8. Mendadak Begitu

807 Kata
Kenzo memandangi keduanya dengan hati yang tak sabar ingin memisahkan. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekati meja mereka. Aura dingin dan dominan langsung menyelimuti area kantin. Kenzo melangkah dengan pasti. Beberapa karyawan yang melihatnya langsung terdiam, kembali fokus pada piring masing-masing. Maya dan Danu yang sedang asyik bercanda, sontak terdiam saat Kenzo berdiri tepat di samping meja mereka. Maya merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, Kenzo datang tapi raut wajahnya seperti marah. “Dan,” Kenzo memanggil, suaranya rendah dan penuh tekanan. Danu menoleh, senyumnya sedikit memudar. “Ya, Kenzo?” “Laporan proyek Giant Project sudah selesai?” Kenzo bertanya, matanya menatap tajam ke arah Danu, namun sekilas melirik Maya yang duduk di sampingnya. Dan mengernyitkan dahi. “Aduh, Kenzo, tapi tenggat waktunya masih dua hari lagi. Aku sedang dalam proses penyelesaian.” “Dua hari itu waktu yang terlalu lama,” sahut Kenzo dengan nada meremehkan. “Aku ingin laporan itu ada di mejaku dalam dua jam. Sekarang juga. Ada beberapa data yang harus segera ku tinjau.” Maya membulatkan matanya. Dua jam? Itu tidak mungkin. Laporan Giant Project adalah proyek besar dengan data yang sangat kompleks. Maya memperhatikan raut wajah atasannya yang tampak menahan amarah. “Tapi, Tuan Kenzo … ini….” Maya mencoba memprotes, namun Kenzo segera memotongnya. “Kamu tidak perlu ikut campur, Nona. Ini urusan Danu denganku,” Kenzo menatap Maya dengan tatapan dingin, seolah memperingatkan. “Dan, aku tunggu di ruanganku. Dua jam, dari sekarang.” Kenzo tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Maya dan Danu dalam keheningan yang canggung. Maya menatap Danu dengan cemas. “Dan, itu tidak mungkin! Laporan sebesar itu dalam dua jam?” Dan menghela napas, namun ia mencoba tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Maya. Aku akan berusaha.” Danu kemudian menatap Maya dengan mata penuh terima kasih. “Aku tahu kamu selalu membantuku, tapi kali ini biarkan aku sendiri yang menghadapinya. Kamu sudah terlalu sering membantuku.” Maya merasa bersalah. Ia ingin sekali membantu, namun ia tahu Kenzo sedang mengawasi mereka. Entah apa yang sedang dipikirkan atasan mereka, kenapa pula, Danu yang ahli dalam hal desain harus mengalami tekanan pekerjaan yang sangat besar. Ia memandang Kenzo sebagai pria yang cukup arogan tapi dingin dan terkesan sedikit jahat. Meski hanya sedikit jahat, tapi baginya, seorang Kenzo sangatlah arogan. Bagaimana mungkin Danu yang telah memiliki banyak pengalaman harus dibebani pekerjaan yang cukup berat. Ia hanya bisa melihat Danu bangkit dari kursinya, membawa piring makanannya yang belum habis, lalu melangkah pergi menuju ruangannya dengan ekspresi serius. Di saat yang sama, Kenzo, yang sudah berada di ujung koridor, sesekali melirik ke belakang. Ia melihat Maya menatap kepergian Danu dengan raut khawatir. Sebuah senyum tipis, penuh kepuasan tersungging di bibirnya. Ini baru permulaan. Ia tidak akan membiarkan siapapun mendekati Maya. Ia akan memastikan Maya tahu siapa yang berkuasa di Georgio Corp, dan juga di hatinya. ** Maya pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia tak mengira, jika dalam sebuah perusahaan, akan ada orang yang sengaja membuat sebuah masalah menjadi lebih besar padahal terkadang terasa sepele. Ia merasakan bahwa Kenzo, atasannya sedang memberi Danu sebuah pelajaran yang pastinya cukup berat. “Apa karena Danu akan dipindah dan tidak mau, ya?” Ia memiliki spekulasi sendiri. Danu memang bercerita padanya kalau ia akan dipindah ke kantor cabang lain di tempat yang dekat dengan rumahnya. Tapi pria itu bilang akan pikir-pikir dulu. “Apa mungkin karena itu, Tuan Kenzo jadi menekan pekerjaan Danu? Kalau iya, wah jahat banget Tuan Kenzo,” batinnya. Keesokan harinya, ia datang lebih awal. Membersihkan mejanya dan juga meja Danu. Tiba-tiba datang seseorang dengan langkah kaki yang tegap dan berdehem di belakangnya. “Tidak usah terlalu rajin sampai membersihkan meja Danu!” Ia menoleh ke arah belakang, Tuan Kenzo? Tidak biasanya pria itu datang lebih awal. “Lagipula, Tuan. Maaf, kebetulan mejanya juga kotor,” ucapnya dengan lirih. Ia tak mau pria itu merasa emosi saat mendengar jawaban darinya. Tatapan pria itu menusuk jantungnya. Tajam tapi tidak marah, sangat berbeda dengan tatapan ketika pertama kali mereka bertemu. Tiba-tiba saja atasannya memberikan sesuatu dalam sebuah kantong plastik. “Aku membelinya lebih, ini untuk kamu saja, dimakan ya, sendiri saja, jangan sama Danu!” Ia menerimanya, tapi merasa aneh, kenapa harus menyebut kata Danu saat memberikan ini. Ia bingung tapi setelah itu, bingkisan tadi ia makan sampai habis, satu porsi nasi uduk dengan menu lengkap. Rasanya enak dan pastinya mahal, ia tersenyum sendiri, tumben betul atasannya ini baik padanya. Tiba-tiba, Danu datang dan masuk ke ruangan Kenzo. Danu kembali keluar dan melangkah dengan menundukkan kepalanya. Maya merasa heran dan bertanya apa yang terjadi. Danu tak menjawabnya, tapi pria itu menggenggam tangannya. "May, kalau aku jadi pindah, kamu mau kan kalau aku lamar?" Deg!!! "Apa? Ehm, Dan, kamu baik-baik saja, kan?" Ia kaget karena ini sangat tiba-tiba sekali, Danu memasang wajah lelah dan guratan wajahnya seperti menahan emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN