[10] Midgard

1279 Kata
Bangcox House 07.00 AM Sinar matahari masuk melalui celah gorden. Cat berwarna merah muda tampak menghiasi seluruh isi kamar itu. Seorang gadis dengan rambut panjang terurai dengan warna hitamnya yang pekat tampak sedang menyisir rambutnya yang terlihat berantakan. Tidak ada keramaian yang terdengar pagi ini. Hanya suara samar dari burung yang berkicau, menandakan bahwa hari telah pagi dan waktunya untuk beraktifitas. Delwish menaruh sisir yang ia gunakan diatas meja riasnya dan berjalan menuju kasurnya untuk menutup kopernya yang sedari tadi masih terbuka. Tidak sedikit barang bawaan yang Delwish bawa, sekitar tiga koper penuh yang akan ia bawa untuk bekal selama satu tahun ke depan. Tahun ini, Delwish sudah menginjak usia enam belas tahun. Artinya, ia sudah harus memasuki Midgard dan memilih path nya saat ia berusia tujuh belas tahun nanti. Bangcox sudah mendaftarkan Delwish sejak satu bulan yang lalu, tepatnya saat pendaftaran Midgard dibuka. "Aku harus lulus dengan baik dan memilih path yan tepat untukku," gumam Delwish. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar kamarnya. Delwish menolehkan kepalanya dan menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang baru saja mengetuk pintunya sepagi ini. "Kau sudah siap?" tanya Bangcox. Bangcox dan Delwish sengaja bangun pagi hari karena tidak ingin merepotkan Yechi. Yechi adalah orang yang sangat antusias, bahkan, satu bulan sebelum pendaftaran ke Midgard, Yechi sudah membelikan berbagai buku dan penjelasan sedikit tentang Midgard. Tidak lupa, Yechi memberikan saran-saran mengenai Midgard pada Delwish. Delwish menganggukan kepalanya. Ia berjalan mendekati kasurnya dan menurunkan tiga koper dari atas kasur lalu menariknya keluar dari kamar itu. "Apa di Midgard menyenangkan?" tanya Delwish. "Tentu. Adaptasikan dirimu sebaik mungkin dan pilih nasibmu sesuai dengan keinginanmu. Masa depanmu berada pada tanganmu. Jadi, tentukan itu dan pikirkan selama satu tahun ke depan," jawab Bangcox. Delwish menganggukan kepalanya mengerti. "Mari, Ayah bantu." Bangcox mengambil dua koper yang sedari tadi dibawa oleh Delwish. "Kau sudah periksa dan tidak ada yang tertinggal, kan?" Bangcox memastikan. "Sudah semuanya, Yah." Bangcox mengacak rambut Delwish dan tersenyum, "Anak pintar." Perjalanan dari rumah Bangcox menuju Midgard hanya membutuhkan waktu selama tiga puluh menit. Delwish dan Bangcox berangkat meninggalkan rumah tanpa menyapa Yechi terlebih dahulu. Yechi sudah menganggap Delwish seperti anaknya sendiri, jadi wajar saja jika melepaskan Delwish selama satu tahun ke depan akan membuatnya merasa khawatir. Tidak jarang murid dari Midgard yang berakhir bunuh diri karena merasa tidak sanggup di sana. Yechi sangat khawatir Delwish bertindak bodoh dan mengalami hal itu. Midgard 07.45 AM Sebuah gerbang berwarna hitam tampak menjulang tinggi ke atas. Gerbang itu otomatis terbuka saat jika ada mobil yang hendak masuk atau keluar dari Midgard. Midgard terletak diantara kota Skyrothgar dan kota Erlen. Hanya di Midgard, tanaman dan pepohonan tumbuh subur. "Saat kau di Midgard, akurlah dengan teman satu kamarmu. Jangan berbuat ulah apapun dan menentang peraturan disana. Jika ada apa-apa, kau bisa menitipkan pesan melalui Xogawl. Dia mengajar sebagai guru sejarah di Midgard," jelas Bangcox. Delwish mengenal Xogawl dengan baik, karena selama dua bulan terakhir, Xogawl kerap menemani Delwish di rumah dan memberikan sedikit pengetahuan mengenai mata pelajaran sejarah di Midgard. Tidak suit bagi Delwish untuk menghafal sejarah Midgard beserta Valhalla, karena daya ingat Delwish cukup baik dalam hal itu. "Aku mengerti, Yah," jawab Delwish. Di Midgard, seluruh murid diwajibkan untuk tinggal di asrama. Satu gedung asrama terdapat 30 kamar yang masing-masing kamar diisi oleh dua murid. Fasilitas yang ada di asrama tersebut sudah sangat canggih dan cukup untuk memenuhi kebutuhan para muridnya. Saat di Midgard, seluruh murid tidak diperkenankan membawa barang bawaan selain pakaian dan obat khusus jika murid itu menderita penyakit tertentu. Mereka akan diisolasi dan tidak diperbolehkan pulang, sampai ujian kelulusan telah dilaksanakan, tepatnya satu tahun setelah pembelajaran mereka di sana. Bangcox menepikan mobilnya di depan parc lalu turun dan membuka bagasinya, mengeluarkan tiga koper Delwish dari dalam sana. "Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Ingat nasihat yang aku sampaikan padamu saat di mobil tadi. Kabari aku jika terjadi sesuatu, bahkan jika perlu aku akan meminta kabarmu setiap hari melalui Xogawl," ujar Bangcox. "Aku akan dengan senang hati untuk memberi kabar padamu, Ayah." Delwish tersenyum dan mengambil kopernya yang masih digenggam oleh Bangcox. "Kau ikuti saja jalan ini, kau akan bertemu ruangan guru dan temui Agan untuk meminta kunci kamar asramamu. Jadwal pembelajaranmu akan dimulai besok. Selamat belajar dan bersenang-senang, sayang." Bangcox mencium puncak kepala Delwish. "Baik, Yah." Bangcox kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menjauhi tempat pemberhentian itu dan pergi meninggalkan Midgard. Bangcox harus segera kembali menuju Markant untuk kembali beraktifitas sebagai pemimpin dari Matildas Intelegencie Familia. Delwish menarik satu koper di tangan kanan dan satunya ia tarik dengan menggunakan tangan kiri. "Aku menyesal membawa tiga koper," gumam Delwish. Ia melihat koper berwarna biru muda yang tidak terbawa olehnya. Kakinya hanya mendorong-dorong koper itu yang nampaknya sama sekali tidak ringan. "Mau aku bantu?" terdengar suara seorang laki-laki yang berbicara dari belakang Delwish. Delwish menolehkan pandangannya dan melihat siapa yang baru saja berbicara dengannya. "Ah, kenalkan, namaku Abeth. Maaf jika aku membuatmu terkejut, tapi aku hanya bermaksud untuk membantumu," ujar Abeth. Delwish memperhatikan wajah Abeth dengan seksama. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang asing seusianya dan berkenalan secara langsung dihadapannya. "Aku Delwish. Salam kenal." Delwish memperkenalkan diri. "Mari kubantu." Abeth mengambil dua koper berwarna hitam dan biru muda lalu menaruh tas ransel berwarna coklat diatas koper berwarna biru muda. "Ayo," ajaknya. Delwish membawa sisa satu koper yang tidak terbawa oleh Abeth dan berjalan dibelakang Abeth. Langkahnya sedikit terburu-buru karena kecepatan berjalan Abeth yang terbilang jauh lebih cepat daripada langkah kaki Delwish. Mereka tiba disebuah ruangan bertuliskan Teacher Room di atas pintunya. Tidak jauh dari pintu itu, tepatnya di samping kanan, terdapat sebuah kertas bertuliskan peraturan yang harus dipatuhi saat akan masuk ke dalam. Salah satunya, yaitu, hanya satu murid yang boleh masuk ke dalam saat meminta kamar asrama serta data lainnya, sedangkan murid lainnya harus menunggu giliran saat murid pertama selesai urusannya di dalam sana. "Masuklah lebih dulu, aku akan masuk setelahmu," ujar Abeth. Delwish hendak masuk ke dalam dan mengambil kopernya yang sudah dibawakan oleh Abeth, namun, ditahan oleh tangan Abeth. "Aku akan menunggu disini sampai kamu kembali. Masuk saja dan tinggalkan barang bawaanmu denganku." Abeth mengambil kembali koper yang akan dibawa oleh Delwish. "Ah, oke." Delwish membuka pintu ruangan itu. Hanya ada satu guru disana, dan Delwish langsung mengenali wajahnya, ia adalah Xogawl. "Permisi." Delwish berjalan mendekati Xogawl yang sibuk dengan inrichternya di meja kerjanya. Xogawl mendongakan kepalanya dan melihat manik mata Delwish. Ia mengambil rivane yang terletak di atas mejanya dan mengulurkannya pada Delwish. "Ya?" Delwish nampak kebingungan dengan alat yang diberikan oleh Xogawl. "Letakkan tanganmu di sisi kanan layar rivane," perintah Xogawl. Delwish segera meletakkan tangan kanannya pada layar rivane dan tertera informasi dan data diri Delwish disana. Xogawl mengambil rivane-nya dan melihat isinya lalu tersenyum. "Ini kunci kamarmu. Asramamu berada di gedung A, di lantai tiga. Sepertinya teman sekamarmu sudah ada di sana." Xogawl memberikan sebuah kartu bertuliskan 3.03 yang artinya itu adalah nomor kamar yang akan ditempati oleh Delwish selama satu tahun nantinya. "Terima kasih, Xogawl," ujar Delwish. Delwish mengambil kunci itu dan keluar dari ruang guru untuk mempersilahkan Abeth masuk. "Sudah?" tanya Abeth memastikan. "Aku berada di asrama Levongard." Delwish menunjukan kartu yang berfungsi sebagai kunci kamarnya. "Baiklah, sekarang giliranku." Abeth masuk ke dalam ruang guru, dan sekarang berganti Delwish yang menunggu Abeth di luar. Delwish berjongkok dan memainkan jarinya, menggambarkan sesuatu diatas lantai yang sebenarnya gambar itu sama sekali tidak terlihat. Hanya imajinasinya saja yang bermain untuk menggambar sesuatu. Tidak berapa lama kemudian, Abeth keluar dengan kartu yang sama dipegang oleh Delwish tadi. "Aku di asrama Pyrogard, Del." Abeth menunjukan kartunya. "Yaudah, ayo kita ke sana sekarang. Aku ingin segera tau siapa teman sekamarku," ajak Delwish. Delwish dan Abeth berjalan menjauhi ruang guru. Mereka beruntung, datang pagi dan mereka tidak perlu berdesakan untuk mengantri nomor kamar di depan ruang guru. Delwish masuk lebih dulu ke dalam gedung bertuliskan Levongard. Gedung asrama di Midgard hanya setinggi sebelas lantai dengan cat berwarna putih di sebagai pelapis bagian luarnya. "Sampai bertemu besok, Del." Delwish terkekeh melihat tingkah Abeth yang melompat-lompat sembari melambaikan tangannya dan berjalan menuju gedung Pyrogard.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN