bc

Penghuni Posko KKN

book_age4+
336
IKUTI
4.0K
BACA
goodgirl
aloof
powerful
student
scary
campus
small town
first love
friendship
horror
like
intro-logo
Uraian

Berawal dari Fatin yang tak sadarkan diri saat pulang dari Safari Ramadhan bersama mahasiswa lain dan juga remaja mesjid. Setelah itu ada beberapa kejadian aneh yang terjadi di posko tempat mahasiswa itu tinggal. Terlebih lagi saat Mira yang mendadak hilang dan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah gubuk dekat kebun sawit. Ternyata desa itu menyimpan sebuah rahasia yang sulit dipahami dan tidak diketahui oleh orang luar.

Penasaran? Jangan lupa mampir ya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pembagian Lokasi KKN
Pagi ini hujan turun lagi. Seperti hari-hari kemarin yang masih menyisakan aromanya yang khas. Membuat suasana di kampus terlihat sepi dari biasanya. Tidak deras, hanya gerimis. Itu pun masih bisa membuat tubuh basah kuyup. Aku menghela napas panjang saat melihat kerumunan di depan ruang Dekan yang bersebelahan dengan ruang pribadi Rektor. Aku tak tahu kenapa pagi-pagi sekali mahasiswa berkumpul di sana. Apa mereka mau melakukan demo lagi? Karena, beberapa hari yang lalu seluruh mahasiswa berdemo untuk menolak kenaikan uang semester yang dipimpin langsung oleh kak Andi selaku ketua presma. Tanganku pelan menyentuh Cindy yang ikut berdiri di belakang kerumunan tersebut. Ia menoleh saat menyadari kedatanganku yang terbilang sudah telat ini. “Syukur kamu datang,” ujarnya. “Ada apa ramai sekali? Apa mereka demo lagi?” tanyaku yang masih fokus menatap mereka satu-persatu. “Bukan. Lokasi KKN kita sudah ditentukan pihak kampus. Sebagian dari mereka ada yang protes karena tak terima ditempatkan di desa itu.” “Kenapa?” tanyaku penasaran. Tak ada yang lebih menarik dari pembahasan ini. Biasanya mahasiswa lebih menyukai kegiatan di luar kampus dibanding dengan kegiatan belajar yang sedikit membosankan. “Ada rumor yang mengatakan bahwa lokasi mereka angker,” lanjut Cindy. “Terus apa hubungannya dengan Dekan?” tanyaku yang masih belum mengerti situasi saat ini. “Iya ada lah, El. Karena Dekan yang menyetujui lokasi tersebut. Padahal pihak kampus sudah tahu bahwa tempat itu tidak aman untuk kita.” “Maksudnya, kita?” aku tahu kemana arah dan tujuan Cindy berbicara dan paham dengan desa yang dia maksud. Cindy mengangguk. “Iya, kita. Anak cowok yang satu lokasi dengan kita tengah berbicara dengan Dekan agar lokasi itu dibatalkan saja dan mencarikan kita desa yang baru.” Aku tak tahu bagaimana harus menanggapi ini. Beberapa minggu yang lalu beredar rumor yang mengerikan tentang desa itu. Entah cerita itu benar atau tidak, yang jelas dengan adanya kabar yang menakutkan telah membuat kami para mahasiswa bergidik ngeri. “Bagaimana hasilnya?” tanyaku saat salah satu teman sekelas keluar dari ruang Dekan dengan wajah cemberut. “Nihil,” jawabnya yang diikuti empat orang cowok yang beda kelas, tapi msih satu jurusan denganku. Satu diantara cowok itu adalah orang yang sangat aku kenali. Aku tak percaya jika kami masih dipertemukan dengan cara yang berbeda. Sebulan yang lalu hubungan kami kandas karena dia menganggap aku perempuan yang suka ngehalu. “Mau kemana?” aku bertanya saat dia hendak meninggalkan tempat semula. Fahmi tak menjawab. Dia melangkah menuju kelasnya yang bersebelahan dengan kelasku. “Fahmi tunggu.” Aku mencoba untuk menghentikan dengan meraih pergelangan tangan Fahmi. Maksudku hendak menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kita berdua. Bagaimana mungkin aku membiarkannya terus berprasangka buruk terhadapku. Fahmi menoleh menggeleng, melepaskan tangannya yang masih kucekal. Fahmi berhasil membuatku kembali merasakan patah hati. “Nggak ada yang harus dijelaskan, ini yang terbaik untuk kita berdua. Aku mau fokus ke kuliah yang sebentar lagi akan selesai. Aku berharap kamu juga begitu,” ujarnya. Aku menelan ludah bersamaan dengan kenyataan yang tengah dihadapi saat ini. Fahmi ada benarnya juga. Kuliah sudah mau selesai, kita harus memikirkan ke depannya harus seperti apa. Kuterima keputusannya saat ini dan kembali memusatkan pikiran untuk KKN. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Madi teman sekelas Fahmi saat kami tiba di depan kelas. Di sana mereka telah berkumpul untuk membahas permasalahan ini. “Jalani saja. Kita nggak bisa berbuat banyak selain mengikuti dan menerima keputusan kampus. Lagian, nggak ada salahnya kita coba dan membuktikan kebenaran rumor tersebut,” Mereka terdiam, mencoba menimbang saranku yang terlalu nekat. Aku menghela napas berat, Fahmi melirikku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia sebenarnya tahu ketakutanku saat ini yang sama seperti mereka. Mungkin bagi cowok bukan suatu masalah, tapi mengingat kami perempuan ada dua belas orang, tentu menjadi pertimbangan bagi mereka karena cowok hanya ada empat orang. “Kamu benar juga. Kenapa kita nggak mencobanya dulu. Siapa tahu rumor itu tidak benar, dan kita nggak sendiri di sana. Ada masyarakatnya juga ‘kan?” Madi mengiyakan saranku tadi. “Tapi, Di. Meski di sana ada penduduknya, nggak mungkin juga mereka nanti akan menjaga kita,” ucap Kevin yang sedari tadi diam. Kevin beda jurusan dengan kami. Dia Pendidikan Agama Islam, sedangkan kami Bahasa Jepang. Meski beda fakultas, interaksi sebagai mahasiswa tetap terjaga karena kita pernah terlibat dalam sebuah projek mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. “Iya, banyak yang mengatakan mahasiswa yang pernah KKN di sana ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Masyarakat tak ada yang tahu tentang penyebab kematian para mahasiswa tersebut.” Yaya ikut menanggapi pembahasan ini. Gadis gemuk dan berkacamata ini terbilang anak yang penakut. Yaya bahkan tak berani tidur sendiri setelah nonton film horor. “Jangan suka men-judge desa orang seperti itu. Kita nggak tahu apa yang telah dilakukan mereka di sana. Bisa jadi mereka melakukan kesalahan, makanya penghuni di sana marah,” tambahku yang diikuti anggukan para cowok. “Benar. Makanya kita harus bisa jaga sikap di tempat orang. Jangan melakukan hal yang tak disukai masyarakat maupun makhluk halus di sana,” lanjut Uky, teman sekelas Fahmi dan Madi. “Ya sudah. Kalau begitu kita sekarang beli perlengkapan yang akan dibawa nanti. Seperti yang kita ketahui, posko KKN itu tak semuanya ada perlengkapan. Dari pada merepotkan warga, lebih baik kita persiapkan dulu barang yang dibutuhkan nanti.” Kami setuju. Setelah Madi mengakhiri kalimat, aku dan teman sekelas yang ada enam orang memutuskan untuk membeli penanak nasi. Sedangkan enam orang lagi yang satu jurusan dengan Kevin membeli piring, gelas dan alat lain. Anak cowok kami minta untuk mengonfirmasi kepada perangkat desa mengenai kegiatan kami nanti. Meski kampus sudah terlebih dahulu memberi kabar pada mereka. Aku dan kelima temanku berkeliling di lantai satu pasar yang baru saja dibuka pasca kebakaran. Kami menuju toko yang menjual perlatan rumah tangga dan memilih barang yang sesuai dengan budget kami. Saat menunggu Yaya yang sedang menawar barang pada penjual agar mengurangi sedikit harganya, ponsel yang masih berada di tanganku berbunyi. Sebuah pesan masuk pada aplikasi w******p. “Jangan datang ke tempat itu, jika kamu ingin selamat.” begitulah isi pesannya yang membuat keningku mengkerut. Cindy yang bisa membaca ekspresi, menghampiriku. “Ada apa?” tanyanya. “Ada yang mengirim pesan padaku, dari nomor baru. Aku tak tahu maksudnya apa?” jawabku sembari memperlihatkan isi pesan itu padanya. “Abaikan saja. Mungkin pesan iseng,” Aku mengangguk. “Iya, kamu benar.” Ponselku kembali berbunyi saat hendak memasukkannya ke dalam tas. Cindy telah kembali bergabung dengan Yaya yang masih belum menemukan harga yang pas. Nomor tadi masih mengirim pesan padaku, kali ini bukan hanya kening yang mengkerut, tapi rasanya seluruh tubuhku membeku saat membaca pesannya. “Jangan abaikan pesan ini, karena aku salah satu korban yang selamat. Lima orang temanku tewas di sana dengan luka yang sama,” ucapnya. “Kamu siapa?” balasku kemudian. “Nggak perlu tahu aku siapa, yang jelas aku sudah mengingatkanmu tentang desa itu.” Lagi-lagi aku berpikir ini adalah pesan iseng yang sengaja dikirim oleh orang yang kurang kerjaan. Lagian, dari mana orang itu tahu tentang kami dan tempat lokasinya. Terlebih lagi ia tahu nomorku, ini pasti kerjaan orang iseng.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook