CEO Baru

1572 Kata
Sandi memeluk Alaina. Mereka sedang berada di rumah Sandi. Setelah kacaunya makan siang, Sandi membawa Alaina menuju rumahnya. “Pukul berapa sekarang?” gumam Alaina malas. “Apa jam makan siang sudah mau berakhir?” “Hm.” Gumam Sandi masih memeluk Alaina. “Aku ingin berangkat kerja kalau begitu.” Ucap Alaina kemudian dia tersenyum pada Sandi. “Enggak bisa kamu bolos saja?” Alaina tertawa pelan. “Enggak bisa, Sayang. Nanti aku dipecat.” Sandi menyurukkan wajahnya di leher Alaina. “Kalau begitu, kamu bekerja di tempatku.” Kali ini Alaina terbahak. “Jadi apa? Montir?” Sandi ikut tertawa. Dia akhirnya menghela napas lalu melepaskan Alaina. Alaina turun dari tempat tidur Sandi lalu siap berpakaian. Tadi setelah sampai rumah Sandi, pria itu menuntutnya lagi yang membuatnya mau tidak mau melayani Sandi. Mereka bergulat panas di atas tempat tidur Sandi yang berukuran besar. “Kamu sudah pakai cincinmu?” tanya Sandi. Alaina mengangguk. Dia memperlihatkan cincin tunangannya pada Sandi. “Sudah.” Sandi tersenyum. Beberapa hari lalu Sandi melamarnya yang membuatnya senang bukan main. Menandakan Sandi serius padanya dan itu membuat Alaina yakin bahwa Sandi pasti berubah. “Tidurlah di sini.” Kata Sandi yang membuat Alaina tersenyum. Dia mencium hidung Sandi lalu menggeleng. “Kita belum menikah, ingat? Kita baru bertunangan.” Hidung Sandi berkerut tidak suka. “Apa bedanya? Sama saja. Toh nanti juga kita menikah.” Alaina menggeleng. “Aku harus menjaga kepercayaan Mama dan Ayah, Sayang.” “Ah,” Sandi menjentikkan jarinya, “kapan kita menemui tuamu?” Alaina menyisir rambutnya menggunakan sisir milik Sandi. “Kamu sudah bertemu orang tuaku bulan lalu,” katanya kemudian dipakainya parfum yang selalu dibawanya di tas. “Seharusnya, kapan aku menemui orang tuamu?” tambahnya lalu menatap Sandi seraya tersenyum. “Secepatnya, ya.” Kata Sandi. Alaina ingin membantah. Sandi selalu mengatakan secepatnya padanya, tetapi tidak pernah terjadi. Akhirnya, Alaina memilih untuk tersenyum mengangguk. Dia yakin, Sandi belum siap memperkenalkannya pada orang tuanya. Mungkin orang tua Sandi sedang sibuk. Alaina memakai sepatunya lalu berkacak pinggang menatap Sandi. “Kamu enggak mau antar aku?” Sandi yang masih di tempat tidur menggeleng. “Aku masih lelah karena tadi. Apa kamu enggak lelah?” Alaina menghela napas. “Aku lelah juga, tetapi aku harus kerja.” Sandi mengangguk. “Aku sudah memesankan taksi daring. Sebentar lagi sampai.” “Terima kasih.” Kata Alaina. Dicium bibir Sandi. “Aku pergi.” Sandi mengangguk lagi. “Hati-hati di jalan. Sampai kantor kabari aku.” Itu bukan perintah tapi tuntutan. “Iya.” Kata Alaina lalu terburu-buru keluar dari rumah itu. Dia tidak ingin menghancurkan perasaan Sandi yang sedang baik setelah pergulatan mereka. Taksi yang dipesankan Sandi sudah menunggu. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Alaina terburu-buru masuk ke dalam taksi. “Pak, ke Supperior, ya.” Supir taksi mengangguk kemudian menjalankan mobilnya. Alaina menatap jalan ibukota yang mulai ramai. Dipejamkan matanya seraya berdoa dalam hati semoga hidupnya dapat lebih baik lagi. Dia berharap semoga Sandi dapat berubah menjadi lebih baik lagi. Dia ingin Sandi seperti pria kebanyakan yang menyayangi kekasihnya. Dia yakin, Sandi akan berubah. Dia selalu merapalkan kalimat itu demi meneguhkan hatinya bahwa dia tidak salah pilih. *** Saat hari menjelang sore dan waktunya pulang, Bapak kepala divisi mengumpulkan karyawannya. Alaina termasuk di dalamnya. Dia dan karyawan yang lain bingung dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya kepala divisinya memiliki raut wajah yang tegang dan khawatir. “Oke, teman-teman,” kepala Divisi yang memiliki tubuh gempal itu menyapa bawahannya. Sekejap saja orang yang berada di ruangan itu terdiam termasuk Alaina. “Saya mengumpulkan kalian semua di sini karena ada suatu masalah yang sangat penting.” Kepala divisi berdehem sebelum melanjutkan. “Tadi, masing-masing kepala divisi dipanggil oleh CEO,” ucapnya. Alaina meenggigit bibirnya. Dia membayangkan hal yang tidak-tidak. Walau CEO perusahaannya terkenal ramah pada siapapun, Alaina tetap takut dia akan dipecat karena kinerjanya yang mungkin dibawah standar. “CEO memberitahukan bahwa perusahaan sedang mengalami pailit. Penjualan gawai tidak memenuhi target karena bersaing dengan perusahaan gawai baru yang lebih mumpuni dan dalam sektor harga lebih menjangkau semua kalangan.” Alaina menutup mulutnya. Bukan dia saja yang dipecat melainkan seluruh karyawan. Suasana gaduh. Seluruh karyawan yang jumlahnya ribuan akan dirumahkan dalam jangka waktu yang singkat. Dia harus melakukan berbagai cara agar dia bisa makan, bayar uang sewa rumah dan juga dapat mengirim uang pada orang tuanya. Seketika pikirannya tertuju pada Sandi. Alaina menggeleng pelan. Dia tidak ingin memberitahukan Sandi. Jika Sandi tahu, pria itu akan memintanya untuk tinggal di rumahnya. Dia masih tidak ingin tinggal satu atap dengan Sandi tanpa adanya pernikahan. Dia tidak ingin dikatakan ‘kumpul kebo’ oleh tetangga sekitar rumah Sandi. “Selanjutnya,” ucapan kepala divisi membuyarkan lamunannya, “tidak ada dari kalian semua yang mengalami pemecatan. Tetapi untuk bagian produksi, ada pengurangan karyawan.” Suara riuh membahana. Alaina begitu lega. Dia sangat-sangat lega. Setidaknya divisinya tidak mengalami pengurangan karyawan. Dia tidak jadi mencari pekerjaan baru. Dia tidak jadi memberitahukan pada Sandi bahwa dia dipecat. “Dengar dulu!” kepala divisi berteriak diantara leganya seluruh karyawan. Setelah karyawan tenang, kepala divisi melanjutkan, “perusahaan ini diakuisisi oleh Bierhoff Company.” “Wah.” Alaina terkejut. Dia tahu perusahaan itu. Itu adalah perusahaan besar yang memiliki berbagai bidang industri seperti jasa telekomunikasi T and D, perusahaan gawai Sansi, memiliki beberapa hotel atas nama Bierhoff Hotel dan jasa transportasi atas nama Bierhoff pula. “Karena perusahaan ini akan diakuisisi, CEO baru memberi kesempatan pada kalian untuk membuat surat lamaran sebagai asisten pribadinya yang sanggup bekerja dibawah tekanan.” Bisik-bisik memenuhi ruangan. Alaina tidak tahu mengapa. Dia harus menanyakan pada Jessica karena temannya itu adalah orang yang serba tahu dalam segala hal. Kepala Alaina menoleh ke sana ke mari mencari Jessica yang tidak terlihat. “Cari siapa, Na?” tanya Kaila yang sejak tadi berdiri di sampingnya. “Jessica ke mana?” “Oh,” Kaila mengangguk paham. “Dia belum datang semenjak makan siang.” “Oh.” Alaina ikut mengangguk. Mungkin Jessica tidak datang atau mungkin ada urusan. “Aku enggak ikutan lamar jadi aspri CEO itu.” “Sama.” “Lebih baik jadi karyawan biasa.” Alaina mengerutkan keningnya. Memangnya ada apa dengan CEO baru dari pemilik perusahaan ini? “Kamu tahu enggak, Na,” Kaila berbisik di telinga Alaina. “Apa?” Alaina ikut berbisik. “CEO Bierhoff Company dikenal tegas dan juga galak.” Alaina mengangkat alisnya mendengar ucapan Kaila. Kaila mengangguk menegaskan ucapannya barusan. “Enggak ada yang betah jadi asisten pribadinya. Dia itu banyak maunya. Jadi banyak yang enggak mau lamar jadi aspri dia.” Alaina dulu pernah melihat siaran berita di televisi mengenai penghargaan perusahaan terbaik demi mengurangi pengangguran dan perusahaan itu mendapatkannya. Pemiliknya seorang pria diusia sekitar tujuh puluh tahunan. Wajahnya tegas dan tidak ingin dibantah saat dia berpidato mengucapkan terima kasih. “Ah, aku pernah lihat CEO Bierhoff Company.” Kata Alaina setengah bergumam. “Oya?” Kaila berseru semangat. “Ganteng?” Alaina menggeleng mantap. “Masa?” Kaila menyangsikan ucapan Alaina. “Katanya CEO Bierhoff masih muda.” Alaina mengangkat alisnya. “Kata siapa?” katanya, “CEO Bierhoff itu—” “Oke, teman-teman,” kepala divisi memotong pembicaraan bising bawahannya. “Jika ada diantara kalian yang berminat, bisa serahkan surat lamaran kalian pada saya. Nanti akan saya sampaikan ke bagian HRD.” Alaina tersenyum. Dia ingin mencoba peruntungannya. Ijazah dan sertifikat yang dimilikinya tidak memalukan. Dia pun sebelumnya pernah bekerja sebagai sekretaris walau di perusahaan skala kecil. Dia penasaran, seperti apa CEO yang terkenal galak itu. Apakah sama dengan apa yang dikatakan oleh orang lain mengenainya selama ini. “Na, pulang kerja, kita jalan-jalan. Mau?” Kaila menawarkan diri mengajak Alaina jalan. Alaina mengangguk. Sudah lama dia tidak jalan-jalan dan belanja. “Kutelepon Jessica, ya. Supaya kita bisa jalan bertiga.” *** “Pak, saya yakin Anda butuh hiburan.” Ucap Austin pada Langit. “Hm.” Jawab Langit singkat. Dia memang butuh hiburan. Pekerjaannya sebagai CEO menyita seluruh waktunya. Bahkan waktu tidurnya pun berkurang. Dia masih harus memikirkan prospek selanjutnya sebelum matanya terpejam. “Bapak mau saya bawa ke mana?” tanya Austin lagi seraya menyetir mobil dengan Langit yang duduk di sampingnya. “Terserah.” Austin mengangguk. “Kita minum-minum sebentar, ya, Pak.” Langit hanya bergumam menjawab ucapan Austin. Dia sedang tidak ingin banyak berdebat dengan Austin. Pikirannya tertuju pada wanita tadi. Ketika dia sedang mencoba mengoperasikan teknologi baru dari perusahaan transportasinya di salah satu mobil, dan kebetulan dia mendapat order mengangkut penumpang di salah satu perumahan. Dia mendapat orderan atas nama Sandi namun yang masuk ternyata wanita. Wanita itu sedang bersedih dan banyak pikiran. Dia yakin, wanita itu adalah Alaina. Langit ingin berbicara dengan Alaina namun dia bingung harus berbicara apa. Walhasil, dia lebih baik diam. Austin melirik Langit dari samping. Atasannya itu memang tidak banyak bicara namun kali ini sepertinya lebih irit lagi. Dan yang patut diingat adalah Langit yang duduk di sampingnya bukan duduk di belakang seperti biasanya. Hal itu dia lakukan jika ada yang mengganggu pikirannya. Mulut Austin gatal ingin menanyakan pada Langit namun dia masih menahan diri. “Oke, kita ke klub, Pak. Saya traktir Bapak minum sampai mabuk.” Austin tertawa yang membuat Langit berdecak. Austin mencoba mengalihkan apapun yang mengganggu pikiran Langit. “Saya masih bisa bayar.” Austin masih tertawa. “Saya tau, Pak. Uang Anda banyak dan Anda gengsi terima traktiran saya.” “Austin.” “Itu nama saya, Pak.” Kata Austin meledek Langit. “Kapan kamu bisa diam?” “Hm …. Coba saya pikir,” katanya seraya membelokkan mobil, “ahh, saat saya tidur.” Lanjutnya lalu terbahak. Langit memijit keningnya yang mulai berdenyut. Dia pusing mendengar ocehan Austin yang tidak berguna. “Di klub banyak perempuan cantik, Pak. Siapa tau ada perempuan yang mau cium Anda lagi seperti kemarin itu.” Ucapan Austin mengingatkannya pada Alaina lagi. Mengingat itu membuat Langit memejamkan mata. Sialan Austin. Dia jadi teringat ciumannya dengan Alaina. Tawa membahana Austin membuat Langit membuka mata lagi. Dia melirik Austin yang senang sekali meledeknya. “Kenapa Anda, Pak?” Langit berdecak. “Enggak.” “Mari kita berdoa semoga wanita yang mencium Anda itu ada di klub tempat kita minum.” Kata Austin masih tertawa senang. Langit tahu, Austin meledeknya dan dia tidak ingin menanggapi ledekan Austin lebih lanjut karena itu sama saja dia membenarkan ucapan Austin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN