Alsen terjaga sepanjang malam, sampai waktu jam makan siang pun dia masih setia berada di sisi kasur Kania. Alsen menggenggam tangan Kania, sangat erat, takut sekali jika setelah ini Kania akan meninggalkannya. Alsen tidak bisa hidupnya tanpa Kania, sungguh, akan berat sekali menjalaninya. Untuk kesekian kali, Alsen mengusap air mata yang jatuh, sakit sekali rasanya. Sejak semalam, setelah menerima kabar dari dokter. Hidup Alsen terguncang hebat, Kania dinyatakan keguguran, bayi mereka luruh dalam gumpalan darah. Dari pernyataan dokter, Kania mengalami benturan yang sangat keras. Alsen yakin, salah seorang dari Gio telah menendang perut istrinya, atau bahkan Gio sendiri yang melakukannya. Alsen tidak akan memaafkan, ketika keadaan membaik dia akan kembali mendatangi Gio untuk membalas se

