“Kamu masih pakai tanda pengenal di pinggangmu.” Jawab pria itu. “Kutanya sekali lagi, kamu mau apa?”
Pertanyaan yang terdengar di telinga Alaina adalah tuntutan. Pria itu sepertinya senang memerintah dan Alaina masih menebak-nebak, siapa pria itu sebenarnya.
Alaina berdehem. “Aku sedang melakukan permainan bersama teman-temanku. Aku mendapatkan tantangan untuk mencium kamu.”
Alaina meringis saat mengatakan itu. Terlebih pada kata ‘mencium’. Dia hanya berdoa semoga teman-temannya tidak memotretnya lalu menyebarkannya ke media sosial. Dia tidak ingin Sandi murka padanya.
“Begitu, ya.” Jawab pria yang ada di hadapannya.
Alaina dapat merasakan nafas pria itu di wajahnya. Lalu dirasakannya pinggangnya ditarik lebih dekat oleh pria yang ada di hadapannya. Alaina hanya berdoa semoga pria itu hanya menciumnya. Bukan hendak melecehkannya. Jika itu terjadi, dia harus siap menendang alat vital pria itu.
Kemudian, dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya lalu menekan bibirnya. Alaina terpaku. Pria tersebut dengan lembut mencium bibirnya. Dia sering berciuman dengan Sandi namun ciuman Sandi tidak seperti ciumannya dengan pria ini. Pria ini memperlakukannya sangat teramat lembut. Pria tersebut masih menciumnya tanpa memedulikan keterkejutan Alaina.
Pria itu melepaskan ciumannya. “Bolehkah aku menciummu sekali lagi?” bisik pria itu di bibirnya. Aroma mint menguar masuk ke hidung Alaina. Pria itu tidak merokok, tidak seperti Sandi. Belum Alaina menjawab, pria itu menciumnya sekali lagi.
Ciuman berlanjut. Alaina terhanyut hanya dengan ciuman seorang pria asing yang dia tidak tahu bagaimana rupanya. Bibir pria itu begitu lembut di bibirnya. Dan Alaina menyukainya.
Tiba-tiba saja pria itu melepaskan ciumannya lalu mendorong Alaina pelan. Alaina tidak tahu mengapa pria itu melakukan itu. Alaina tidak menyadari bahwa pria tersebut sudah pergi begitu saja meninggalkannya yang masih berdiri terpaku di tempat tersebut. Bahkan Alaina tidak tahu bahwa dia mencium pria yang salah.
“Alaina!” teman-temannya menghampirinya.
Jessica buru-buru membuka ikatan sapu tangan di kepala Alaina. Dia menatap Alaina penuh permohonan maaf. Begitu pula temannya. Alaina yang bingung, menatap mereka satu persatu.
“Kalian kenapa?” tanya Alaina masih bingung.
“Na,” Michelle menatap Alaina penuh permohonan maaf di matanya. “Na,” bisiknya lagi. Dia beenar-benar tidak enak pada Alaina.
“Kenapa? Tantangan dari kalian sudah aku lakukan. Masih kurang?” tanya Alaina tidak mengerti.
“Na,” Jessica berbisik, “kamu mencium orang yang salah.”
“APA?!” Alaina memekik. Dia benar-benar ingin masuk ke dalam tanah saja detik itu juga. Dia benar-benar malu.
“Na, mau lihat bagaimana orangnya, enggak?” Kali ini Kaila bersuara. Dia meremas ponsel yang ada di tangannya. Kaila gugup.
Alaina sudah terlanjur malu. Dia menggeleng. “Enggak perlu,” ucapnya bergumam. “Kalian benar-benar membuatku malu. Astaga! Terus siapa orang yang aku cium?”
Michelle mengigit bibirnya. “Sepertinya teman dari target yang seharusnya kamu cium, Na. Kami suruh kamu lurus tapi kamu malah belok … kanan.” Suara Michelle mencicit bagian akhir.
Alaina menggeram. “Bagaimana bisa aku lurus kalau mataku kalian tutup?!” Dia mengacak rambutnya. “Sudahlah. Biarkan saja.” Gumamnya lalu beranjak dari tempat itu.
“Na, mau ke mana?” tanya Jessica membuntuti Alaina.
“Minum.” Jawab Alaina menuju meja mereka lalu meneguk habis minumannya.
***
Alaina menggosok-gosok bibirnya dengan scrub bibir berulang kali. Dia tidak ingin rasa bibir pria itu masih menempel di bibirnya. Bisa gawat jika Sandi merasakan aroma maskulin dari pria itu, lalu sedetik kemudian matanya melebar. Dia membaui tubuhnya.
“Sial, wangi parfum mahal.” Gerutunya. Dia memerhatikan jam dinding. “Pukul satu malam.” Erangnya. Dia tidak ingin mandi malam-malam namun jika tidak dia lakukan, besok pagi Sandi akan marah.
Sandi yang setiap hari menjemputnya itu selalu datang tiba-tiba. Sandi memiliki kunci ganda dari rumah yang Alaina tempati. Dia tidak ingin Sandi mencium aroma pria lain di tubuhnya. Dengan gontai, dia menuju kamar mandi. Disentuhnya air lalu meringis.
“Dingin.” Katanya menggigil. Mau tidak mau dia mandi. Dia berpikir akan memakai jaket dan kaus kaki setelah mandi nanti. Dia tidak ingin masuk angin karena mandi malam-malam.
“Ini semua karena kamu!” katanya kesal pada pria yang menciumnya dan membayangkan pria itu ada di hadapannya. “Kenapa mesti nempel? Kenapa mesti minta cium dua kali?” Alaina menggeram kesal.
“Awas kalau ketemu nanti!” makinya kemudian dia terdiam. “Bagaimana aku tau wajahnya? Mataku saja ditutup.”
Alaina mengacak rambutnya. Karena pria asing itu, kinerja otaknya mulai bermasalah.
***
Pria itu duduk memerhatikan jalanan ibukota yang ramai dari kursi penumpang mobilnya yang mewah. Sesekali dia menjilat bibirnya. Bibir yang tadi dia gunakan untuk mencium seorang wanita. Dia masih merasakan aorma stroberi di lidahnya. Dia bukan pria yang dengan mudah memberikan bibirnya pada wanita manapun. Tetapi kali ini dia dengan mudahnya mencium wanita tidak dikenalnya dan memintanya dua kali. Dia meremas tangan kiri yang ada di pangkuannya.
“Apa perlu saya belikan Anda tisu basah, Pak?” tanya pria yang duduk di sampingnya.
Pria yang dipanggil Pak tersebut menggeram. “Austin, diam. Aku sedang berpikir.”
Terdengar dengusan pria yang dia panggil Austin tersebut. “Apa yang Anda pikirkan hingga Anda menjilati bibir Anda berulang kali?” Austin mulai meledeknya, “ah, Anda masih terngiang dengan ciuman wanita seksi tadi?”
Nah, dia ingin sekali melemparkan Austin keluar dari kursi penumpang. Tetapi tidak dia lakukan. Austin adalah orang kepercayaannya. Tangan kanannya yang sangat dia butuhkan.
“Austin,” dia menggeram. Tatapannya sejak tadi tidak lepas dari jendela yang ada di sampingnya, “bisakah kamu diam?”
Austin mengangguk antusias. “Bisa.” Jawabnya singkat.
“Diam.” Perintahnya pada Austin yang membuatnya seketika diam.
“Tetapi, Pak,” Austin mulai berkata lagi, “saya heran, ada orang seperti wanita tadi. Yang mau-mau saja disuruh temannya. Permainan apa yang dia lakukan itu? saya penasaran.”
Dia diam. Dia tidak mau menanggapi ucapan Austin yang malah membuatnya terus kepikiran. Austin sialan itu membuatnya berpikir juga. Permainan apa yang wanita itu lakukan? Dia menyembunyikan senyumnya. Dia sudah tahu siapa nama wanita itu dan wajahnya melalui tanda pengenal kantor tempat wanita itu bekerja.
“Austin,” gumamnya yang ditanggapi Austin dengan gumaman pula. “Carikan saya data mengenai perusahaan gawai bernama Supperior. Sekarang.”
Alis Austin bertaut. “Untuk apa, Pak?” tanyanya yang ditanggapi dengan lirikan tajam dari Bosnya. Austin menghela nafas. “Sebentar, Pak.” Katanya lagi kemudian dia mulai berkutat pada sebuah layar berukuran selebar buku catatan. Dia mencari-cari sesuatu yang diperintahkan Bosnya kemudian diberikan benda itu pada Bosnya.
Pria tersebut menerima benda tersebut. Dia membaca dengan teliti sejurus kemudian dia tersenyum.
“Kenapa, Pak?”
Dia memberikan benda tersebut kembali pada Austin. “Saya tertarik dengan perusahaan itu. Hubungi CEO perusahaan itu. Buatkan jadwal pertemuan saya dengannya.”
Austin mengangguk. Dia segera mencatat hal yang harus dikerjakannya besok. Lalu Austin berdecak. Dia menatap Bosnya penuh pengharapan yang membuat Bosnya menatapnya dengan alis terangkat.
“Ada apa?”
“Pak, tidakkah Anda mencari sekretaris saja? Minggu depan saya sudah dipindahkan oleh Tuan Tama di—”
“Kamu hanya dipindahkan tugas menjadi Direktur, Austin.” Sela pria itu tanpa ekspresi.
“Dan itu membuat saya bekerja lebih ekstra, Pak. Anda enak. Hanya duduk tanda tangan. Kalau saya? Apakah Anda enggak kasihan pada saya, Pak?”
“Kalau begitu, kamu saja jadi CEO.” Ucap pria itu masih tanpa ekspresi yang membuat Austin gemas.
“CEO, Pak?” Austin menatap pria yang duduk di sampingnya dengan takut, “enggak terima kasih. Saya jadi Direktur saja. Saya enggak mau Pak Tama memenggal kepala saya.”
Pria itu berdecak pada ucapan Austin. “Kamu berlebihan, Kakek saya enggak seperti itu,” lalu dia menatap Austin, “mau saya tanyakan pada Kakek?”
Austin tahu bahwa pria yang ada di sampingnya itu sedang meledeknya. Walau tatapan pria itu datar tanpa ekspresi, Austin dapat melihat sebuah ledekan dari ucapannya. Dia sudah berteman dengan pria tanpa ekspresi itu sejak duduk di bangku sekolah menengah. Mereka pun kuliah mengambil jurusan yang sama pula.
Sepanjang ingatan Austin, temannya yang duduk di sampingnya itu tidak banyak memiliki kekasih. Seingatnya hanya dua orang dan itu pun tidak berlangsung lama. Kebanyakan dari gadis-gadis yang menjadi pacarnya tidak betah dengan sikap datar itu. Terakhir temannya patah hati adalah empat atau lima tahun lalu. Ketika dia benar-benar bersiap melabuhkan hatinya, ternyata wanita itu hanya memperalatnya. Menjadikannya mesin uang. Austin merasa kasihan mengingat itu. Tetapi sahabatnya itu seperti tidak peduli walau Austin yakin, sahabatnya itu sedang patah hati.
“Pak, kriteria wanita seperti apa yang Bapak suka?” tanya Austin tiba-tiba.
Pria yang duduk di sampingnya itu mengerutkan alisnya. “Buat apa?”
Austin mengangkat bahu. “Saya mau mencarikan Bapak jodoh?” katanya tidak yakin sendiri.
“Hmm ….” Dia bergumam menanggapi ucapan Austin. “Entahlah.” Gumamnya kemudian namun masih dengan alis yang bertaut. Seperti ada sesuatu yang dia harus pikirkan namun entah apa.
“Loh, Bapak enggak punya kriteria wanita idaman?”
Pria itu menatap Austin lalu bertanya kembali yang membuat Austin bingung harus menjawab apa, “Austin, apa aku melupakan sesuatu?”
“Hah?”
Terkadang, sahabat sekaligus Bosnya itu memiliki jalan pikiran yang aneh.
***
Pria itu merebahkan dirinya di tempat tidur lalu menerawang. Hari sudah sangat larut malam. Jendela kamarnya dia biarkan terbuka. Semilir angin malam masuk melalui tirai putih yang bergerak-gerak.
Pikirannya tertuju pada wanita itu. “Alaina Clarissa.” Bisiknya. “Kamu enggak tahu apa yang sudah kamu lakukan padaku. Dan kamu harus membayar apa yang sudah kamu perbuat.” Ucapnya lagi.
Tatapannya tajam. Dia masih mengingat ciuman itu. Jari jemari yang dengan lembut menelusuri jas kerjanya. Menarik pelan dasi yang dipakainya lalu hendak bergerak menyentuh wajahnya yang untungnya dia cegah dengan pertanyaan. Jika tidak, entah dia harus berbuat apa pada wanita itu.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan pada wanita itu. jika saja wanita itu tidak tertutup matanya dengan sapu tangan, dia akan malu sekali sudah meminta ciuman lagi. Dia menyukai rasa stroberi yang ada di bibir wanita itu. Dia menyukai aroma stroberi itu, yang menurutnya membuatnya merasakan dekat dengan wanita itu.
Dia berdecak lalu bangkit duduk. Diacak rambutnya kesal. “Kenapa?” geramnya. Tidak habis pikir dengan kejadian tadi.
Kring! Kring! Kring!
Dering gawainya membuatnya mengambil benda itu dari nakas. Bibirnya tersenyum melihat siapa yang meneleponnya.
“Halo?” sapanya lembut.
“Langit! Cucuku!” suara ceria milik pria membuatnya tertawa pelan.
***