Alsen dan Kania baru saja memeriksakan buah hati mereka yang memang benar sudah bersemayan di perut Kania, usianya baru tiga minggu, sangat sangat kecil sekali tetapi sudah membawa banyak kebahagiaan dalam keluarga. Semua orang menyambut kedatangan Kania, memeluk sambil mengucapkan puji syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan kembali kepercayaan kepada Alsen dan Kania memiliki seorang bayi. Elvano memukul pelan bahu besar Alsen. "Mantap ya tembakannya, bisa langsung jadi gitu," sindirnya terang-terangan sambil mengulum senyum jahil. Dia tidak menyangka bibit Alsen akan semenakjubkan ini, luar biasa sekali. "Tentulah. Orang bikinnya setiap saat." Alsen tertawa lepas. Tidak ada malu berkata begitu di hadapan sang ayah, dia malah membuat lelucon baru. "Jangan kaget, orang aku belajar

