๐ฒ๐พ๐ป๐พ๐
๐๐ ๐ฒ๐พ๐๐บ๐
๐บ๐๐๐บ ๐ก๐พ๐๐๐ป๐บ๐
Hujan jatuh perlahan di luar jendela, meninggalkan jejak air yang merayap di kaca seperti garis-garis tipis yang tidak beraturan. Malam ini terasa sangat sunyi, hanya suara rintik hujan yang menemani.
Raka berdiri di balkon, bersandar pada pagar besi, menatap jalanan yang basah oleh hujan. Tangannya memegang secangkir kopi yang sudah hampir dingin, tapi pikirannya entah melayang ke mana.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang pelan dari dalam kamar.
"Kamu di sini ternyata,โ kata perempuan itu.
Suara itu lembut dan akrab, membuat Raka menoleh. Ada senyum tipis di wajahnya ketika melihat perempuan itu berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi, mengenakan baju tidur sederhana yang justru membuatnya tampak semakin hangat.
"Belum tidur?โ tanya Raka pelan.
Perempuan itu menggelengkan kepala, lalu berjalan mendekati Raka. Ia berdiri di sampingnya dan ikut memandang hujan yang turun dari langit.
"Hujan ini membuat udara terasa dingin,โ katanya dengan suara pelan.
Raka tidak banyak berkata, ia meletakkan cangkirnya dan meraih bahu perempuan itu, menariknya sedikit lebih dekat ke arahnya. Gerakan itu tampak sederhana, tapi penuh dengan kehangatan dan kesan yang sudah familiar, seolah-olah mereka sudah terbiasa melakukan hal seperti itu.
Perempuan itu memiringkan kepala ke bahu Raka.
Beberapa saat mereka terdiam, hanya suara hujan yang terdengar.
"Kamu lelah hari ini?โ tanya Raka pelan.
"Lumayan... tapi sekarang sudah tidak terlalu,โ jawabnya dengan suara lembut.
Raka tersenyum sedikit. Ia menoleh dan menatap wajah di sampingnya lebih lama dari biasanya. Tatapannya lembut dan dalam, seolah ingin memastikan bahwa momen ini nyata.
Tangannya terangkat, menyingkirkan sedikit rambut yang jatuh di dekat pipi perempuan itu.
"Kamu tahu nggak,โ kata Raka dengan pelan, โaku paling suka malam seperti ini."
"Kenapa?โ tanyanya.
"Karena rasanya dunia menjadi lebih lambatโฆ dan aku bisa lebih lama bersama kamu,โ jawabnya.
Perempuan itu tersenyum tipis, tapi matanya terlihat hangat. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tangan Raka, jemarinya menyelinap di antara jemari laki-laki itu.
Hujan semakin deras turun.
Angin malam membawa mereka kembali ke dalam kamar. Lampu utama sudah mati, hanya lampu tidur yang masih menyala lembut, membuat suasana terasa tenang dan akrab.
Raka duduk di tepi tempat tidur, lalu menarik perempuan itu perlahan hingga duduk di sampingnya. Kini jarak di antara mereka hampir tidak ada.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?โ tanya perempuan itu dengan suara lembut, sedikit merasa tidak nyaman.
"Karena aku ingin,โ jawab Raka dengan nada santai.
Jawaban sederhana itu membuat perempuan itu tertawa kecil.
Raka lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut, kemudian menariknya ke dalam pelukan. Suasana terasa hangat dan tenang. Detak jantung yang terasa dekat membuat semuanya terasa semakin sunyi, tapi ini bukan sunyi yang kosongโini sunyi yang penuh dengan perasaan.
Perempuan itu memejamkan mata dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Raka mengecup keningnya dengan lembut, lama, seolah menyimpan sesuatu di sana. Malam berjalan pelan setelah itu, dan lampu tidur akhirnya dipadamkan. Yang tersisa hanyalah suara hujan di luar dan kehangatan yang mereka bagi dalam diam.
Di saat itu, mereka tidak memikirkan apa pun selain satu hal sederhana: bahwa mereka masih memiliki satu sama lain. Raka masih sama seperti dulu, lembut dan romantis. Sepertinya, dunia di luar sana belum pernah menyentuhnya dengan keras.
Namun, jauh di dalam dirinya, sesuatu sedang bergerak perlahan. Sesuatu yang kelak akan mengubah banyak hal. Tapi malam itu, belum terjadi apa pun. Semua masih sama, dan mereka hanya menikmati kehangatan bersama.
Raka terbangun entah pukul berapa.
Suara hujan masih terdengar, tapi sudah jauh lebih pelan, seperti hanya sisa dari badai yang tadi mengamuk. Kamar gelap, hanya sedikit cahaya dari luar jendela yang menyusup masuk.
Ia tidak langsung bergerak.
Lengan perempuan itu masih menggulung di pinggangnya, napasnya stabil, hangat, dan damai. Wajahnya terlihat sangat tenang saat tidur, seolah tidak ada masalah di dunia yang bisa ganggu.
Raka menatapnya lama sekali.
Di dadanya, ada perasaan hangat yang muncul... tapi sekaligus ada juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang bikin dadanya terasa berat.
Dengan pelan dan sangat hati-hati, Raka melepaskan tangan itu dari tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Kasur bergerak sedikit, tapi perempuan itu cuma berbicara pelan, lalu tidur lagi.
Raka bangun dan menuju ke meja kecil dekat jendela. Ponselnya ada di sana, tergeletak begitu saja.
Layarnya langsung menyala saat ia mengangkatnya.
Ada satu notifikasi muncul.
Raka diam sejenak, lalu membukanya. Wajahnya berubah - bukan terkejut, bukan marah... tapi seperti orang yang sudah tahu, tapi tetap merasa tidak siap.
Ia menghela napas panjang, lalu mematikan layar tanpa membalas pesan itu.
Di luar, hujan sudah berhenti. Jalanan basah mengkilap dengan cahaya lampu yang redup. Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Raka menyandarkan tangannya ke jendela, lalu menunduk dan memejamkan mata sebentar.
"Kenapaโฆโ katanya pelan, hampir tak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.
Ia merasa ada banyak hal yang ingin ia abaikan.
Ia juga merasa ada banyak hal yang ingin ia lupakan.
Tapi beberapa hal tidak pernah benar-benar pergi.
Raka kembali menoleh ke arah ranjang, perempuan itu masih tidur dengan posisi tubuhnya sedikit meringkuk, seperti mencari kehangatan yang tadi sempat hilang.
Raka berjalan mendekat lagi, lalu menarik selimut sedikit lebih tinggi dan menutup bahunya dengan lembut, sebuah gerakan kecil yang begitu otomatis dan penuh kebiasaan.
Tangannya diam sejenak di atas selimut.
Matanya memandang wajah yang paling ia kenal.
"Aku masih di siniโฆโ bisiknya pelan, mungkin untuk dirinya sendiri.
Kemudian ia berbaring lagi, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Matanya terbuka cukup lama sebelum akhirnya tertutup, bukan karena mengantuk, tapi karena ia lelah memikirkan semuanya.
Malam itu berlalu tanpa jawaban.
Hanya menyisakan satu hal yang perlahan munculโ sesuatu yang belum terlihat sekarang, tapi perlahan mulai retak di dalam hati Raka.
Pagi datang dengan diam-diam.
Cahaya matahari yang lembut masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah perempuan yang masih tidur. Raka sudah bangun duluan. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu memalingkan wajahnya ke samping.
Rasa bersalah yang samar muncul, tapi ia tidak tahu apa yang menyebabkannya.
Ia bangun perlahan, tidak menyentuh ponselnya lagi. Ia pergi ke kamar mandi, membiarkan air dingin menyentuh wajahnya lebih lama dari biasanya. Seolah ingin menenangkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Saat ia keluar, perempuan itu sudah duduk di ranjang, rambutnya berantakan, wajahnya masih mengantuk.
โKamu bangun duluan?โ tanyanya pelan.
โIya,โ jawab Raka singkat, lalu tersenyum seperti biasa.
Senyum yang sama. Nada suara yang sama. Tidak ada yang berubah.
Perempuan itu turun dari ranjang dan mendekat. Tanpa banyak kata, ia memeluk Raka dari belakang.
โJangan lupa pulang cepat nanti,โ ucapnya lembut.
Raka terdiam sebentar sebelum menjawab, โIya.โ
Ponselnya bergetar lagi.
Raka melirik sekilas, lalu membiarkannya.
Ia hanya berdiri di sana, menimbang sesuatu dalam diam. Lalu ia meraih ponsel itu dan memasukkannya ke saku tanpa membuka layar.
Di meja makan, semuanya terasa normal. Mereka berbicara tentang pekerjaan, rencana akhir pekan, dan hal-hal kecil lainnya.
Tidak ada kecurigaan. Tidak ada bayangan gelap.
Hanya dua orang yang percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati apa pun.
Sebelum berangkat, Raka mengecup kening istrinya seperti biasa.
Hangat. Tulus. Tanpa keraguan.
Saat ia melangkah keluar rumah, langkahnya terhenti sejenak.
Ia menghela napas dalam.
Beberapa hal belum terjadi.
Beberapa batas belum dilewati.
Tapi kadang, semuanya dimulai dari satu pesan yang tidak dihapus.
Dan satu perasaan yang tidak benar-benar ditepis.
TO BE CONTINUED