“Nih.”
Langit memberikan satu bungkusan bakso yang dibelinya tadi pada Austin. Austin menerima dengan senang hati. “Anda enggak mau, Pak?”
Langit menggeleng. Dia tiba-tiba saja sudah kenyang melihat Alaina yang makan dengan lahap tadi. Keringat yang membasahi wajah wanita itu membuat Langit gatal sekali ingin menghampirinya kemudian mengusap kening berkeringat itu. Langit berdecak. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang menurutnya menyebalkan itu. Dia memaki dalam hati pada Alaina Clarissa yang sudah mengacaukan harinya saat ini.
“Pak, kenapa beli bakso jauh-jauh, sih?” Austin mengeluh seraya mengikuti langkah kaki Langit yang lebar menuju halaman belakang rumah Kakeknya yang luas.
“Kakek yang minta. Tanya saja sama beliau.” Jawab Langit.
Salah satu tangan pria itu menggenggam bungkusan bakso yang diminta Kakeknya. Kakeknya termasuk orang yang tidak mudah ditebak jalan pikirannya. Terkadang meminta hal yang aneh dan dengan lokasi yang jauh.
Seorang pria tua sedang duduk di kursi salah satu dari delapan buah kursi dengan meja panjang di halaman berumput, di bawah atap kanopi. Pria tua tersebut sedang membaca koran. Matahari siang yang menyengat tidak lantas membuatnya beranjak.
Langit berjalan menuju pria tua tersebut kemudian berdiri di sampingnya. “Kakek.” Sapanya.
Pria tua yang dipanggil Kakek meletakkan korannya kemudian mendongak. Senyum tercetak di wajah keriputnya. “Akhirnya! Mana baksonya?”
Di meja sudah disiapkan beberapa mangkuk dan beberapa gelas air putih. Terdapat pula buah melon potongan dan stroberi di piring berukuran sedang. Langit meletakkan bungkusan bakso itu di hadapan Kakeknya kemudian membukanya. Dituangkan dengan hati-hati bakso pesanan Kakeknya ke dalam mangkuk.
“Akhirnya.” Kakeknya berucap lagi. Dia mulai menggosokkan kedua tangannya tidak sabar.
Langit tersenyum lalu duduk di samping Kakeknya. Austin memilih duduk di sisi lain. Dia sibuk menuangkan bakso dan sambal ke dalam mangkuk. Langit memerhatikan Kakeknya yang makan bakso dengan lahap.
“Ini enak. Masih sama seperti pertama kali aku makan.” Kakeknya bergumam seraya menusukkan bakso menggunakan garpu. “Kamu enggak ikut makan?” tanya Kakeknya lagi tatkala diperhatikan Langit yang memilih mengunyah buah melon potongan.
“Aku kenyang, Kek.” Jawab Langit. Mulutnya sibuk mengunyah buah melon lalu beralih pada buah stroberi. Dia memakan stroberi perlahan. Menurutnya, buah kesukaannya itu harus dimakan perlahan demi menikmati rasanya yang enak.
“Hm.” Kakeknya mengangguk.
“Nenek mana, Kek?” Langit memerhatikan sekitar halaman belakang. Tidak ada Neneknya yang sibuk dengan tanaman hias.
“Jalan-jalan siang. Belanja. Menghabiskan uangku.” Kakeknya berdecak namun yang terdengar di telinga Langit adalah Kakeknya yang begitu mencintai istrinya.
Austin memilih diam. Dia tidak ingin mengatakan apapun pada pimpinan Bierhoff Company. Pria itu sibuk mengunyah bakso. Benar apa yang dikatakan pimpinan, bakso itu enak. Mungkin kapan-kapan dia akan beli lagi jika mereka mengunjungi tempat itu atau jika pimpinan ingin bakso lagi.
“Bagaimana kelanjutan pendekatanmu dengan wanita cantik semalam?”
Pertanyaan Kakek membuat Langit tersedak buah stroberi hingga batuk-batuk, sedangkan Austin ingin sekali menghilang detik itu juga. Austin tidak mengira bahwa Pak Tama akan menanyakan itu. Dia mengira Pak Tama hanya ingin tahu di mana Langit berada jika hari mulai malam.
“Halah kamu ini,” Pak Tama menepuk punggung Langit yang masih batuk-batuk dengan keras. “Minum!” katanya setengah membentak Langit yang masih batuk-batuk hingga berkaca-kaca.
Langit segera minum dengan mata menatap Austin yang duduk di hadapannya. Dia menatap Austin tajam menuduh seraya tangannya meraih selembar tisu lalu mengusapkan benda tersebut dikedua matanya. Diremasnya tisu tersebut kemudian dilemparkan ke atas meja. Austin mengkerut. Membayangkan tisu itu adalah dirinya.
Langit yakin, Austin yang memberikan kabar pada Kakeknya. Siapa lagi yang memberikan kabar semua kegiatannya pada Kakek selain Austin? Hantu? Langit tidak percaya adanya hantu. Yang dia percaya adalah Austin yang menjengkelkan.
Langit berdehem lalu menatap Kakeknya seraya tersenyum. “Kek, aku enggak sama siapa-siapa, kok.”
Kakeknya meletakkan sendok dan garpu lalu memandang Langit heran. “Loh, Austin kasih Kakek foto kamu sama wanita cantik di klubnya kolega Kakek.”
“Oh, dari Austin ya.” Langit melirik Austin tajam. Austin menyengir seraya mengunyah bakso perlahan.
“Ups.” Kakek menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mata tuanya melirik Austin yang ingin sekali kabur dari situ. Kemudian Pak Tama menepuk punggung tangan Langit yang ada di atas meja. “Kakek sudah tua. Kapan kamu menikah? Usiamu sudah matang, Nak. Kakek tidak masalah latar belakang pacarmu lagi. Terserah kamu asal kamu menikah dalam tempo cepat.”
Langit mengela napas lalu tersenyum. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Kakeknya. Sejak patah hatinya pada Hailey beberapa tahun lalu, dia tidak ingin mencari wanita lain. Ketidak sukaan Kakeknya pada Hailey ternyata sangat beralasan. Kakeknya selalu tidak menyukai Hailey dalam segala hal. Walau dahulu Langit mati-matian meyakinkan bahwa wanita tersebut berbeda, tetap saja Kakeknya menolak. Dia mencurahkan segalanya pada Hailey namun akhirnya wanita itu menipunya. Menjadikannya mesin uang demi memuluskan hasrat kemewahan.
“Jika kamu kembali pada Hailey, Kakek tidak suka.”
Langit menutup matanya. Dia menahan segala gejolak dalam dirinya. “Hailey sudah meninggal, Kek. Apa Kakek lupa?”
“Oh.” Kakeknya terkejut. Terdengar denting sendok dan garpu terjatuh di mangkuk.
Langit membuka mata lalu menatap Kakeknya dan Austin. Sahabatnya itu memilih untuk tidak mengatakan apapun sejak mereka datang ke kediaman Pak Tama. Bibir Austin terbuka lebar. Temannya itu terkejut mendengar Hailey sudah meninggal.
“Kamu enggak pernah bilang.” Kata Kakeknya lagi. Mata tua Pak Tama menatap Langit bingung. “Kapan?”
“Kek,” Stroberi yang masih dia genggam terlupakan sudah. Dia meletakkan buah tersebut di piring kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu makan. “Hailey meninggal karena kecelakaan akibat konsumsi obat terlarang. Aku pernah bilang sama Kakek. Mungkin Kakek lupa.”
Walau Langit sangat membenci Hailey, kematian wanita itu merupakan pukulan tersendiri baginya. Dia beranggapan bahwa dia gagal menjadikan Hailey sebagai wanita baik-baik. Kematian Hailey tidak diketahui siapapun kecuali Kakeknya dan keluarga wanita itu. Austin pun tidak tahu. Mungkin Austin baru tahu sekarang ini. Kematian akibat obat terlarang begitu sangat tabu dalam keluarga Hailey. Bahkan mereka memalsukan penyebab kematian Hailey. Mereka mengatakan pada orang bahwa Hailey kecelakaan lalu lintas dan tidak ada unsur mabuk atau narkoba.
“Oh, aku ingat.” Kata Kakeknya. Beliau mengerutkan hidungnya tidak suka. “Hailey memiliki pengaruh buruk untukmu, Nak. Semoga dia diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.”
Langit berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Kakeknya. Kakeknya selalu mendesaknya untuk menikah dan itu mengganggunya sekali. Memikirkan menikah, dia terbayang wajah Alaina Clarissa. Langit mengembuskan napas sebal karenanya. Alaina telah membuat kinerja otaknya berputar dengan sangat aneh.
“Kau mau ke mana?” tanya Pak Tama bingung.
“Aku masih ada kerja, Kek.” Kata Langit seraya mengancingkan jas kerjanya lalu berjalan pergi.
Austin melotot melihat Langit yang pergi begitu saja tanpa menyuruhnya untuk mengikutinya. Austin berdiri. Dia tidak ingin memrotes ucapan Langit. Bakso yang ada di mangkuk Austin tinggal satu. Dengan tangan, dia menjumput bakso tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Dikunyahnya bakso itu terburu-buru.
“Saya permisi, Pak.” Kata Austin.
“Ya.” Pak Tama mengangguk lalu melambaikan tangan mengusir. Dia mengela napas mengingat sikap Langit yang benar-benar susah diajak kompromi. Pak Tama mendongak menatap awan putih yang berjajar. “Permana, kamu ternyata mewariskan watak menyebalkanmu pada Langit. Kalau sudah ada maunya, tidak ingin dibantah.”
Pak Tama hanya berharap bahwa Langit akan baik-baik saja. Sudah banyak yang terambil dari hidupnya. Sudah banyak peristiwa yang membuat cucunya itu bersikap dingin dan semaunya sendiri. Tidak adanya bimbingan membuat Langit berpikir mandiri sebelum waktunya. Memimpin perusahaan skala besar pada usia muda.
Pak Tama tidak menginginkan cucunya tersebut memikul beban berat namun apalah daya. Pewaris tahta perusahaannya sudah tiada karena kecelakaan pesawat terbang bersama dengan menantu kesayangan. Tinggallah Langit seorang diri yang membuatnya mau tidak mau menunjuk cucu kesayangannya itu untuk memikul beban berat.
Pak Tama batuk-batuk. “Seandainya kesehatanku baik-baik saja, aku akan tetap memikul perusahaan itu,” dia mulai mengeluh. “Langit terlalu muda untuk berpikir berat mengenai kemajuan perusahaan.” Diia bergumam sendiri.
Seorang pria berjalan terburu-buru menuju Pak Tama yang sedang menusuk buah melon dengan garpu buah. Di tangan pria tersebut ada beberapa map. Keningnya berkeringat karena berlari.
“Pak.” Pria itu menyapa Pak Tama.
Pak Tama melirik pria itu lalu mengangguk. “Ah, Derri. Kamu datang juga.”
Pria yang diperkirakan berusia empat puluh tahun itu mengangguk. “Saya bawa yang Bapak minta.” Katanya. Disorongkannya beberapa map tersebut pada Pak Tama.
Pak Tama membuka salah satu map lalu tersenyum. “Kukira Langit enggak becus. Ternyata dia pintar sekali.” Dia menelusuri laporan tersebut dengan jarinya yang keriput.
Derri mengangguk seraya tersenyum. “Saya pikir Anda harus memercayakan semua perusahaan pada Langit, Pak. Dia sudah berusaha keras.”
“Enggak. Saya ingin dia menikah dahulu baru semua perusahaan saya berikan padanya.”
Alis Derri berkerut. “Saya kira Anda sudah memberikan semua perusahaan itu pada Langit secara tidak langsung.” Katanya.
“Ah,” Pak Tama berdecak. “Saya belum meninggal, jadi saya belum menyerahkan perusahaan itu padanya. Saya takut dia akan berfoya-foya dengan uang perusahaan. Saya membangun usaha itu susah payah.”
“Baik, Pak.” Derri mengangguk. Dia paham dengan ketakutan pimpinan utama Bierhoff Company. Jiwa muda Langit masih menggelora dan dia mengerti jika Pak Tama tidak ingin Langit salah langkah.
“Bisa saya minta sesuatu lagi padamu, Derri?”
Derri menunduk hormat. “Akan saya usahakan, Pak.”
Pak Tama mengeluarkan gawai dari saku celana yang dipakainya. Dia menyalakan gawai tersebut lalu memperlihatkan pada Derri sebuah foto. “Coba kamu cari informasi di mana wanita ini bekerja.”
Derri memerhatikan wajah wanita itu lalu mengangguk. “Siapa namanya, Pak?”
Pak Tama mengangkat bahu. “Mana saya tahu. Langit enggak bilang apapun. Coba kamu tanya Austin.”
Derri mengangguk lagi. Dengan Austin lebih mudah baginya untuk bertanya daripada Langit.
“Saya ingin Langit memiliki calon istri yang baik-baik. Tidak menjerumuskan cucu saya itu pada hal-hal tabu dan berbahaya.”
Ucapan Pak Tama tidak dapat dibantah. Pria tua itu tetap saja menginginkan Langit memiliki istri sesuai dengan pilihannya.
“Nah, apakah Diana sudah datang?” tanya Pak Tama.
Derri menggeleng. “Sepertinya belum, Pak. Saya datang tadi masih sepi.”
“Ah,” Pak Tama berdecak. “Dia menghabiskan uangku lagi. Tanaman apalagi yang dia beli kali ini? Halaman belakang sudah seperti hutan.” Tambahnya lalu diperhatikan halaman belakang yang ditumbuhi tanaman dengan berbagai ukuran. Sangat rindang dan asri.
Derri tersenyum-senyum mendengar ucapan Pak Tama. Bos besarnya itu selalu mengeluh mengenai kesenangan istrinya belanja tanaman hias namun tidak dapat berbuat apapun.
***