7. Mereka Tampak Bahagia

844 Kata
"Kamu bisa kan, ditempatkan di kantor cabang lain?” Danu terkejut. Ia merasa sudah cukup lama ikut dengan Kenzo dari pertama kantor ini berdiri. “Kenapa memangnya? Apa disini aku sudah tidak ada tempat lagi?” Kenzo menggeleng, ia mencoba menjelaskan. “Kantor baru butuh orang lama. Dan yang paling pantas ya cuma kamu,” Danu mengerutkan keningnya. “Kenzo, kayanya aku nggak bisa jadi, jangan …” “Gajimu aku naikkan, tenang saja, kantor barunya dekat dengan rumahmu,” Danu berdecak. Ia melirik ke arah Maya yang tengah sibuk mempersiapkan presentasinya hari ini. Sepagi ini, Kenzo memberinya sebuah kejutan yang cukup mengerikan untuknya saat ini. Ia sedang berusaha dekat dengan seorang gadis. Ya, ia mulai menjajaki hubungan pertemanan dengan gadis itu. Maya baginya cukup menarik dan pantas ia dekati ketimbang menjalin hubungan dengan gadis pilihan mamanya. “Dengar, Dan. Aku tahu Tante Vita juga pasti senang kalau kamu naik jabatan. Aku naikkan jabatan plus gajimu juga,” Danu menatap Kenzo sepupunya dengan cukup serius. Raut wajah Kenzo terlihat sungguh-sungguh. Apa mungkin dia harus mengambil kesempatan ini. Mamanya sedang butuh banyak uang. Tapi ia juga tidak mau jika nanti sampai kehilangan kontak dengan Maya. Kenzo memang cukup licik jika berkaitan dengan pekerjaan. Mungkin Kenzo sengaja merekrut Maya untuk menggantikan dirinya. Di sisi lain, Kenzo mulai sering datang ke kantor, ia mengamati kegiatan Maya selain bekerja dan kerap mengobrol dengan Danu. Ada rasa yang tak biasa dan ia melaluinya dengan banyak-banyak menahan dirinya. “Kenzo, ini laporan untuk minggu ini,” Danu datang di saat ia sedang mengawasi kegiatan Maya dari balik layar CCTV kantor ini. Ia pemegang kendali penuh dan telah mengetahui apa saja yang dilakukan Maya selama bekerja di kantornya. Berkas laporan Danu ia periksa dengan sangat teliti, hingga detail terkecil. Setelah Danu pergi, ia mengirim email revisi yang panjang dan rinci. “Dan, kamu revisi lagi ya, hari ini lembur, aku mau ini diselesaikan dengan cepat,” Danu mengiyakan, dia menceritakan lemburnya pada Maya. “May, aku lembur hari ini,” Maya yang sedang sibuk bersiap untuk pulang merasa terkejut. Tidak biasanya Danu lembur. "Proyek itu benar-benar penting mungkin, ya Dan?" "Iya, makanya aku diminta lembur. Kamu hati-hati ya pulangnya," Maya tersenyum, Danu memang baik, dia selalu perhatian padanya. Ia segera pergi tapi sebelum pergi, ia memberinya semangat dan langsung pulang begitu jam lima berdentang. Esok harinya, Kenzo yang mendapati Danu sedang bersama Maya, membuatnya panas dingin. Kenzo memanggil Danu dan memberitahu bahwa waktunya untuk dipindah ke kantor cabang hampir dekat. Tapi alih-alih menerima keputusan Kenzo, Danu malah menolak sehingga membuat Kenzo menjadi marah, tapi marahnya ia lakukan secara diam-diam. Baginya, Danu tak biasanya membantah, ternyata kini lebih memilih menentang keputusannya. Ia merekrut pria itu karena Tante Vita adik papanya yang memang sedang kekurangan saat itu. Om Burhan selingkuh dan keluarga Tante Vita sedang butuh banyak uang. Jantung saja, Danu lihai dalam desain grafis sehingga tidak sia-sia ia merekrut kerabat sendiri di perusahaannya. Danu kembali dengan laporannya dan ia langsung mengeceknya. Satu jam kemudian dia keluar dan melihat Danu dengan Maya sedang mengobrol asyik. “Dan, ini laporanmu. Ada beberapa poin yang kurang akurat,” Kenzo berkata dengan dingin, melemparkan map berisi laporan di meja pria itu, tepat saat Maya di dekatnya. “Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun di perusahaan ini.” Maya melirik Danu yang terlihat tenang tapi menahan diri untuk tidak emosi, belakangan pria itu mengeluh tentang sikap Kenzo padanya. Sebagai karyawan baru, Maya merasa tidak enak melihat Danu harus menerima kritik Kenzo yang kadang terasa tidak adil. Ia mencoba membantu Danu memverifikasi data atau mencari referensi tambahan, demi meringankan beban pria itu. "May, kalau nggak ada kamu, aku pasti kerepotan ini," "Aku juga sering dibantu kamu, Dan. Kali ini aku bantu balik kamu, yang penting Tuan Kenzo tidak lagi marah-marah sama kamu," Danu menghela napas, entahlah, apa yang dipikirkan si Kenzo, dia mulai berubah," ujarnya. Ia memangnya tulus membantu, Danu pria yang baik dan baginya Danu adalah pria yang sangat sabar dan cukup baik selama ia pertama bekerja disini. Setiap kali ia berhasil membantu pria itu menyelesaikan revisi, senyum terima kasih dari Danu sudah cukup baginya. Ia makin lama makin menyukai sikap dan pribadi Danu yang low profile padahal pria itu jauh lebih ahli dan berpengalaman darinya. ** Siang ini, Kenzo berjalan melewati area kantin. Matanya secara otomatis mencari sesuatu yang menurutnya menarik hatinya selama ini. Ia menemukan Maya sedang duduk di salah satu meja, berbagi makanan dengan Danu. Kenzo merasa Danu selalu menjadi hal yang utama dari Maya. Entah mengapa ia tidak menyukai kebersamaan keduanya. Ia menghubungi kekasih Danu yang tak lain adalah temannya sendiri. Tapi sayang, Sinta nama kekasih Danu, tak bisa datang lantaran sedang sibuk di rumahnya. “Aku ada acara, Kenzo. Tolong awasi dia, aku akan sangat berterima kasih padamu,” ucap Sinta sebelum mengakhiri pembicaraan. Ia melihat mereka, berdua tampak asyik bercengkrama, tawa Maya terdengar renyah, dan Danu sesekali mengacak rambut Maya dengan gemas. Pemandangan itu bagai tusukan tajam di dadanya. Bara cemburu dalam dirinya berubah menjadi kobaran api. Pikirannya sangat tidak tenang, saat melihat karyawan barunya tengah tertawa lepas dengan Danu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN