9. Mendadak

727 Kata
Hari ini, Maya libur dan ia menghabiskan banyak waktu di rumah. Ibunya sedang menjahit celana Ayahnya yang sedikit robek di bagian lututnya. Tirai jendela tersibak kena angin yang berhembus cukup kencang. Dinginnya suasana membuat gorengan pisang yang baru digoreng mulai terasa dingin. Ayahnya juga sedang di rumah saja, menikmati gorengan pisang manis yang dinikmati bersama teh hangat. Pekerjaan Ayahnya hanya serabutan, jadi lebih sering berada di rumah. Ibunya sangat telaten menjahit celana Ayahnya. Kehidupan yang sederhana, celana sobek pun masih bisa dijahit supaya layak dipakai lagi. Maya duduk sambil mengusap layar ponselnya. Ia sedang menikmati indahnya pagi meski cuaca cukup dingin. Layar televisi menyala dan menampilkan berita peperangan Palestina dan Israel yang tiada henti. Kata ibunya, sejak ibunya kecil hingga memiliki suami dan memiliki anak hingga dia besar, negara Palestina selalu mendapat serangan bertubi-tubi dari musuhnya. Dan anehnya tidak ada habis-habisnya penduduk yang meskipun sampai di genosida Israel. Maya tersenyum saat ada satu postingan yang menurutnya sangat lucu. Ia merasa terhibur sedikit meski tidak saling mengenal satu sama lain penghuni dunia maya dalam media sosialnya. Sambil duduk, ia menikmati hangatnya kopi yang baru diseduhnya. Cuaca benar-benar dingin akhir-akhir ini. Ia sedang menyesap kopi hangatnya di teras ketika sebuah klakson mobil membuyarkan lamunannya. Danu, teman kerjanya yang selama ini begitu akrab, melambaikan tangan dari mobilnya. Ia kaget, pria itu tiba-tiba sudah ada di depan rumahnya. Ia tersenyum tapi masih merasa heran. "Danu? Kok pagi-pagi gini dia kesini?" seru Maya terkejut. Meskipun mereka sering bertemu di kantor, Danu jarang sekali datang ke rumahnya di luar jam kerja. Rasanya sangat aneh tapi ia menyambutnya dengan hangat, bagaimanapun Danu selalu ada untuknya saat di kantor. Pria itu mengenakan jas rapi dan terlihat … sangat tampan. Danu tersenyum tipis, senyum yang entah mengapa terasa sedikit gugup. "Ada yang mau aku omongin, May. Penting." Maya mengernyitkan dahi, namun langsung mempersilakan Danu masuk. Ayah dan Ibunya merasa heran tapi mereka juga menyambut kedatangan Danu dengan hangat. Setelah beberapa saat, orang tuanya masuk dan Maya berbicara dengan Danu yang saat itu terlihat seperti merasa gugup. "Rumahnya adem, ya May. Bikin betah," ucap Danu. "Ya, begini, sederhana, kecil tapi cukup nyaman. Memangnya kamu dari mana, kok rapi begini, ada rapat? Hari libur begini?" Mereka berdua duduk di ruang tamu, dengan cangkir kopi mengepul di antara mereka. Keheningan sempat menyelimuti, dipecah hanya oleh detak jam dinding. Maya bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari Danu. "Ada apa sebenarnya, Dan?" tanya Maya akhirnya, memecah kesunyian. Danu menarik napas panjang. Matanya menatap Maya dalam, seolah mencari sesuatu di sana. "May, aku tahu ini mungkin mendadak. Tapi ada sesuatu yang selama ini aku simpan sendiri." Jantung Maya berdebar tak karuan. Ia punya firasat, firasat yang selama ini ia tepis mentah-mentah. "Sejak pertama kali kita bertemu di kantor, aku sudah merasa ada yang beda sama kamu," lanjut Danu, suaranya pelan namun mantap. Maya tertegun, Danu tampak formal dan membuatnya panas dingin, tapi entah karena apa, ia sendiri bingung. "Kamu itu bukan cuma rekan kerja yang baik, tapi juga orang yang paling bisa bikin aku nyaman. Kamu cerdas, pekerja keras, dan punya hati yang tulus." Maya terdiam, pandangannya tak beralih dari Danu. Ia merasakan pipinya memanas. "Aku tahu ini mungkin nggak adil buat kamu, karena selama ini kita cuma temen. Tapi, aku nggak bisa terus-terusan nyimpen perasaan ini," Danu menghela napas lagi. "Aku... aku jatuh cinta sama kamu, May." Maya merasakan dunianya berputar. Pengakuan itu meluncur begitu saja, tanpa peringatan. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. "Aku tahu ini waktunya nggak tepat," Danu melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Aku mau bilang, kalau aku bakal pindah ke kantor cabang di kota lain bulan depan. Dan sebelum aku pergi, aku pengen kamu tahu ini." Danu kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari sakunya. Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Tubuhnya terasa panas dingin, ia merasakan tangannya sedikit gemetar. Danu membukanya, memperlihatkan sebentuk cincin yang berkilau. "Aku nggak minta kamu jawab sekarang," kata Danu, matanya penuh harap. "Aku cuma pengen kamu tahu kalau aku serius sama kamu, May. Aku ingin melamar kamu." Ruangan itu kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa begitu padat dengan emosi. Maya menatap cincin itu, lalu beralih ke mata Danu yang memancarkan ketulusan. Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di benaknya. Baginya, ini terlalu cepat, terlalu tiba-tiba. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia juga merasakan sesuatu. Sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik pertemanan mereka. Danu kini duduk di hadapannya, menanti jawaban yang akan mengubah segalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN