‘HACHII’
‘HACHII’
Alaina menggosok-gosok hidungnya dengan telunjuk kanan. Hidungnya gatal. “Ah, gara-gara orang itu, aku pilek!”
Dengan gemas dia menarik beberapa helai tisu kering lalu menggosokkannya di hidungnya yang tidak mau bekerja sama. Alaina merengut kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kantor. Dipejamkan matanya sesaat. Saat ini kepalanya mulai pusing. Tadi pagi saat Sandi menjemputnya, dia belum pusing jadi dia masih mau diantar kerja. Kali ini dia ingi sekali masuk ke dalam selimut yang hangat di kamarnya lalu bergelung.
“Na?” Suara Jessica memanggilnya.
“Hm?” jawab Alaina. Matanya menatap langit-langit kantornya.
“Kenapa kamu, Na? bersin-bersin dari tadi.”
Alaina menoleh pada temannya yang berdiri di balik kubikelnya. Alaina menatap tajam Jessica yang menyengir lebar.
“Gara-gara lelaki itu, aku pilek.” Alaina mengulang lagi gerutuannya barusan.
Alis Jessica berkerut. “Siapa, Na? Sandi?”
Alaina menggeram pada pertanyaan Jessica. Dia tahu, Jessica sedang meledeknya. Pasti sahabatnya itu tahu kemana arah makian Alaina. Lalu terdengar tawa Jessica yang senang bukan main sudah berhasil membuat Alaina kesal.
“Kok bisa kamu pilek, Na? kamu diapakan sama Mas-Mas ganteng itu?”
Alaina memutar matanya. “Gara-gara dia, aku mandi jam satu malam,” dia menatap Jessica gemas, “jam satu malam aku mandi, Jess. Bayangkan dinginnya air kamar mandi itu, Jess. Astaga!”
“Kenapa kamu mandi tengah malam?” Alis Jessica berkerut yang membuat Alaina menghela napas mengingat kenapa dia mandi tengah malam.
“Badanku wangi parfum lelaki itu, Jess. Mana bisa aku enggak mandi. Bisa-bisa Sandi marah.” Alaina merengut. Dia sebal dengan pria yang seenaknya saja merapatkan tubuh pada tubuhnya itu.
“Kenapa enggak mandi pakai air hangat, Na?”
Alaina menghela napas lalu memejamkan matanya di kursi putarnya. “Mana aku ingat!”
Jessica lagi-lagi tertawa. “Ciumannya lebih hebat dari Sandi ya? Jadi lupa segalanya.”
UGH!
Alaina ingin sekali menimpuk Jessica dengan stepler kecil yang ada di mejanya. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini Jessica meledeknya.
“Diam, Jess. Kepalaku pusing dengar kamu ketawa.” Alaina memijit keningnya yang berdenyut sakit. Pria sialan dengan bibir mengesankan. Alaina menggeram lagi memikirkan hal barusan.
“Oke, oke ….” Jessica masih tertawa. “Na, makan siang, yuk.”
Alaina menggeleng. “Enggak nafsu. Kamu saja sana. Aku pesan dari sini saja.”
“Oke kalau begitu.” Kata Jessica. Tidak terdengar suara Jessica lagi. Alaina yakin, temannya itu sudah pergi. “Na, memang ciuman lelaki itu hebat ya? Sampai enggak nafsu makan begitu.”
ARGGHH!
Alaina mengambil stepler di mejanya lalu berdiri hendak menimpuk Jessica namun diurungkan. Temannya itu sudah keburu lari tunggang langgang.
‘HACHII’
Alaina kembali bersin. Dia menggosok hidungnya kemudian duduk. “Jessica sialan.” Gerutunya.
Kring! Kring! Kring!
Gawainya berbunyi pelan. Telepon dari Sandi. Alaina berdehem mencoba memasang senyumnya sebelum menjawab telepon dari Sandi.
“Halo?” Sapa Alaina.
“Sayang! Bukan halo!” Suara tidak suka Sandi menyapa pendengarannya yang membuat Alaina memejamkan mata.
“Maaf.” Ucap Alaina. Hanya salah bicara, Sandi sudah mengomel.
“Aku ada di lobi kantormu. Turun. Kita makan siang.”
Alaina meraih tisu lagi lalu menjepit hidungnya. Dia tidak lapar namun dia harus menuruti apa yang Sandi inginkan. Dia tidak ingin Sandi marah. “Tunggu sebentar. Aku merapikan meja.” Ucap Alaina lalu berdiri seraya merapikan berkas-berkas yang berserakan di mejanya.
“Enggak perlu, Na! cepat!”
Alaina berusaha menahan kesalnya. Dia segera berjalan keluar dari ruangan terburu-buru. Dia tidak ingin Sandi melakukan hal bodoh di lobi kantornya.
“Ya.” Jawab Alaina lalu menutup teleponnya seraya berlari. Dia malas mendengar Sandi yang marah-marah.
***
“Aku sudah bilang berapa kali baru kamu dengar, Na?”
Sandi dan Alaina sedang di restoran. Alaina menunduk. Dia berusaha menutupi rasa malunya pada para pengunjung restoran yang lain. Sandi membentaknya di kerumunan orang.
“Na! angkat kepala kamu! Lihat aku!” bentakan itu membuat Alaina ingin sekali menjadi kecil seperti Alice in Wonderland lalu menghilang. “Alaina!” bentakan Sandi membuat Alaina akhirnya mengangkat kepalanya.
Alaina malu. Orang-orang berbisik-bisik menatapnya. Alaina ingin menangis saat ini juga namun dia tidak ingin melakukannya. Menangis hanya membuat Sandi senang karena pria itu membuktikan bahwa dia berkuasa.
Sandi menatap Alaina lalu tatapan pria itu berubah melembut. “Alaina,” Sandi mengulurkan tangannya lalu mengusap kepala Alaina. “Maaf. Aku sedang banyak masalah di kantor.”
Wanita itu hanya diam. Jika sudah berhadapan dengan Sandi, dia tidak bisa melakukan apapun selain menurut. Dia mencintai Sandi dan dia berharap Sandi dapat berubah. Mereka sudah berpacaran selama hampir empat tahun. Dia mengenal Sandi saat di bangku semester akhir kuliahnya. Sandi termasuk mahasiswa yang mengulang semester.
Awal masa berpacaran dahulu, Sandi sangat manis dan baik hati. Dua tahun setelah mereka berpacaran, Sandi mulai menampakkan sifat aslinya. Sandi yang posesif dan temperamental namun Sandi dapat berubah seperti malaikat. Alaina tidak dapat berpisah dengan Sandi. Alaina sudah terlanjur mencintai Sandi walau hubungan mereka sudah tidak sehat lagi.
Jessica sudah berulang kali meminta Alaina putus dengan pria itu tetapi Alaina tidak mau. Alaina yakin bahwa Sandi dapat berubah. Dia hanya harus bersabar sedikit lagi dan dia yakin, akan indah pada waktunya.
“Kamu dengar apa yang aku bilang tadi?” tanya Sandi dengan suara lebih lembut.
Alaina mengangguk.
“Apa?” tantang Sandi.
Alaina menelan ludahnya. Dia menatap Sandi lalu memasang senyum terpaksanya dan berkata, “jangan pernah membantah kamu. Jangan panggil kamu halo tapi panggil sayang waktu kamu telepon.”
Sandi tersenyum mendengar ucapan itu. Dia mendorong makanannya pada Alaina. “Makan yang banyak.” Ucap pria itu masih tersenyum.
Alaina melirik makanan Sandi yang berubah spageti kemudian menggeleng. “Aku sudah kenyang, Sandi.”
Mendengar itu Sandi menggebrak meja. Dia tidak suka Alaina membantahnya. “Kamu sudah janji!”
Alaina menatap Sandi. Dia dapat melihat betapa Sandi sangat murka padanya. Sandi berdiri dari duduknya, diangkat piring berisi makanan itu tinggi-tinggi. Alaina tahu ujung dari piring itu berlabuh ke mana. Ke kepalanya. Alaina menunduk lalu memejamkan mata. Siap menerima hantaman piring itu di kepalanya.
Masih memejamkan mata, kening Alaina berkerut. Kenapa kepalanya tidak terkena hantaman? Apakah Sandi berubah pikiran?
Takut-takut, Alaina membuka mata lalu perlahan mendongak. Ternyata tangan Sandi yang memegang piring itu ditahan oleh seorang pria. Pria itu memiliki postur tubuh tinggi dan tegap. Rambut pria itu berwarna cokelat karamel serta memiliki sorot mata yang tajam.
“Kamu memperlakukan wanita seperti itu? kamu lebih rendah daripada binatang.” Geram pria berambut cokelat karamel itu pada Sandi. Nada suaranya begitu dalam dan serak.
“Jangan ikut campur.” Sandi tidak mau kalah. Matanya menatap tajam pria itu dan siap untuk berkelahi.
“Aku perlu ikut campur karena ini adalah restoranku. Kamu membuat keributan, pergi dari sini.”
Alaina menatap pria berambut cokelat karamel yang ternyata pemilik restoran. Buru-buru Alaina berdiri. Dia meraih pergelangan tangan pemilik restoran yang membuat pria itu meliriknya.
“Maafkan kami, Pak. Saya yang salah di sini.” Ucap Alaina. Dia tidak ingin Sandi mengalami masalah. Jika itu terjadi, dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Pria yang mengaku pemilik restoran itu menarik paksa piring yang masih dipegang oleh Sandi. “Pergi kalian.” Katanya dengan nada tajam dan tidak suka.
Alaina mengangguk. Dia menarik lengan Sandi yang masih menatap pemilik restoran penuh dendam agar segera pergi dari tempat itu.
“Ayo, sayang, kita pergi.” Pinta Alaina. Dia sudah malu. Pemilik restoran sendiri yang turun tangan. Ini semua salahnya. Seharusnya dia menuruti apa yang Sandi minta agar tidak terjadi masalah.
Sandi berbalik menyeret Alaina hingga wanita itu tersaruk-saruk dibawah tarikan Sandi, sedangkan pria berambut karamel itu menatap kepergian mereka dengan kemarahan karena merasa iba pada wanita yang ditarik paksa itu. Dia berdecak.
“Pak, Anda benar-benar mau beli restoran ini?” pertanyaan muncul dari orang yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
“Enggak.” Jawabnya singkat.
“Tapi tadi Anda bilang kalau Anda pemilik restoran ini. Apakah perlu saya buatkan janji dengan pemilik restoran, Pak?”
“Enggak.” Geramnya. Dia sedang kesal saat ini. Dia tidak menyangka ada pria yang ringan tangan seperti itu.
“Yakin, Pak?”
Dia memejamkan mata. Dia tidak ingin menjadi pria tadi yang dia dengar bernama Sandi. Ditarik napasnya lalu dihembuskan perlahan. “Enggak, Austin. Kamu dengar?”
Austin mengangguk. “Tapi kenapa Pak Langit tadi ….”
“Berisik, Austin.” Pria yang bernama Langit itu menghela napas panjang pada ucapan Austin yang menurutnya tidak berguna sama sekali.
“Oke,” Austin mengangguk di belakangnya. Lalu pria itu berjalan dan berdiri mensejajarinya. “Apa Anda jadi makan di sini?”
Langit menggeleng. “Pulang. Pusing.” Melihat pertengkaran tadi membuat diia berpikir dua kali untuk makan di restoran ini. Dia tidak merasa nyaman dengan kebisingan restoran. Dia lebih memilih mencari restoran yang sepia tau pulang saja. Makan di rumah dengan pesan makanan melalui telepon.
Mata Austin berkedip. “Apa, Pak? Pulang pusing itu bagaimana? Kepala pusing mau pulang? Begitu, Pak?”
Langit menghela napas mendengar cerocosan Austin. Lama-lama dia iritasi mendengar pertanyaan bodoh itu. “Austin, berisik.” Ucapnya lalu berjalan meninggalkan Austin yang masih bingung. “Bagaimana bisa Kakek memberikan tugas direktur pada Austin. Otaknya saja setengah.” Langit menggerutui Kakeknya dan berpikir jika Austin memegang kendali direktur, dia pasti cepat tua.
Langit berdecak. Dia menunggui Austin di depan restoran dengan pandangan iritasi yang sama. “Austin!” panggilnya pada Austin yang berjalan seraya berpikir. “Austin! Astaga!” panggilnya yang membuat Austin terperanjat lalu berlari menghampirinya.
“Kamu itu kenapa?” tanya Langit tidak sabar.
“Pak,” alis Austin bertaut. Dia sedang berpikir dan itu membuat Langit berdecak. “Saya seperti pernah lihat wanita tadi, Pak.”
Langit tidak menanggapi. Dia berjalan menuju mobilnya. Dibuka pintu mobil hendak masuk ketika didengarnya Austin berkata nyaring.
“Pak! Dia ‘kan perempuan yang Bapak cium dua kali!”
DUK!
“Aduh!” Langit menggeram mengusap kepalanya yang terantuk pinggiran atap mobil.
“Pak! Kenapa?!”
Langit berdecak masih mengusap kepalanya. “Kamu pikir saya kenapa?” tanya Langit kesal.
Hari ini hatinya sedang kesal. Tadi pagi Kakeknya memintanya untuk segera menikah mengingat usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Hal itu membuat Langit kesa namun dia tidak ingin membantah Kakeknya. Dia hanya mengangguk seraya berkata akan mencari calon istri entah di mana.
“Kok bisa Anda kejedot, Pak?”
Langit menatap Austin dengan sebal. “Austin!” geramnya.
Austin mengangkat kedua tangannya menyerah. “Baik, Pak.” Katanya lalu berlari masuk ke bagian kursi pengemudi. Saat sudah duduk di kursi pengemudi, Austin menoleh pada Langit yang sedang memeriksa beberapa email masuk dari gawainya. “Apakah enggak lebih baik Anda memberikan sedikit uang Anda pada pencari kerja seperti supir, Pak?” kata Austin lagi. Menatap Bosnya dengan pandangan mencela.
Langit memasukkan ponselnya ke dalam saku jas kerja yang dipakainya lalu melihat Austin dengan alis terangkat namun tidak mengatakan apapun. Austin dan kecerewatannya adalah hiburan tersendiri bagi Langit.
Austin berdecak. Dia berpikir bahwa atasannya itu tidak paham dengan peribahasa yang dia berikan. “Pak, ‘kan uang Anda banyak. Cari supir pribadi yang bisa membawa Anda ke manapun Anda pergi. Atau Anda belajar setir mobil, Pak. Percuma Anda ganteng tapi enggak bisa naik mobil. Saya sebentar lagi enggak bisa bawa Anda ke manapun Anda pergi, Pak.”
“Saya bisa bawa mobil.” Kata Langit datar.
Austin kembali berdecak. “Kalau begitu, kenapa Anda enggak bawa sendiri mobilnya?” Austin mulai kesal.
“Buat apa ada kamu kalau saya yang bawa. Dikira orang, kamu Bos dan saya supirmu.”
Austin memutar matanya. “Terserah Bapak kalau begitu.” Kembali dia menghadap depan. Dinyalakan mobilnya kemudian bergerak menjauhi restoran. Berbicara dengan Langit hanya membuat darahnya naik dan Austin tidak ingin darahnya naik. Cukup jabatan saja yang naik, batinnya.
***