Bab 2

748 Kata
Malam itu, satu hari sebelum Nahda ke Munich, Jerman untuk melanjutkan program spesialis kedokterannya. Nahda di terima di program spesialis di 2 universitas di negara yang berbeda, keduanya Nahda terima dengan sistem paralel. Ketika sang ayah kembali dari masjid setelah menjalankan sholat isya berjamaah, dikediaman Nahda kedatangan tamu. Dia adalah mantan pacar Nahda saat SMA beserta kedua orang tuanya. Malam itu, sang mantan (Ghaozan) mengkhitbah Nahda untuk menjadi istrinya. Namun karena Nahda sudah dipastikan akan menjalankan program spesialisnya di tahun ajaran itu dan besok adalah waktu keberangkatannya ke Munich, Jerman sebelum dia ke Irlandia, Nahda meminta waktu 2 tahun untuk menyelesaikan program spesialisnya dan dia ingat benar apa yang dia katakan saat itu. "Maaf sebelumnya, disini Nahda terima niat baik dari Ghaozan namun esok Nahda harus berangkat ke Jerman dan Irlandia selama 2 tahun untuk menyelesaikan program spesialis Nahda." Ucap Nahda. "Kenapa harus disana? Indonesia banyak universitas dengan program spesialis yang bagus loh fa" jawab Ghaozan. "Nahda dan terima disana sudah lama, sejak Nahda masih menjalankan intership. Tapi, jika memang Ghaozan tidak bersedia menunggu silahkan,.." ucap Nahda yang di potong oleh Ghaozan "Aku pasti tunggu kamu fa” "Jangan berjanji pada Nahda zan, kita lihat kedepannya seperti apa. Jika suatu hari kamu menemukan seseorang yang memang sudah siap kamu ajak nikah kapan pun kamu mau, silahkan Nahda tidak marah ataupun benci sama kamu. Karna dasarnya jodoh, maut dan rezeki allah yang tau." *** Dua tahun berlalu, Nahda menghela nafas panjang, setelah dua tahun dia tinggal di negeri orang dengan segala perbedaan dan tanpa membuka akun sosial media lamanya hari ini setelah mendapat gelar spesialis yang dia perjuangkan dia siap berkemas untuk kembali ke tanah airnya. Siang itu, setelah dia menyelesaikan administrasi dengan kampusnya di Munich dia mampir ke sebuah taman. Entah kenapa, setelah 2 tahun dia menutup akun sosial media lamanya hari itu dia sangat penasaran dengan sosial media lamanya itu. Ketika sedang melihat isi beranda instagramnya, ada sebuah postingan feed i********: dari Ghaozan yang isinya menusuk hatinya. Foto pernikahan Ghaozan Nahda melihat foto pernikahan Ghaozan dengan caption #latepost. Meskipun merasakan sakit hati namun Nahda tetap mengucapkan selamat melalui direct message aplikasi tersebut ke istri Ghaozan. Nahda kembali teringat dengan kejadian satu malam sebelum keberangkatannya. Flashback on Malam itu, satu hari sebelum Nahda ke Munich, Jerman untuk melanjutkan program spesialis kedokterannya. Nahda di terima di program spesialis di 2 universitas di negara yang berbeda, keduanya Nahda terima dengan sistem paralel. Ketika sang ayah kembali dari masjid setelah menjalankan sholat isya berjamaah, dikediaman Nahda kedatangan tamu. Dia adalah mantan pacar Nahda saat SMA beserta kedua orang tuanya. Malam itu, sang mantan (Ghaozan) mengkhitbah Nahda untuk menjadi istrinya. Namun karena Nahda sudah dipastikan akan menjalankan program spesialisnya di tahun ajaran itu dan besok adalah waktu keberangkatannya ke Munich, Jerman sebelum dia ke Irlandia, Nahda meminta waktu 2 tahun untuk menyelesaikan program spesialisnya dan dia ingat benar apa yang dia katakan saat itu. "Maaf sebelumnya, disini Nahda terima niat baik dari Ghaozan namun esok Nahda harus berangkat ke Jerman dan Irlandia selama 2 tahun untuk menyelesaikan program spesialis Nahda." Ucap Nahda "Kenapa harus disana? Indonesia banyak universitas dengan program spesialis yang bagus loh fa" jawab Ghaozan "Nahda dan terima disana sudah lama, sejak Nahda masih menjalankan intership. Tapi, jika memang Ghaozan tidak bersedia menunggu silahkan,.." ucap Nahda yang di potong oleh Ghaozan "aku pasti tunggu kamu fa" "Jangan berjanji pada Nahda zan, kita lihat kedepannya seperti apa. Jika suatu hari kamu menemukan seseorang yang memang sudah siap kamu ajak nikah kapan pun kamu mau, silahkan Nahda tidak marah ataupun benci sama kamu. Karna dasarnya jodoh, maut dan rezeki allah yang tau" Flashback off Tidak mau terlalu terlarut dengan rasa sakit, Nahda pun segera beristighfar dan bergegas kembali ke penthousenya. Setelah mendapatkan jadwal penerbangan untuk kembali ke tanah air Nahda segera berkemas dan menghubungi beberapa temannya di Munich untuk pamit. Sore itu sebelum malamnya dia kembali ke tanah air, Nahda bertemu dengan dua sahabatnya di Munich dan Nahda membagikan foto terakhirnya bersama dua sahabatnya ke instagramnya A.NahdaRaf Sie sind nicht nur Freunde für mich, Sie sind seit zwei Jahren wie meine Brüder in München. Ich sehe dich sehr vermisst #backtohome #munich Setelah itu, Nahda mematikan ponselnya karena dia sudah harus masuk ke dalam pesawat untuk kembali ke tanah air. **** Sie sind nicht nur Freunde für mich, Sie sind seit zwei Jahren wie meine Brüder in München. Ich sehe dich sehr vermisst : kalian bukan hanya sekedar teman, namun sudah seperti saudaraku selama dua tahun ini di munich. Aku selalu merindukan kalian
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN