“Kamu mau melamar sebagai asisten pribadi CEO baru?” tanya kepala divisi pada Alaina.
Alaina mengangguk mantap. Dia ingin kehidupannya berubah. Dia ingin memiliki uang lebih agar dapat mengirimkan uang pada orang tuanya.
“Oke.” Angguk kepala Divisi. “Pagi ini akan saya sampaikan. Kebetulan saya akan bertemu dengan CEO baru. Dia akan mengunjungi perusahaan ini.”
Alaina tersenyum. Dia hanya berdoa semoga lamarannya diterima. “Terima kasih banyak, Pak, atas bantuannya.”
Kepala Divisi mengangguk. “Kamu boleh kembali bekerja. Akan saya kabari kalau kamu diterima.”
Alaina menunduk hormat. “Baik, Pak, saya permisi.”
Alaina mundur kemudian keluar dari ruangan kepala Divisi. Di luar ruangan kepala Divisi, beberapa teman satu ruangannya menatap Alaina heran.
“Na, kamu benar mau melamar kerja jadi aspri?” tanya Kaila.
Alaina mengangguk. “Kenapa?” tanyanya heran.
“Eh,” Michelle menarik Alaina menjauh dari depan pintu kepala Divisi. Alaina yang ditarik hanya menurut. “Kamu enggak tahu, ya? ‘kan CEO perusahaan Bierhoff Company itu dikenal tegas dan … galak.” Kata Michelle lagi dengan mengatakan kata ‘galak’ perlahan.
“Yah,” Alaina mengangkat bahu, “kalau kerja kalian enggak becus yang dia pasti marah. Kalau kerja kalian becus, kalian enggak akan kena damprat. Simpel, ‘kan?”
Jessica menggeleng pada ucapan Alaina. “Kamu tuh, Na.”
Alaina berkacak pinggang di depan teman-temannya. “Kenapa memangnya kalau aku lamar kerja jadi aspri? Kalian enggak suka?” bibir Alaina mengerucut kesal.
Pagi ini dia sudah bertengkar dengan Sandi hanya gara-gara masalah sepele yaitu mengenai pemilihan sarapan pagi. Alaina yang ingin makan roti atau buah dan Sandi yang ingin makan nasi kuning. Hal kecil itu membuat Sandi ngamuk. Tunangannya itu ingin Alaina makan nasi padahal perut Alaina tidak bisa jika makan nasi pagi-pagi sekali. Dan sekarang perutnya tidak enak karena terpaksa makan nasi.
“Bukan begitu, Na.” Jessica menjawab pertanyaan Alaina yang kesal. “Kami peduli.” Katanya lagi.
Alaina mendengus. “Kalau begitu aku minta uang kalian! Aku butuh uang untuk bayar sewa kontrakan yang kurang.” Katanya lalu menyodorkan tangannya pada kedua temannya.
Teman-temannya terkejut pada ucapan Alaina. Kaila menggeleng pelan. Michelle menutup mulutnya dengan kedua tangannya sedangkan Jessica melongo. Mereka tidak menyangka Alaina akan mengatakan itu. Alaina yang mereka kenal sebelumnya adalah gadis periang yang tidak memikirkan segala masalah termasuk uang. Alaina yang mereka kenal adalah Alaina yang berpikir bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Alaina yang mereka kenal adalah orang yang baik hati.
“Nah, kalian enggak bisa, ‘kan?” Alaina bersidekap. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku butuh pekerjaan ini agar aku bisa makan dan bayar sewa kontrakan. Kalian ini.” Katanya kemudian berbalik pergi. Dia tidak ingin teman-temannya tahu bahwa dia ingin menangis.
Alaina mengusap kedua matanya lalu keluar dari ruangan kerja. Dia tidak memedulikan teman-teman satu divisinya yang memerhatikannya heran. Perutnya sakit dan dia butuh ke toilet dengan segera. Ada yang harus dia keluarkan.
Alaina mengusap matanya yang berkaca-kaca. Dia tahu bahwa temanya hanya berusaha perhatian padanya. Namun baginya itu saja tidak cukup. Jika dia keluar dari pekerjaannya sekarang, dia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Dia pun tidak mau bergantung pada Sandi. Dia tidak ingin Sandi mengungkit-ungkit permasalahan jika mereka bertengkar.
BRUG!
Alaina jatuh terduduk. Dia meringis merasakan bokongnya yang sakit. Dia mengerang dan tidak ingin menyalahkan orang yang sudah menabraknya. Dia sadar bahwa dirinya memang ceroboh. Sebuah tangan terulur padanya.
“Anda tidak apa-apa, Nona?”
Alaina mengangguk menerima uluran tangan itu lalu berdiri. “Ya.” Katanya mengusap bokongnya yang sakit. “Maaf, Pak.” Tambahnya lalu mendongak. Alisnya berkerut melihat pria yang berdiri di hadapannya. Dia seperti mengenal pria itu namun entah di mana. Matanya mengerjap menatap seksama pria bertubuh tinggi di hadapannya.
“Ada yang sakit, Nona?” tanya pria itu menatapnya dengan alis berkerut. Tangannya masih menggenggam tangan Alaina.
Alaina merasakan telapak tangan pria yang ada di hadapannya tersebut begitu halus. Berbeda dengan telapak tangan sandi. Mata Alaina mengerjap pelan. Dia berdehem berpikir kenapa dia membandingkan Sandi dengan pria yang ada di hadapannya ini. Sandi seorang pekerja keras jadi wajar saja tangannya sedikit kasar. Ditarik tangannya dengan pelan kemudian menggeleng.
“Enggak.” Katanya lalu mengangguk hormat. “Permisi, Pak.” Tambahnya lagi kemudian cepat-cepat menuju toilet. Perutnya sakit dan dia tidak bisa berpikir jernih.
Alaina memasuki salah satu toilet saat didengarnya beberapa langkah kaki. Terdengar suara kran air menyala lalu beberapa wanita berbicara. “Kamu tahu ‘kan Alaina?”
Alaina memasang pendengarannya tatkala namanya disebut.
“Ya.” Sahut suara yang lain. Suaranya lebih cempreng daripada suara yang pertama. “Dari divisinya Pak Derri ‘kan?”
“Kasihan deh. Cowoknya ringan tangan.”
“Oya?”
Alaina menutup mata. Dia benar-benar malu. Sikap Sandi yang temperamental itu sudah menjadi rahasia umum. Dia lebih senang ditegur langsung daripada dibicarakan di balik punggungnya. Hal itu begitu menyakitkan baginya. Perutnya yang sakit tidak terasa lagi karena sekarang hatinya yang sakit serta malu.
“Iya.”
Lalu suara wanita cempreng berdecak. “Hubungan enggak sehat begitu kenapa masih dilanjutkan ya?”
“Yah, namanya juga cinta. Mau apalagi? Ya ‘kan?”
Alaina menghela napas pelan. Dia benar-benar ingin sekali keluar lalu mendamprat dua wanita itu namun dia masih menahan diri. Dia tidak ingin membuat keributan di toilet kantornya.
Setelah tidak terdengar lagi suara dua orang penggosip itu, Alaina keluar dari bilik toilet. Dihapus air matanya yang menetes dengan punggung tangan secara perlahan. Dicuci tangannya seraya menatap cermin. Wajahnya sedikit sembab dengan kantung mata. Dia kurang tidur karena Sandi. Alaina menghela napas. Lagi-lagi Sandi yang menguasai dirinya. Dibasuh wajahnya dengan air mengalir. Hari ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Semoga menjelang sore hari perasaannya sudah membaik dan mendengar kabar baik dari kepala divisi.
***
“Nih, Pak.”
Austin meletakkan beberapa amplop coklat ke atas meja kerja Langit di T and D. Langit yang sedang menandatangani beberapa berkas menghentikan kegiatannya. Diletakkan pulpen tanda tangannya di atas meja kemudian beralih pada berkas yang diberikan Austin.
“Sudah semua kamu bawa?” tanya Langit.
Austin mengangguk kemudian duduk berhadapan dengannya. “Termasuk berkas-berkas di bagian keuangan dan keuntungan perusahaan.”
Langit memerhatikan berkas-berkas keuangan yang dibawa Austin. Berkas keuangan selama beberapa tahun kebelakang. Mengapa perusahaan gawai Supperior menjadi pailit itu membuat Langit heran. Sementara Langit memeriksa, Austin memainkan papan nama yang ada di hadapannya. Pikiran pria itu kembali tertuju pada kejadian pagi tadi.
“Kenapa kamu enggak datang sendiri ke sana?” tanya Austin.
“Sibuk.” Jawab Langit tanpa memandang Austin. Banyak berkas yang harus dia tanda tangani dan pelajari membuat jadwalnya berubah. “Lagipula kamu tahu jadwalku.” Tambahnya. Austin benar-benar menyebalkan terkadang.
Austin mengangkat bahu. Dia tahu jadwal Langit namun dia hanya meledek sahabatnya itu, akan tetapi yang diledek sepertinya tidak sadar dan tidak peka.
“Aku bertemu dengan Alaina di Supperior.” Kata Austin tiba-tiba yang membuat Langit melirik sahabatnya itu dan kembali membaca berkasnya.
“Lalu?” tanya Langit pelan. Dia sebenarnya ingin tahu namun dia berusaha mengendalikan diri. Setelah semuanya, dia adalah CEO dan seorang pemimpin perusahaan harus menjaga wibawa dan tidak bersikap jumpalitan.
Austin berdehem. “Aku sengaja menabraknya.”
Ucapan itu membuat Langit meletakkan berkas yang ada di tangannya kemudian mengangkat alis pada Austin. “Kenapa kamu menabraknya?” kali ini Langit benar-benar penasaran.
“Yah,” Austin mengangkat bahu, “dia terlihat kacau padahal hari masih pagi. Matanya seperti kurang tidur dan mau menangis. Kupikir dengan menabraknya, harinya menjadi lebih baik.”
Langit mengembuskan napas jengkel pada ucapan Austin. Dia memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Hari sudah beranjak malam saat ini, tepat pukul tujuh. Dia sudah makan malam tadi namun tetap saja keningnya berdenyut sakit. Ucapan bodoh Austinlah yang membuatnya pusing.
“Austin.” Langit berdecak.
“Hm?” jawab Austin seraya tangannya masih memainkan papan nama milik Langit.
Langit yang masih jengkel pada jalan pikiran Austin, merebut papan nama itu lalu meletakkannya di tempatnya kembali diiringi bunyi ‘dug’ kencang. “Itu malah membuat hari Alaina menjadi lebih buruk lagi. Kamu ini benar-benar.”
Langit masih jengkel. Ingin sekali dia menarik semua rambut Austin hingga rontok. Kedua tangannya terkepal. Berusaha menahan diri untuk tidak menendang Austin keluar dari ruangannya.
Yang membuat jengkel hanya mengerutkan keningnya seraya memajukan bibir. Pertanda dia bingung di mana letak kesalahannya. “Dia masuk ke dalam toilet.” Kata Austin lagi.
Ucapan itu benar-benar membuat Langit kehabisan kesabaran. “Aku tidak peduli dia ke toilet.” Katanya kesal.
Dia mengacak-acak berkas yang ada di atas meja dan membaca asal berkas-berkas tersebut. Dia Berusaha mengendalikan diri untuk tidak mengatai Austin bodoh. Hanya Austin yang mau bekerja padanya dan menerima tekanan bahkan bentakannya.
Tangannya terhenti pada sebuah amplop coklat besar yang menarik perhatiannya. Ada sebuah nama tertera di amplop itu dan tujuan amplop itu dibuat yaitu ‘lamaran kerja’. Dikeluarkan isi dari amplop coklat itu lalu membacanya. Dia tersenyum membaca isinya.
“Ada ada, Pak?” tanya Austin heran. Tadi orang yang ada di depannya itu terlihat ingin sekali menelannya dan kini ekspresi wajahnya berubah 180 derajat.
“Telepon dia,” Langit memberikan amplop itu pada Austin. “bilang saya tertarik pada lamaran kerja yang dia buat.”
Austin menerima amplop itu namun tidak melihat isinya. Dia memandang Langit heran. “Anda enggak mau baca surat lamaran lainnya, Pak?”
Langit menggeleng. “Enggak. Saya maunya itu.” Katanya menunjuk amplop yang ada di tangan Austin dengan dagunya kemudian berdiri, dikancingkan jas kerjanya dan ditatapnya Austin yang akhirnya membuka amplop tersebut.
“Oh.” Austin tertawa pelan saat tahu siapa pelamarnya. “Oke.” Katanya lagi. Dia sudah tahu apa penyebab sahabatnya itu tiba-tiba berubah dari yang ingin sekali menguburnya hidup-hidup jadi berbelas kasih.
Langit menggeleng melihat tingkah temannya itu. “Aku mau pulang.”
Austin mendongak. “Enggak mau selesaikan itu?” tunjuknya pada berkas Langit yang masih berantakan.
Langit melirik mejanya. “Biarkan. Besok akan kulanjutkan lagi.”
“Mau dipanggil ke mana calon asisten pribadimu, Pak?” Austin mengekori Langit yang sudah berjalan terlebih dahulu.
“Ke sini.” Kata Langit tanpa menoleh. “Ah, ya, apakah besok kamu bisa datang lagi ke Supperior?” tanyanya lagi setelah beberapa saat terdiam.
Austin berjalan senjajarinya. “Bisa, Pak.”
“Kuingin kamu mengatakan langsung padanya bahwa dia diterima bekerja.”
Alis Austin berkerut. “Oke.” Jawabnya. Dia ingin bertanya lagi tetapi tidak ingin merubah kondisi perasaan Langit yang sudah mulai membaik.
***