Easily

1411 Kata
-- Pak Niel, saya minta maaf soal yang tadi. Saya nggak bermaksud apa-apa, saya hanya senang karena bapak sudah tidak sakit. Saya harap bapak tidak salah paham dan mengira saya punya niat tidak baik pada bapak--- Begitulah isi pesan Bella pada Niel yang sejak tadi ia pandangi dengan ragu. Ia berulang kali membacanya dan tidak ingin Niel salah paham jika ia sengaja menggodanya. Bella pun sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu. Ia hanya tidak ingin Niel mengira dirinya perempuan murahan yang sengaja menjerat Niel. Meski dalam hatinya selalu bergejolak saat ia berdekatan dengan pria tersebut. Dan hal itu Bella anggap hal yang wajar mengingat tubuh atletis Niel dengan wajah tampannya dan juga ia sangat wangi, tentu siapapun akan mudah terjerat dengan pesonanya. Bella lalu tanpa berpikir lagi, mengirimkan pesan tersebut lalu menutup matanya dengan panik dan misuh sendiri " Belllll...." teriak Rara dan langsung membuka pintu kamar Bella yang langsung terlihat panik dan tanpa sengaja menekan ikon telepon di sudut pesannya pada Niel. Sementara itu Tentu saja Niel yang kini telah berada di kamarnya sambil membaca pesan dari Bella barusan, langsung spontan mengangkatnya. " Halo..." tidak ada jawaban dari Bella. Namun Niel tetap menunggu Bella berbicara. " Kenapa sih loe?" tanya Rara melihat Bella yang nampak salah tingkah. " Gue rasanya pengen sembunyi aja deh Ra" ucap Bella lirih. " Kenapa?" " Gue nggak sengaja nyium papanya Kiara" Niel yang mendengar itu langsung tersenyum dan membesarkan volume ponselnya. Entah mengapa ia berniat menguping pembicaraan Bella dan sahabatnya dari ponsel yang mungkin tanpa sengaja Bella tekan. " Hah? Loe gila ya? Trus trus, dia bilang apa?" " Nah itu dia. Gue kirain dia tidur. Tapi ternyata nggak. Gue malu banget Raaaa.." ucap Bella dengan suara menangis di buat-buat. Niel kembali tersenyum membayangkan wajah Bella saat ini. " Atau gue ngundurin diri aja kali ya?" Wajah Niel menegang. " Jangan lah Bell, loe kayak orang yang nggak pernah ciuman aja" " Iyaaaa...Tapi dia bos gue. Mana dia punya cewek lagi! Ntar pak Niel ngira gue mau godain dia. Ya gue juga nggak tau kenapa seneng dia udah nggak sakit dan spontan nyium kening dia" " Ya ampun Bell, di kening doang." " Atau jangan- jangan loe jatuh cinta ya sama papanya Kiara?" tanya Rara menggoda Bella. " Iiih, apaan sih loe!" Senyum Niel makin mengembang mendengarkan kedua gadis tersebut. " Oh ya, gimana blind date loe tadi?" " Ya gitu deh. Biasa aja. Kami ketemuan, makan, ngobrol, dia minta nomor gue, ya gitu aja sih" Seketika raut wajah Niel berubah mendengar Bella yang bertemu seseorang tadi. ( " Jadi tadi dia ninggalin saya sendirian karena pergi bersama pria lain?") batin Niel kesal. Niel lalu mematikan panggilan di teleponnya lalu melemparkannya asal di atas tempat tidur. Meski ia ingin tahu apa lagi yang Bella bicarakan, namun ia kini merasa sangat kesal. ( " Saya nggak akan membiarkan siapapun mempermainkan perasaan saya lagi.") (" Tapi tunggu, kenapa saya harus marah?") *** " Selamat pagi tante" sapa Kiara yang kini telah duduk manis di kursi makan pada Bella yang baru keluar dari dapur dengan nampan berisikan segelas s**u untuk Kiara. " Pagi sayang. Maaf tante tadi dengar kamu lagi mandi. Jadi habis tante siapin pakaian kamu, tante langsung ke dapur. Kok nggak manggil tante sih?" " Kiara kan bisa sendiri tante" " Oh ya tante, kemarin oma nitip salam buat tante. Katanya nanti mau main kesini buat ketemu tante." " Oh ya? Emang Kiara cerita apa aja sama oma?" " Kiara bilang tante Bella cantik, lucu, dan Kiara sayang banget" Bella lalu mengecup pipi Kiara dengan lembut. " Tante juga sayang banget sama Kiara" " Pagi papa..." sapa Kiara pada Niel yang baru menuruni memasuki ruang makan. " Pagi sayang" ucap Niel sambil mengusap kepala Kiara dengan lembut. Bella tiba-tiba merasa salah tingkah. " Hari ini papa yang antar ya" " Beneran pa?" " Iya. Pak Adi lagi kurang enak badan. Papa minta dia ke dokter dulu" " Yeeayyy, Kiara senang kalau papa yang anter." " Ya udah. Makan yang banyak ya" ucap Niel lagi sambil mulai menyantap sarapannya. Ia bahkan tidak melirik pada Bella sedikitpun. " Tante nggak makan?" " Tante udah makan sayang“ Kiara lalu mengangguk dan kembali melanjutkan sarapannya. Bella sedikit menoleh pada Niel yang kembali nampak kaku dan tidak memandangnya. (" Itu dia lagi kenapa sih?" Tapi gue juga ngarepin apa sih?") *** Di dalam mobil menuju sekolah preschool Kiara, tidak ada yang saling berbicara. Kiara sibuk dengan buku gambarnya, Bella yang memainkan ponselnya membalas chatnya bersama Rara, dan Niel yang nampak fokus menyetir meski matanya sesekali melirik Bella yang senyum sendiri. Rara : Jadi loe duduk di mana Bels? Bella : Di depan. Tadinya gue mau duduk di belakang, tapi doi ngomong gini " saya bukan pak Adi". Yakali loe pak Adi, dan gue nyium kening loe. Rara : Hahahaha... Dia udah siuman Bell, udah sadar. Masa iya dia mau selingkuh sama babysitter anaknya. Ini bukan sinetron. Bella : Ya gue juga ogah rebut cowok orang. Tapi serius Ra, gue di mobil serasa keluarga bahagia. Wakakakakak. Rara : Bangun, Bell... Bangun... Orang dia punya cewek cantik, ngapain sama upik abu. Bella : Sialan loe! Udah ah, gue udah mau sampe nih. Bella kemudian memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas. Namun belum sampai satu menit, ponsel miliknya kembali berdering dan membuat Niel makin kesal. " Angkat saja" ucap Niel saat melihat Bella nampak ragu menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Bella mengangguk dan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. " Iya Halo" " Bella kan?" " Iya. Siapa?" " Ini aku, Nathan. Inget kan?" " Oh, iya. Aku inget." (" Aku??? Dan sama saya dia malah bicara dengan formal ?") batin Niel. " Kamu lagi ngapain?" " Aku lagi di jalan." " Boleh aku jemput kalau kamu pulang?" Bella melirik Niel yang menatap tajam ke arah jalanan. " Nggak usah. Aku... Aku telepon nanti ya. Aku udah nyampe." Nathan terkekeh. " Ya udah. Aku tungguin ya telepon kamu" " Iya. Bye." " Bye, Bella" Bella lalu bersiap untuk turun dari mobil ketika Niel berhenti tepat di gerbang sekolah Kiara. " Kiara udah siap?" " Siap tante" " Mmm... Sayang, bisa masuk duluan nggak? Papa mau ngomong sebentar sama tante" Kiara menatap Niel dan Bella bergantian lalu mengangguk ragu. " Tungguin tante di dalam ya sayang. Nah, itu Sisi bukan?" " Iya. Itu Sisi. Kiara masuk sama Sisi duluan ya tante" " Iya. Nanti tante nyusul ya" " Iya. Papa hati- hati ya. I love you, pa" ucap Kiara lalu mencium punggung tangan lalu pipi Niel. " Iya sayang. " Begitu Kiara menutup pintu mobil, Niel langsung menegakkan posisi duduknya. " Bapak...Mau ngomong apa?" tanya Bella ragu. " Saya akan langsung saja." " Saya juga tidak menganggap ciuman kamu itu hal yang luar biasa. Jadi tidak perlu khawatir" Bella tiba-tiba merasa sesuatu yang tidak enak di dadanya. " Kamu tidak perlu merasa terbebani atau bagaimana. Kamu boleh menganggap itu hal biasa. Dan juga, saya minta kamu jangan terlalu memanjakan Kiara. Dalam waktu beberapa bulan kamu akan pergi meninggalkan dia. Saya tidak mau anak saya kecewa nantinya" " Maksud bapak?" " Kamu hanya guru les yang membantu menjaga Kiara sementara waktu. Jadi jangan terlalu dekat dengan dia. Dia bisa saja berharap lebih dan menyangka kamu menyayangi dia" " Saya memang sayang sama Kiara“ " Mana mungkin kamu bisa sayang sama Kiara sedangkan kamu saja baru mengenal kami" " Maaf pak, tapi bapak nggak berhak menilai perasaan saya. Lagipula, saya tulus sayang sama Kiara. Saya juga nggak tahu kenapa. Tapi saya rasa itu bukan hal yang sulit karena Kiara sendiri adalah anak yang baik. Dia sopan, dan juga manis. Dan saya juga tahu kalau Kiara juga sayang sama saya. Kalau masalah saya akan pergi dalam beberapa bulan, itu semua tergantung bapak. Hari inipun, kalau bapak nggak mau atau nggak suka saya dekat sama Kiara dan berkeliaran di rumah bapak, saya bisa pulang sekarang" " Maksud kamu?" tanya Niel dengan menatap Bella dengan tajam. " Saya akan berhenti kapanpun bapak mau. Bapak bisa bilang kapan saja. Dan masalah saya mencium bapak, tenang saja. Itu bukan hal yang istimewa. Kalau nggak ada lagi yang mau bapak sampaikan, saya permisi. Kiara sudah menunggu saya" Niel hanya diam saja. Ingin sekali rasanya Niel melampiaskan kekesalannya namun ia sendiri tidak tahu mengapa ia kesal dengan semua ucapan Bella. Karena melihat Niel tidak bereaksi apapun malah kembali menatap datar ke arah jalanan di depannya, Bella lalu membuka pintu mobil disisinya lalu keluar tanpa sepatah katapun lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN