“Dari mana saja kamu, Na?” Pertanyaan Sandi membuat Alaina yang baru saja sampai di rumah Sandi hampir terkejut. Dia disuruh Sandi untuk merapikan rumahnya namun dia datang terlambat. Hari sudah gelap ketika dia sampai. Sandi sedang duduk di ruang tamu dengan lampu yang belum dinyalakan. “Kerja.” Kata Alaina. Dia tidak ingin berdebat dengan Sandi. Dinyalakan lampunya lalu menaruh sepatunya di rak. “Bohong.” Alaina mengela napas. “Aku serius.” Katanya lelah dengan kecurigaan Sandi yang tidak beralasan. “Kami lembur karena besok CEO baru Supperior mau datang. Kami harus siapkan berkas-berkas yang—” “Aku enggak peduli!” Alaina menatap Sandi yang sekarang berjalan menghampirinya. Tatapan pria itu benar-benar marah. Entah kenapa Sandi seperti itu. Sandi berjalan semakin dekat membuatnya

