Alsen duduk di pinggiran kasur gelisah. Dia menunggu Kania selesai mandi, tetapi sudah hampir setengah jam belum beres juga. Sebenarnya Kania sedang apa di dalam sana, keran air tidak berhenti mengalir sejak tadi pertanda ada banyak hal yang dia lakukan. Alsen sudah mengecek pekerjaannya, membaca majalah, mengecek sosial media dirinya. Nihil, Kania belum juga berniat menampakkan batang hidungnya. Mandi atau bersemedi di dalam sana? Apa tidak kurang lama lagi? Sungguh, Alsen bosan sekali menunggu. Dia bukan tipe pria penyabar layaknya di film-film romance. Kadang dia bisa saja merajuk, itu adalah hal yang wajar dan normal bukan? "Nia, Sayang ... kamu baik-baik aja kan di dalam? Kok bisa main kunci-kuncian gini sih pintunya, nggak seru jadinya." Alsen mengeluh sedih. Dia mengetuk sekali la

