Chapter 11

1310 Kata
DONGENG [Aku tak bisa berhenti mendongengkan dirimu.] ***             “Pagi Vin, pagi Lev!” Inka menyapa dua orang yang tengah bermalas-malasan di atas mejanya. Inka meringis kecil saat Levi dan Vinay dengan kompak menjawab selamat pagi dengan nada lesu seakan tak memiliki gairah untuk hidup.             “Pagi baby Inka! Pagi baby Vinay, dan pagi sebelahnya baby Vinay!” Kini Naya datang dengan semangat paginya. Cewek dengan rambut yang dikuncir kuda itu memandang Inka dengan tatapan bertanya saat Levi dan Vinay menjawab ucapan selamat paginya hampir seperti gumamam. “Mereka berdua kenapa?” bisik Naya sembari meletakkan tasnya di meja. Begitupun dengan Inka.             “Nggak tau, pas aku dateng udah kayak gitu,” sahutnya. Ia kini membalikkan tubuhnya menyamping. Menatap kearah Levi yang menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan. Ada apa dengannya?             Naya juga membalikkan tubuhnya. Seolah sudah menjadi kebiasan, Naya kini memainkan tangannya di atas rambut Vinay yang lembut dan halus. Ia kini malah terlihat seperti seorang Ibu yang tengah menina-bobo kan anaknya. “Vinay udah sarapan?” tanya Naya dengan lembut.             “Hmm,” jawab Vinay menggumam.             “Sudah apa belum?” tanya Naya dengan sabar.             “Belum,” Naya menolehkan kepalanya dengan cepat kearah Levi yang baru saja menjawab. “Belum Nay,” ulang Levi yang kini mengangkat kepalanya.             Naya melirik Levi kesal, “Aku nggak tanya sama kamu. Aku tanyanya ke Vinay!”             “Eh, marmut. Udah makan belum? Kalau belum beli makan ke kantin gih, aku nitip!” ujar Levi seenaknya. Seperti biasa, Levi berucap sembari menyenggol-nyenggol lengan Vinay.             “Ogah! Kamu aja sana yang pergi, aku yang nitip!” Vinay mengangkat kepalanya dan menatap Levi dengan sebal.             “Suit?” tawar Levi mengangkat tangan kanannya.             Vinay menegakkan tubuhnya dan mulai menghitung. “Satu, dua, tiga!” Ia terdiam sejenak, menatap Levi dengan alis yang terangkat tinggi. “Suit jepang Lev!”             “Kitakan orang Indonesia!”             “Tapi aku lebih suka gunting, kertas, batu!” kata Vinay keras kepala.             “Aku lebih suka orang, gajah, semut!” Levi menjawab dengan kekeras kepalaan yang sama.             “Biasanya aku kalau sama Manda suit Jepang!” Vinay berujar dengan gemas. Kenapa Levi tidak mengikuti keinginannya, sih? Padahal inikan cuma suit! Vinay menggerutu dalam hati. Ia sendiri tidak sadar jika sesungguhnya hal itu juga berlaku padanya.             “Inikan lagi sama aku!”             “Intruksi!” sela Naya dengan cepat. Kali ini Naya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan dua sejoli yang duduk di tempat paling bontot itu. Sendari tadi Naya berdoa jahat agar ada cupid lewat dan dengan iseng menjodohkan mereka berdua. Amiin!             “Apaan?” tanya Vinay melihat kelakuan aneh temannya. “Memangnya ini sedang sidang pleno apa! Pakai instruksi segala!”             “Aku mau kasih saran, daripada kalian berdua ribut. Gimana kalau kalian hompimpah aja?”             “Hompimpah butuh lebih dari dua orang Naya sayang,” Inka menyahut dengan sabar.             “Yaudah, tambahin kamu biar jadi tiga,” ujarnya santai.             Inka menunjuk dirinya sendiri, “Kenapa aku jadi ikut-ikutan?”             Vinay mengangkat tasnya dengan gesit, guna menutupi samping wajahnya dari Levi yang menatap cewek itu aneh. Vinay lalu berucap dengan geture mulut tanpa suara. “Ikutan aja, kali aja kamu bisa ke kantin sama curut. Kan bisa buat ajang pendekatan.”             Inka menahan senyumnya agar Levi yang jelas sedang menatapnya tidak curiga. Sedangkan Naya hanya menyangga dagunya melihat kelakuan teman-temannya. Sesungguhnya Naya adalah pendukung Levi dan Vinay. Ia adalah sahabat Vinay sejak SMP, dan ia tahu betul bagaimana bahagianya Vinay saat jatuh cinta, sekaligus terpuruknya gadis itu saat kehilangan cintanya. Naya juga tahu jika Vinay seringkali datang ke sekolah dengan mata sembab yang berusaha keras ia tutupi. Tapi Naya tahu, jika Vinay datang sangat pagi, itu berarti semalam cewek itu menangis lagi.             “Kalian lagi sekongkol buat bikin aku kalah ya?!” tuduh Levi pada dua orang yang kini sudah berhenti berinteraksi rahasia.             “Enggak!” jawab Vinay cepat.             “Kita nggak lagi negerencanain apapun,” imbuh Inka dengan gugup.             Levi menyipitkan matanya dan terang-terangan menatap dua orang itu dengan curiga. “Kalau gitu yang ke kantin dua orang. Kalau kalian sekongkol kan kalian ya kalah,” kata Levi yang langsung disepakati oleh Vinay. “Oke!” jawabnya. Sejujurnya Vinay tadi sudah akan mengajukan peraturan itu. Tapi Levi dengan bodohnya mengajukannya sendiri. Hah, dasar bodoh! “Mulai ya, hompimpah alaium gambreng!” Mereka bertiga berucap bebarengan. Vinay membuka mulutnya lebar. Hah, dasar bodoh! Kali ini ia harus menelan umpatannya sendiri. Ia lalu menoleh tak senang kearah Levi yang kini mendesah tidak senang. Lalu mengalihkan pandangannya kearah Inka yang menatapnya kecewa. Vinay meringis dan berucap maaf tanpa suara. Hal ini diluar perkiraannya. Ia tidak tahu jika akan seapes ini. Padahal ia tadi sudah positive thingking dengan harapan akan berhasil. “Ulang yuk?” saran Vinay yang dibalas gelengan keras oleh Naya. “Nggak bisa! Udah pergi sana! Lagian yang belum makan kan kalian berdua, kenapa kita ikutan ribet!” cerocos Naya yang baru menyadari fakta itu. “Maleees,” gumam Vinay yang kembali menelungkupkan kepalanya. “Anak perawan nggak boleh males!” Naya berkata bagaikan emak-emak yang memarahi anak gadisnya. “Ayo marmut! Keburu bel nanti!” Levi berdiri dari duduknya. Menarik kerah belakang Vinay agar cewek itu berdiri mengikutinya. “Kalian nyebeliiiiin!” maki Vinay terakhir kalinya sebelum berdiri dengan pasrah. Mengikuti langkah Levi yang berjalan mendahuluinya. Vinay berjalan dengan langkah pelan tanpa ada niatan untuk mendahului atau berjalan sejajar dengan Levi. Manik matanya tanpa sadar mengamati bagaimana Levi berjalan dengan tenang, dan bahu lebar Levi mengingatkannya pada bahu Mandala yang mungkin sama lebarnya. Vinay mengernyit saat perlahan-lahan ia merasa langkah kaki Levi semakin pelan. Hingga pada akhirnya berhenti. Vinay otomatis melakukan hal yang sama. Cewek itu berhenti dengan jarak yang tak berubah sejak mereka meninggalkan kelas. “Kenapa berhenti?” tanya Vinay pada Levi yang masih senantiasa memunggunginya. Levi lalu berbalik, menatap Vinay dalam kurun waktu beberapa detik sebelum menghela napas. “Kamu juga kenapa berhenti?” “Ya soalnya kamu berhenti, jadi aku ikut berhenti. Kenapa berhenti?” Vinay mengulang pertanyaannya. “Agar kamu bisa jalan di sampingku,” tutur Levi yang sejenak membuat Vinay tercenung. Tanpa banyak bertanya lagi, Vinay melangkahkan kaki lebar dan berhenti tepat di samping Levi.             “Terus, abis ini kita ngapain?” tanya Vinay tanpa menoleh kearah Levi. Ia kini sibuk mengedarkan pandangannya kearah beberapa orang yang berlalu lalang menuju kelasnya masing-masing.             “Maju jalan!” ucap Levi yang dibalas gelak tawa ringan oleh Vinay. Untung saja Levi tidak berteriak saat mengucapkan hal itu. “Kamu kok freak banget sih Lev,” canda Vinay masih dengan tawa ringannya. “Misiku di dunia ini adalah menciptakan kebahagiaan,” jawab Levi aneh tapi penuh percaya diri. “Dih, kebahagiaan apaan? Aku bawaannya kesel mulu kalau deket kamu! Dasar curut alien aneh!” Vinay berucap penuh dengan protes. Bahkan, kalau ada kertas dan pulpen mungkin Vinay akan melakukan protes dengan mengangkat kertas bertuliskan kebahagiaan gundulmu! tinggi-tingi.             “Setidaknya, kesel lebih sedikit sakitnya daripada sedih kan?” sahut Levi. “Kamu lebih milih kesel atau sedih?” Levi berhenti di depan Vinay. Membuat cewek itu tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal yang sama, berhenti.             “Kalau bisa milih, mungkin aku lebih milih kesel. Tapi, nyatanya kita nggak bisa milih perasaan kita, kan? Semua itu datang tiba-tiba,” Vinay menjawab pelan.             “Kita emang nggak bisa milih, tapi kita bisa memperbaiki. Jadi, kalo kamu pengen memperbaiki suasana hati kamu dari sedih ke kesel. Kamu tau siapa yang harus dihubungi.” Levi kembali membalikkan badannya dan berjalan diikuti Vinay yang mencoba menyetarakan langkahnya.             “Aku harus hubungin kamu, gitu?” tanya Vinay yang kemudian berteriak kesal karena Levi mengacak rambutnya.             “Hubungin pacar kamu lah,” jawabnya.             Vinay terdiam sambil membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. “Kalau nggak bisa?” gumannya setengah menggumam.             “Kalau nggak bisa, baru kamu hubungin sang penyebar kebahagiaan.”             Vinay berdecih sambil menahan tawanya, “Siapa? Kamu? Dih!”             “Bukan, tapi Pak Sodiq. Masih tanya lagi! Iyalah!” sahut Levi tidak santai. Pertanyaan Vinay sebelumnya membuat suasana romantis diantara mereka langsung lenyap. Tunggu dulu! Buat apa juga dirinya mencoba membuat suasana romantis?! Dih!             “Biasa aja dong jawabnya, aku kan cuma memastikan!” Vinay membela dirinya sendiri. Cewek itu kini dengan kesal berusaha menjegal kaki Levi tapi tidak kunjung berhasil karena Levi dengan mudah berkelit.             Mereka lalu sampai  di kantin dengan sesekali Vinay berusaha menjegal kaki Levi yang begitu lincah meloncat-loncat. Tak ada banyak siswa di kantin sekolah. Tempat yang berisikan meja dan kursi-kursi plastik itu nampak lenggang. Berbeda sekali dengan keadaan yang biasanya begitu ramai terlebih pada saat jam makan siang. Kadang kala Vinay bahkan harus mengantri hanya untuk mendapatkan tempat duduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN