[14] Midgard Class

1842 Kata
Shooting Class 08.00 AM Para murid terlihat berbaris di depan sebuah gedung untuk mengantri masuk dan mendapatkan seragam baru mereka, untuk kelas shooting hari ini. Matahari sudah cukup tinggi, terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk memulai pembelajaran pertama yang akan mereka terima. Pada seragam mereka, sudah tertera nama lengkap mereka. Seragam mereka berlapiskan kulit berwarna hitam yang mengkilap. Lapisannya cukup tebal, terutama pada bagian d**a. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kemungkinan tertembak saat latihan shooting. Mereka tidak perlu membawa buku atau alat tulis apapun, karena kelas shooting hanya akan mengajarkan cara menggunakan s*****a yang baik dan benar. Setelah mendapatkan seragam baru merka, para murid diarahkan menuju ruang ganti. Mereka bisa menemukan tiap laci berwarna putih yang sudah ada nama mereka, lengkap dengan nomor lacinya. Di sebelah kanan ruangan itu, terdapat kamar mandi, tempat mereka untuk membersihkan diri, jika merasa kotor dan berkeringat setelah berlatih shooting. Mereka diminta berganti pakaian, tepat di hadapan laci mereka masing-masing. Mereka tidak perlu merasa malu, karena semua orang di ruangan itu, mempunyai jenis kelamin yang sama satu sama lain, ruangan antara murid laki-laki pun dipisah dengan murid perempuan. Setelah mereka berganti pakaian, mereka langsung menuju ke ruang s*****a, untuk mengambil s*****a masing-masing, yang akan digunakan pada kelas shooting. "Del," panggil Abeth. "Ya?" "Ini s*****a untukmu." Abeth memberikan senapan berwarna hitam, tipe AK47 pada Delwish. Delwish memicingkan matanya melihat senapan itu. "Tidak, terima kasih. Aku akan menggunakan Dragunov SVD, karena itu lebih ringan daripada AK47, Beth." Delwish mengambil senapan yang ia maksud dan menolak pemberian dari Abeth. "Ah, baiklah. Aku rasa kamu lebih mengetahui berbagai tipe senapan karena kamu adalah anak Bangcox," ujar Abeth. "Tidak juga, aku hanya mengetahui beberapa. Aku hanya menyukai ini karena menurutku ini lebih ringan dan mudah digunakan. Mau mencobanya?" tawar Delwish. Abeth meletakan kedua senapan AK47 yang ia ambil pada posisi semula dan mengambil satu senapan Dragunov SVD, seperti yang Delwish pakai. "Ah, kau benar. Ini lebih ringan." Abeth menenteng senapan itu. "Hati-hati dalam menggunakannya, Beth," ujar Delwish. Delwish berjalan lebih dulu meninggalkan Abeth dan pergi menuju ruang utama untuk memulai pembelajarannya. Delwish sengaja mengambil kursi paling depan agar lebih bisa mendengar penjelasan dari Xogawl. "Baiklah, saya akan memulai pembelajaran pada hari ini. Apakah kalian sudah memegang senapan masing-masing?" tanya Xogawl. "Sudah," sahut mereka berbarengan. "Kita akan memulai latihan menggunakan senapan." Xogawl menjelaskan cara penggunaan senapan yang baik dan cara mengganti peluru dengan benar. Banyak orang yang salah dalam menggunakan senapan dan menganggap senapan adalah benda yang ringan. Senapan berbeda jauh dengan airsoft g*n. Mulai dari bentuk hingga jarak mencapai target. Senapan bisa digunakan dari jarak 200 meter hingga 1km. Ketepatan penembakan target 99,99%, sedangkan sisa dari 0,001% adalah kesalahan pengguna. Entah itu dari sudut kemiringan atau tata letaknya. Para murid mendengarkan penjelasan dari Xogawl dengan sangat fokus. Pandangan mereka sama sekali tidak teralihkan dari wajah Xogawl. "Kalau diperhatikan, Bu Xogawl, cantik ya, Xon," ujar Zero. "Kamu benar." Zero dan Axon terlihat menatap Xogawl dengan lekat dan serius. "Ternyata kalian menyukai wanita yang lebih tua, menyeramkan," ujar Jimy. Jimy mengusapkan tangannya pada sekitar bahu dan pahanya karena dibuat merinding saat menyadari tatapan mata Zero dan Axon. "Penggunaan senapan jauh lebih diminati oleh anggota MIF, karena senapan ini bisa ditembakkan dari jarak jauh tanpa diketahui oleh si target," jelas Xogawl. Xogawl, membuka secara terang-terangan bahwa dirinya berasal MIF. Hal ini sudah disetujui secara langsung oleh Horus. Beberapa bulan yang lalu, para anggota MIF mendapat izin untuk membuka identitasnya sebagai anggota MIF, terkecuali untuk orang yang bertindak dalam autopsi dan penanganan kasus-kasus di MIF. Sejak kecil, Xogawl sudah meminati MIF, dan ia mendapat nilai tertinggi pada kelas penjuruan Matildas Intelegencie Familia dan merupakan pengguna senapan terbaik saat di Midgard. "Yang paling penting, kalian harus lebih berhati-hati dalam latihan. Walaupun seragam yang kalian kenakan anti peluru, namun tetap saja, jika terluka, kalian akan mengeluarkan darah dan membutuhkan perawatan lebih dalam penyembuhannya." Xogawl menyudahi penjelasannya tentang senapan. Kelas benar-benar hening, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang terlihat mengobrol saat Xogawl memberikan penjelasan mengenai senapan yang akan mereka gunakan. "Apa ada yang ingin ditanyakan?" Jimy mengangkat tangannya ke atas. Seluruh mata menatap Jimy karena ia terlihat berani dan ingin memberikan pertanyaan pada Xogawl. "Ya, Jimy." "Saya ingin ke toilet." "Aku kira kau ingin bertanya." Zero melemparkan sapu tangannya pada kepala Jimy. Jimy terkekeh mendengar cibiran dari teman-temannya. Ia melihat Xogawl menahan tawa dan menganggukan kepalanya mengizinkan Jimy untuk pergi ke toilet. "Terima kasih, Bu." Jimy langsung bergegas menuju toilet dan mengabaikan orang-orang yang mulai ramai karena mengira Jimy akan bertanya pada Xogawl. Suara tembakan terdengar cukup keras di ruangan itu. Tidak ada hentinya suara itu menggema di sudut ruangan, seakan-akan suara tembakan itu saling bersahutan satu sama lain. Di ruangan itu terdapat setidaknya tiga puluh papan sasaran. Mereka harus menggunakannya secara bergantian. Seluruh mata terlihat sangat fokus dengan sasaran masing-masing. Mereka diberikan sekitar lima puluh peluru untuk latihan menembak. Delwish memilih papan bagian sudut dari ruangan. Matanya terfokus menatap sasarananya. Dor! Dor! Dor! Delwish menembak sasaran tanpa henti. Jika yang lainnya menembak sasaran satu persatu, lain halnya dengan Delwish. Ia menembak sekaligus dan seluruhnya mengenai sasarannya. Tepatnya, di lingkaran merah yang berada tepat di tengah papan itu. "Selesai," ujar Delwish. Delwish melepas kaca mata serta penutup telingannya. Ia mengedarkan pandangannya. "Ada apa?" tanya Delwish tanpa berdosa. Semua murid melihat ke arahnya dengan tatapan menakjubkan dan tidak percaya bahwa Delwish adalah penembak handal dan tampak sudah terbiasa menembaki sasaran itu. "Sepertinya kau sudah terbiasa menggunakan senapan, Del," ujar Faxel. Delwish menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Aduh, Delwish." Xogawl menepuk jidatnya melihat kelakuan Delwish. Delwish menganggap ini adalah pelajaran yang sangat mudah. Hampir seluruh pelajaran di Midgard ia kuasai dan sudah ia pelajari bersama dengan Xogawl. Jadi, tidak aneh jika ia telihat lihai dalam menggunakan senapan itu. Art Class 09.00 AM Para murid sudah duduk di kursi masing-masing dengan microfon di tangannya Mereka sedang mendengarkan arahan dari Leona mengenai teknik bernyanyi. Jika jadwal kemarin adalah kelas shooting, hari ini adalah jadwal mereka untuk kelas art. Jadwal pelajaran di Midgard, memang hanya akan memberikan satu kelas setiap harinya. Jadwal itu sudah disepakati sejak dulu, agar para murid di Midgard tidak cepat lelah dan memiliki waktu istirahat yang banyak. Kelas ini benar-benar diperuntukan bagi murid yang ingin meneruskan minatnya pada path Golden Entertainment, karena di kelas ini, para murid akan mempelajari teknik bernyanyi, memainkan alat musik, menjadi seorang reporter hingga kelas akting yang akan dipelajari di bulan terakhir. "Bagaimana, apa kalian mengerti?" tanya Leona. "Mengerti," sahut seluruh murid. "Baiklah, kalau begitu, kita mulai kelas hari ini. Saya akan mengetes kalian bernyanyi satu persatu," ujar Leona. Leona akan memilih satu murid yang akan menjadi murid pertama dalam tes bernyanyi hari ini. Leona akan membantu murid itu jika teknik yang digunakan salah, seperti pengaturan nafas serta nada bernyanyinya. "Alice," panggil Leona. Alice mengangkat tangannya, menandakan bahwa ia duduk disana. "Ya, silahkan ke depan dan mulai bernyanyi," titah Leona. Alice bangkit dari kursinya dan berjalan menuju depan kelas. Genggamannya pada microfon cukup keras, ia merasa sangat gugup. Alice memang terbiasa dalam bernyanyi, namun bukan bernyanyi di hadapan banyak orang. Oner merupakan pemimpin dari Golden Entertainment. Sejak kecil, ia sudah jatuh hati pada dunia tarik suara. Suaranya sangat indah untuk di dengar, dan intonasi nadanya sangat tepat. Sesekali, ia ikut ke Black Forest untuk mengikuti kelas latihan menyanyi. "Jangan gugup, kau pasti bisa bernyanyi," ujar Leona menenangkan Alice. Leona mengenal Alice saat bertemu di Black Forest, mereka langsung akrab karena memiliki hobi dan jalan pikiran yang sama. Leona dan Alice sama-sama menyukai riasan serta lagu dengan genre-genre beat, pop, dan yang lainnya. "Test." Alice mengetes microfon yang ia pegang, apakah sudah berfungsi dengan baik atau belum. Alice berdiri di tengah kelas dan seluruh murid menatapnya. Ia mempersiapkan diri dengan berdehem sebelum mulai bernyanyi. You're on the phone with your girlfriend She's upset She's going off about something that you said 'Cause she doesn't get your humor like I do I'm in my room It's a typical Tuesday night I'm listening to the kind of music she doesn't like And she'll never know your story like I do' But she wears short skirts I wear T-shirts She's cheer captain And I'm on the bleachers Dreaming about the day when you wake up And find that what you're looking for has been here the whole time If you can see I'm the one who understands you Been here all along so why can't you see You belong with me You belong with me Walkin' the streets with you and your worn-out jeans I can't help thinking this is how it ought to be Laughing on a park bench, thinking to myself Hey isn't this easy And you've got a smile that could light up this whole town I haven't seen it in a while since she brought you down You say your fine I know you better then that Hey what you doing with a girl like that She wears high heels I wear sneakers She's cheer captain and I'm on the bleachers Dreaming about the day when you wake up And find that what what you're looking for has been here the whole time If you can see that I'm the one who understands you Been here all along so why can't you see You belong with me Standing by and waiting at your back door All this time how could you not know Baby, you belong with me You belong with me Alice menyelesaikan nyanyiannya dengan baik. Suasana kelas benar-benar hening, mendengar Alice bernyanyi dengan suara merdunya. Prok! Prok! Prok! Seluruh murid bersorak ramai. Mereka seakan terhipnotis mendengar suara Alice saat bernyanyi. "Sepertinya kau sangat cocok jika melanjutkan di Golden Entertainment, Lice," ujar Leona. "Terima kasih," ujar Alice. "Silahkan kembali ke kursimu." Alice kembali ke kursinya. Semua orang menatap Alice hingga ia duduk. Leona kembali memanggil murid yang lainnya, beberapa di antara mereka ada yang meminta bernyanyi bersama, seperti Six Packs yang langsung bernyanyi dengan jumlah enam orang. Mereka membawakan lagu yang mereka nyanyikan saat tampil di malam Dood Marathon. Mereka bernyanyi seperti orang yang sudah profesional, karena deru nafas mereka bahkan hampir tidak terdengar saat bernyanyi sekaligus menari. Leona cukup terkesima melihat penampilan dari setiap murid yang ada di Midgard, bahkan ia berceloteh jika seluruhnya bisa masuk ke Golden Entertainment. "Baiklah, kelas hari ini saya cukupkan, silahkan kembali ke asrama masing-masing," ujar Leona. Leona pergi meninggalkan kelas, diikuti dengan para murid yang ikut menghamburkan diri menuju asrama mereka masing-masing. "Del," panggil Abeth. Delwish menghentikan langkah kakinya, begitupun dengan Faxel yang ikut berhenti saat mendengar Abeth memanggil Delwish. "Gunakan ini, aku tau kau ingin menghubungi Ayahmu." Abeth memberikan inrichternya pada Delwish. Mata Delwish berbinar melihat benda itu. "Dari mana kau tau aku merindukannya?" tanya Delwish. "Matamu berkaca-kaca saat Leona membahas Bangcox tadi," ujarnya. Delwish mengambil inrichter dari tangan Abeth. Memang, Delwish cukup merindukan Bangcox selama ini. Padahal, belum ada satu minggu sejak mereka terakhir bertemu, namun entah bagaimana, Delwish benar-benar merindukan Bangcox saat ini. "Kembalikan, jika kau sudah selesai menggunakannya. Kau bisa memakaiannya selama yang kau mau," ujar Abeth. "Terima kasih banyak, Beth." Abeth mengacak rambut Delwish dan pergi meninggalkannya. Delwish hanya tersenyum mendapati perlakuan seperti itu. Delwish berjalan dengan merangkul tangan kiri Faxel dan tersenyum sepanjang jalan. Terkadang Delwish melakukan hal-hal aneh jika merasa terlalu senang. Faxel dan Delwish masuk ke kamar mereka, Delwish langsung menghubungi Bangcox saat masuk ke kamarnya. Terdengar suara Bangcox yang terkejut karena Delwish tiba-tiba menghubunginya. "Kenapa tidak menghubungi dari Xogawl, Del?" "Aku terlalu merindukanmu. Bisa-bisa rasa rinduku semakin bertambah saat berjalan menemui Xogawl," ujar Delwish. Mereka terus berbicara melalui inrichter, terkadang Bangcox akan menyalakan panggilan video, mereka membahas bagaimana pekerjaan Bangcox serta kondisi Yechi saat ini. Bangcox juga memberi nasihat agar Delwish menjaga diri dan tetap sehat selama di Midgard.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN