Di ruangan yang hening, Maya mengambil sapu tangan dan mengusap dahi Danu. Gerakannya lembut, penuh kasih sayang yang tulus. Ia juga membetulkan selimut Danu yang sedikit berantakan, memastikan Danu merasa nyaman. Ia mengusapnya lagi di kening Danu, ada rasa bahagia bisa berada disampingnya kini tapi ia merasa nelangsa karena harus dalam keadaan seperti ini ia bisa bertemu dan bertatapan muka dengan tunangannya. Tangannya Masin berada di pipi Danu, pria itu mungkin tak tahu kalau ia datang, atau bahkan mendengar dan merasakan kehadirannya. Melihat tindakan Maya, gadis belia itu bangkit dari duduknya. Viona meradang. Wajahnya terlihat marah. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, suaranya tajam. Maya menoleh, terkejut. "Aku merawat tunanganku, tentu saja." "Kamu tidak berhak menyentuhnya

