Akhirnya Langit menghela napas. Dia seharusnya tidak perlu merasa seperti itu. Dia akan berusaha membuat Alaina mencintainya. Dia sadar, saat ini Alaina tidak mau lepas darinya karena bayi yang ada di dalam perutnya. Bayinya menginginkan dirinya tidak jauh-jauh darinya. “Maafkan aku,” gumam Langit. “aku enggak ingat.” Mengenai mimpi Alaina, dia pun sama tidak mengingatnya. Ingatan cincin yang melekat di jari manis Alaina pun dia harus berusaha keras. Entahlah, dia hanya berharap ingatannya kembali. Sudah lama dia kehilangan ingatan indahnya bersama Alaina kecil. Dia ingin sekali mengingat lucunya Alaina kecil. Alaina menumpukan dagunya di da-da pria itu. “Aku pun enggak ingat sama sekali.” Katanya dengan alis berkerut, “tetapi mimpi itu terasa nyata. Aku sudah dua kali bermimpi seperti

