Langit menggeleng. Dia masih mengusap pipi Alaina lembut. “Kamu yang sakit.” Jawabnya halus. Dia tidak suka melihat Alaina terluka. Alaina mundur selangkah dengan sebelah tangannya masih digenggam oleh Langit, “saya enggak apa-apa, Pak. Sungguh.” Katanya lalu menatap langit. Dia berusaha meyakinkan Langit bahwa lebam di wajahnya pasti besok sudah sembuh. Langit menggeleng. Dia melangkah maju hingga berdiri menjulang depan Alaina yang bertelanjang kaki. “Kamu pikir saya percaya? Enggak.” Katanya lalu menarik Alaina mengikutinya untuk duduk di sofa. Ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Langit mengulurkan tangannya merapikan rambut Alaina yang masih acak-acakan akibat aksinya sebelumnya. “Masuk.” Teriak Langit masih merapikan rambut Alaina yang terny

