Saveri tak menjawab sepatah katapun karena tak ingin mengacaukan lebih jauh lagi suasana hati Madilyn. Dia menunggu dengan tenang kata-kata berikutnya yang ingin diucapkan oleh perempuan itu. Entah kenapa dia yakin kalau kata-kata yang akan didengarnya berikutnya adalah kata-kata yang ingin diungkapkan oleh Madilyn padanya setelah sekian lama. “Kamu pikir mudah bagiku melupakanmu selama sepuluh tahun ini? Jawabannya tidak. Kamu pikir apa tujuanku pulang ke Indonesia lalu meninggalkan negaraku lagi untuk yang kesekian kali dan bahkan di kepergianku yang kedua kali aku meninggalkan negara ini lebih lama dari sebelumnya? Tujuanku untuk melupakan kamu. Ketika sekarang aku sudah mulai berhasil melupakanmu, tiba-tiba kamu hadir di hadapanku dan bertingkah seolah tidak pernah melakukan hal buru

