melakukan hal itu. Mandala pasti sangat kesal.             “Dia naik gunung apa?” tanya Levi saat ia melihat senyum Vinay.             “Awalnya dia naik gunung Lawu, lalu ia memutuskan melakukan ekspedisi. Dia suka banget sama gunung, dia keren kan?” Vinay menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum manis. “Tapi aku jadi sedih, karena nggak bisa ngucapin selamat ulang tahun langsung ke dia,” lanjutnya sembari membuang muka. “Kalau dia bisa pulang lagi, aku pengen ngucapin selamat ulang tahun sambil peluk dia,” gumam Vinay bersamaan dengan bel sekolah yang berbunyi nyaring.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN