Bayu mengangguk mengerti walau tatapannya sedikit kecewa. “Oh.” Gumamnya. Langit merasa tidak enak. Dia yakin, orang di hadapannya ini memang temannya semasa sekolah dasar namun ingatan masa kecilnya benar-benar samar. Langit berdehem. Dia mungkin harus mengatakan yang sesungguhnya. “Saya kecelakaan pesawat saat ke Los Angeles,” ucap Langit seraya tersenyum. Bayu terkejut, “saya mengalami amnesia permanen menurut dokter yang dahulu merawat saya.” “Ah!” Bayu kembali terkejut mendengar penuturan itu, “Maaf, saya kira kamu sombong.” Langit segera menggeleng kemudian menunduk memerhatikan gawainya. Disodorkannya gawainya pada Bayu, “boleh masukkan saya ke grup sekolah?” Bayu mengangguk antusias lalu menerima gawai itu. “Semoga saya bisa kenal sedikit demi sedikit. Harapan akan selalu ad

