Alsen melangkah lebar memasuki wilayah markas si peneror yang sepanjang perjalanan tadi habis dihadiahi oleh Alsen umpatan sekebun binatang. Alsen kesal, dia tidak akan tinggal dia sampai Kanianya kenapa-kenapa. Kenapa harus istrinya? Kalau dendam kepadanya, cukup bersaing secara sehat. Namun apalah daya, setiap kepala memiliki pemikiran yang amat sangat berbeda. Jika Alsen masih bisa berbaik hati dan berpikir sehat, orang lain belum tentu. Beginilah contohnya, sial sekali! "Alsen, sabar!" Elvano menghentikan gerakan Alsen yang nampak terburu-buru. Elvano sampai kewalahan menasehatinya. Elvano tahu jika putranya tersebut sedang murka karena peneror itu mengambil langkah menculik Kania--berurusan dengan istri Alsen. Di dalam sana masih senyap, tidak ada keributan sedikit pun. "Kamu lihat,

