Sore itu, Kenzo berjalan menuju ruang rapat, ia melihat Maya sedang kesulitan membawa tumpukan mock-up desain yang cukup tinggi.
Gadis itu nyaris terjatuh. Secara refleks, Kenzo bergerak cepat. Ia mengambil beberapa mock-up dari tangan Maya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Maya tentu saja terkejut, menatap Kenzo yang kini berjalan di depannya, membawa tumpukan kertas itu dengan mudah.
Ia kaget karena seorang Kenzo yang angkuh dan arogan bisa membantunya saat sedang kesulitan.
“Tu-tuan Kenzo … terima kasih,” ucap Maya, merasa kikuk.
Kenzo tidak menoleh. Ia hanya meletakkan mock-up itu di meja rapat yang dituju Maya, lalu berbalik dan pergi dengan cueknya.
Sikapnya tetap dingin dan tidak terjangkau, namun tindakan kecil itu membuat Maya sedikit bingung.
Ia bingung apa pria itu memang peduli, atau tadi hanya kebetulan saja, ia benar-benar bingung dibuatnya.
Tapi ia memastikan hatinya kalau tadi memang hanya kebetulan saja pria itu lewat dan menolongnya.
Lain hari, tiba-tiba saja, tanpa diduga, CEO mereka minta laporan perkembangan proyek secara mendadak, terutama proyek yang ditangani oleh tim Maya.
Kenzo mengajukan beberapa pertanyaan detail, namun matanya sesekali melirik ke arah Maya, mengamati reaksinya.
Maya tidak merasakan itu, karena pandangannya malah tertuju pada Danu yang sangat ahli melakukan apapun selain desain grafis.
Ketika lain waktu saat sore tiba, ia mengantuk, seorang office girl memberikan secangkir kopi untuknya.
Maya emarsa bingung, “Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya pada Tami, gadis office girl.
“Ehm … anu … maaf, Mbak, aku ke pantry dulu,”
Tidak ada jawaban, ia merasa heran tapi karena mengantuk ia memilih meneguk kopi hangat itu.
Kadang ia memang merasa heran, merasa aneh dengan perhatian tiba-tiba dari sesuatu yang kebetulan sedang ia hadapi, namun ia tidak pernah menyadari siapa orangnya.
Ia melirik ke arah Danu yang sedang bekerja. Apa mungkin pria itu, ia berpikir mana mungkin pria itu yang menyuruh Tami membuatkan kopi untuknya.
Danu sangat sibuk, dia pria yang sangat tekun dalam mengerjakan tugas yang diamanahkan padanya.
**
“May, kapan kamu akan menyelesaikan logo yang kemarin diminta revisi?”
“Ini juga sedang aku kerjakan Dan, aku maunya selesai sekarang tapi kamu bisa bantu, nggak ya?”
Ia mencoba untuk meminta bantuan Danu, pria itu sangat baik bahkan selalu membantunya kapanpun juga.
“Boleh, sekarang juga bisa, kok. Ayo, bawa kesini, desainnya yang bisa kita atur ulang. Aku harap ini akan membuat Tuan Kenzo merubah cara pandangnya padamu,” ujarnya.
Ia tersenyum, saat itu ia tidak tahu kalau CEO mereka lewat dan melihat kedekatan mereka.
Pria itu melirik tajam tapi ia benar-benar tidak melihatnya. Hingga kemudian, Tami mendekatinya dan mengatakan kalau ia diminta masuk ke ruangan sang CEO.
Danu meledeknya. “Cie yang dipanggil Tuan Kenzo, awas kena marah lagi, taklukan dia dengan desain yang lebih bagus, May,” kelakar Danu.
Maya hanya tertawa, tanpa sengaja ia menepuk bahu pria itu dan membuat beberapa karyawan melirik ke arah mereka.
Ia segera berjalan menuju ke ruangan Tuan Kenzo dan mendapati pria itu sedang berdiri sambil memandang keluar jendela.
“Kamu … Maya Rukmana,”
Maya duduk dengan tegak, ia harus siap jika kena marah, pria itu tampak tegang tapi tiba-tiba menatapnya dengan tatapan hangat. Entah apa yang dipikirkan pria itu tentangnya saat ini.
“Desain yang kamu berikan waktu itu, apa sudah direvisi?”
“Sudah, Tuan,”
“Bagus, besok kita akan adakan rapat lagi, kali ini aku mau kamu presentasikan dengan baik,” ucapnya.
Maya belum begitu memahami, cuma ini saja yang dikatakan pria itu. “Ehm … Tuan Kenzo, apa ada lagi?”
“Tidak! Itu saja, aku mau kamu siap jam sembilan, kita akan rapat dan aku minta kamu bisa menunjukkan desain yang lebih bagus dari kemarin,”
“Baik, Tuan,”
Ia segera pergi, melangkah keluar dan beberapa karyawan menatapnya heran.
Danu juga bertanya-tanya. “Gimana, May? Aman?”
“Aman, sih, tapi Dan, kok heran aku ya?”
“Heran kenapa?”
Danu datang mendekat, lalu mencoba mencolek ujung hidungnya. Tanpa sengaja padahal, dan di saat yang sama, Kenzo keluar dari ruangan dan melihat keusilan Danu.
Raut wajah Kenzo berubah menjadi tegang tapi berjalan melewati mereka. Danu merasa heran, tidak biasanya CEO mereka tak menyapanya. Padahal ia dan pria itu akrab.
Di sisi lain, Kenzo mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasakan seperti ada bara cemburu yang perlahan menyala.
Ia menyadari, sejak Danu sering berinteraksi dengan Maya, perhatian gadis itu sepenuhnya teralih.
Tatapan Maya yang dulu sesekali mencuri pandang ke arahnya saat ia lewat, kini sepenuhnya tertuju pada Danu.
Kenzo tidak bisa menyangkal rasa tidak sukanya melihat Maya tertawa lepas bersama pria lain.
Apalagi Danu yang selalu terlihat tenang dan bijaksana, ia merasa Danu seperti sengaja mencari perhatian dari gadis itu.
Danu seolah menjadi musuh baginya untuk saat ini.
"Kenzo!"
Seseorang memanggilnya saat keluar dari kantor. Ia menoleh dan terkejut. "Kapan kamu datang?"
"Aku baru saja tiba, sengaja langsung kesini, apa dia ada disini?"
"Ada, tentu saja ada," jawabnya dengan seringai lebar.