Kania menusuk-nusuk lengan Alsen manja. Dua bergelayut agar sang suami mau menuruti kemauannya. "Ayolah, Sayang." Rajunya untuk kesekian kali. Alsen masih datar wajahnya, tidak setuju dengan ide Kania. Dia tidak jago dalam bidang itu, mana bisa? Kania mencebikkan bibir, berpura-pura marah kepada pria itu. "Aku mogok bicara lagi ya sama kamu. Bodo amatlah nanti baikannya gimana lagi. Kamu sih resek, buat aku kesal aja." Alsen menghela napasnya panjang. Dia menatap Kania dulu beberapa saat. Baru kemudian beranjak dari tempat duduknya dengan wajah memelas. Kalau bukan Kania yang memintanya, dia tidak akan pernah mau mengiyakannya. Tidak akan! "Mau, Sayang?" tanya Kania lagi memastikan. Senyumnya sudah melebar sempurna penuh pengharapan kepada Alsen agar dia menjawab 'iya', kalau tidak ...

