Delwish mengetukkan ujung kakinya berulang kali pada lantai, menandakan bahwa ia merasa bosan karena menunggu lift yang tidak kunjung datang. Sudah dua menit ia menunggu lift, namun terasa sangat lama sekali baginya, membuat dirinya tidak sabar dan bosan di depan lift.
"Solustima terlalu tinggi, liftnya jadi sangat lama untuk tiba di lantai satu," gumam Delwish.
Sesekali Delwish melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Menampilkan sosok pria yang ia kenal di dalamnya. Pria itu terlihat memejamkan matanya dengan kedua tangan yang menyilang di depan dadanya.
Delwish masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di samping pria itu. Tidak lupa ia menekan tombol 22, tempat ruang kerjanya.
"Ehm!" Delwish berdehem cukup keras untuk membangunkan pria itu.
Pria itu bahkan tidak bergeming. Ia tampak terjaga dalam tidurnya dan sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Delwish di dalam lift.
"Hey, bangun." Delwish menusuk-nusukan jari telunjuknya ke pinggang pria itu.
"Eh!" pekik pria itu.
"Wajahmu seperti bantal, Beth. Aku tidak mengerti mengapa kau menjadi pecandu tidur, bahkan di dalam lift sekalipun," cibir Delwish.
Abeth mengusap matanya dengan jari-jarinya dan berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia melirik ke arah Delwish dan matanya membesar seketika, kesadarannya terkumpul dalam beberapa saat.
Ia menatap dirinya ke arah dinding lift yang dapat memantulkan dirinya, karena lapisan dinding lift itu terbuat dari cermin. Ia berusaha merapihkan rambutnya yang terlihat berantakan, dan sesekali meniup telapak tangannya lalu ia usapkan pada rambutnya, berharap bahwa rambut itu terlihat rapi saat ia melakukan hal itu.
"Beth." Delwish menepuk bahu Abeth, sehingga kini Abeth berbalik badan menghadap Delwish.
Delwish tersenyum melihat wajah Abeth yang terlihat panik karena ketahuan tertidur di dalam lift. Delwish segera merapihkan rambut Abeth dengan bantuan kedua tangannya.
"Terima kasih," ujar Abeth.
"Tidak masalah."
"Tadi malam aku terlalu asik bermain video game, sehingga tertidur di dalam lift seperti ini," ujar Abeth terkekeh.
Delwish menganggukan kepalanya, "Ah kau seorang pecandu video game."
Abeth menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar-benar merasa malu saat ini. Bahkan ia baru ingat bahwa dirinya sama sekali belum mandi sejak kemarin sore. Ia berangkat terburu-buru ke Solustima dengan mengandalkan parfum yang dibelikan oleh Grey.
"Del," panggil Abeth.
"Iya?"
"Apa kau nanti sore ada acara?"
"Aku rasa tidak, ada apa?"
"Apa kau mau menemaniku makan malam?" tawar Abeth.
Delwish menganggukan kepalanya lagi, menandakan bahwa ia menyetujui ajakan makan malam Abeth.
Segaris senyuman terukir dari bibir Abeth. Ia tidak menyangka jika ajakannya dapat diterima secepat itu oleh Delwish.
Ting!
Pintu lift terbuka, menandakan bahwa lantai yang dituju oleh Delwish sudah tiba, "Aku duluan ya, Beth."
"Aku tunggu pukul lima sore, di cafe Solustima, oke?"
"Siap," jawab Delwish lalu pergi meninggalkan Abeth yang masih tersenyum sendirian di dalam lift.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Abeth tadi pagi. Mereka kini berada di sebuah restaurant yang tidak jauh dari Solustima. Restaurant ini bernama Noodle Resto, terkenal dengan olahan mie nya yang cukup lezat, membuat siapapun yang mencium aroma kaldunya, akan terasa lapar dan ketagihan saat mencicipi suapan pertama.
Delwish dan Abeth duduk di lantai empat, tepat di ujung ruangan yang hanya dilapisi oleh kaca, sehingga pemandangan malam kota Skyrothgar dapat terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu yang berasal dari toko lain dan kendaraan, membuat kesan tersendiri bagi penikmat cahaya malam.
"Kau menyukainya?" tanya Abeth.
"Tentu."
Seorang pelayan datang ke meja mereka dan meletakkan dua mangkuk mie beserta dengan minuman yang sudah mereka pesan.
"Selamat menikmati," ujar pelayan itu, lalu pergi meninggalkan meja Abeth dan Delwish.
Delwish dan Abeth baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Keduanya tampak begitu lahap menikmati sajian dari restaurant itu.
"Del," panggil Abeth.
"Ya?"
"Lihatlah perempuan di sana, bukankah itu Dior?" tanya Abeth memastikan bahwa perempuan yang ia lihat adalah Dior.
Dior duduk bersama seorang pria yang terlihat jauh lebih muda darinya. Mereka duduk tidak jauh dari meja Abeth dan Delwish. Abeth sedari awal memang melihat Dior, namun ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Kecurigaannya semakin bertambah, saat Dior menyampirkan rambut panjangnya yang tergerai, ke bahu kanannya.
"Aku rasa itu Dior," jawab Delwish.
"Sedang apa dia disana? Dan, mengapa dia dengan laki-laki lain? Kenapa bukan dengan Ayahku, Del?" wajah Abeth seketika memerah menahan amarah.
Abeth beranjak dari kursinya dan menghampiri meja Dior dan juga laki-laki itu.
"Abeth!" panggil Delwish, berusaha menghentikan Abeth, namun usahanya sia-sia karena Abeth tetap melangkahkan kakinya ke Dior.
"Dior!" panggil Abeth cukup keras.
Pengunjung yang berada di sana, terlihat menatap Abeth.
"Abeth?" Dior bangkit dari duduknya dan menyentuh bahu Abeth.
"Sudah aku duga, kau bukan perempuan baik-baik. Kau menikah dengan Ayahku hanya karena harta dan jabatannya. Kau tidak mencintainya. Aku bahkan tidak mengetahui latar belakangmu. Aku awalnya menerimamu, tapi aku salah," ujar Abeth.
"Beth, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Dior berusaha menenangkan Abeth, namun usahanya nihil.
"Abeth, cukup." Delwish menghampiri Abeth dan ikut menenangkannya.
"Richard?" ujar Delwish.
Pria yang duduk di hadapan Dior kini menatap Delwish dan Abeth. Awalnya pria itu menundukan kepalanya, namun Delwish sangat mengenali Richard, terlebih jaket denim yang ia gunakan, adalah jaket sehari-hari yang selalu Richard gunakan saat di Midgard.
"Kau selingkuhannya atau kau suaminya?!" Abeth menarik kerah Richard hingga Richard bangkit dari duduknya.
"Kurang ajar!"
Buk!
Satu pukulan berhasil mendarat di pipi Richard. Richard jatuh tersungkur akibat pukulan Abeth tadi. Dior segera membantu Richard berdiri, ia mengusap bahu Richard berkali-kali untuk menenangkan Richard.
"Sudah, cukup," ujar Dior pelan.
"Ayo kita pergi." Richard menarik tangan Dior tanpa mengucapkan satu kata pun pada Delwish dan juga Abeth.
"Akan aku beritahu pada Ayahku bahwa kau adalah w***********g!" teriak Abeth.
"Beth, sudah cukup. Kau hanya membuat orang-orang menatap ke arahmu," ujar Delwish.
Nafas Abeth terdengar kasar, ia menahan emosinya. Bahkan wajahnya terlihat memerah.
Abeth mengantarkan Delwish menuju rumahnya. Rencana Abeth untuk mengajak Delwish makan malam indah, berantakan. Ia terbakar oleh emosinya sendiri dan tidak bisa mengontrol dengan baik.
Richard adalah teman sekamarnya yang menurutnya sangat baik, namun Abeth tidak menyangka bahwa Richard tega melakukan perselingkuhan pada seorang perempuan yang kini sudah berstatus sebagai Ibu Tirinya.
Beep!
Inrichter Delwish berbunyi, menandakan sebuah pesan baru saja masuk.
"Beth, turunkan aku disini, aku ada perlu," ujar Delwish.
"Aku akan mengantarkanmu sampai rumah, Del."
"Tidak perlu, Beth. Tolong turunkan aku disini, sekarang," pinta Delwish dengan sedikit memaksa.
Abeth langsung menepikan mobilnya.
"Terima kasih atas makan malamnya, maaf kau tidak bisa mengantarku hingga ke rumah. Lain kali kita akan memiliki makan malam yang lebih baik lagi. Aku pergi dulu." Delwish keluar dari mobil Abeth dan segera berlarian di antara kerumunan orang-orang yang berjalan kaki.
"Ada apa dengannya?" gumam Abeth.
"Kau bodoh, Beth! Kau menghancurkan makan malam dengan Delwish!" Abeth mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan emosinya, dan kini, Delwish pergi meninggalkannya tanpa ia tahu, kemana Delwish pergi dan apa yang terjadi sehingga Delwish meminta berhenti di tepi jalan tanpa alasan yang jelas.