Two

1384 Kata
“Pesananku?” “Tenang saja, aku tidak lupa.” Dia membuka plastik yang menjadi tempat pesanannya bersarang sekarang. Mengecek apakah pesanannya sudah benar. Setelah mengecek pesanannya, ia meletakkan di kursi lalu menatap Nami yang sekarang berdiri di depannya. Wanita di depannya itu menatap sambil bertanya-tanya ke arah bungkusan yang tadi dibawa olehnya. “Apa yang kau tunggu. Pulanglah ke rumahmu, Wanita Sialan.” Nami mendengus keras. Ia memutar bola matanya dengan kesal. “Setidaknya berikan aku uang ganti atas pesananmu itu!” “Aku tidak pernah mengatakan akan mengganti uangmu,” jawabnya dengan tidak acuh. “Kaupikir aku membelikannya dengan sukarela?” Nami sedikit berteriak kesal. “Kupikir memang iya.” “Oh dear! Sejak kapan?” kesal Nami. “Sejak kau membuat tanganku cacat kemarin maka semua yang aku minta harus kau penuhi dan aku sebagai pihak yang kau rugikan tidak menerima penolakan,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Hati Nami terasa panas di tengah musim dingin ketika mendengar ucapan pria di depannya barusan. Ingin ia membuat tangan satunya lagi patah. “Hei itu semua kesalahanmu!” “Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun karena menghindarimu dan karena menghindarimu aku harus mengalami patah tulang. Kau tahu, bahkan untuk sekadar minum pun aku kesulitan. Siapa yang sialan, kau atau aku?” “Kau tidak patah tulang!” “Aku yang merasakan sakit jadi aku lebih tahu,” ia tidak ingin kalah. “Oke baiklah, lupakan masalah ganti uangku. Sekarang pesananmu sudah aku antarkan dan aku harus pulang!” “Hei kau masih punya tanggung jawab lain.” Nami menoleh dengan cepat ke arah pria menyebalkan yang sudah membuat perasaannya semakin berantakan di siang hari ini. Dia terlihat kacau. Rambutnya berantakan menjuntai ke segala arah, kaos rumahan yang ia pakai kusut, tangannya yang di-gips, wajahnya terlihat pucat. Sedikit penyesalan timbul di dalam diri Nami, jika pria itu tidak membanting setir mobilnya, pastilah ia yang akan mengalami luka parah. Bahkan lebih parah dibandingkan yang dialami pria di depannya saat ini. “Apa?” tanya Nami mencoba mengalah. “Aku belum makan dari pagi.” Nami mengernyit heran. Namun, detik berikutnya ia tahu apa maksud pria itu. “Kau bisa memesan pizza atau apa pun itu,” kata Nami, pria itu tampak kesal. “Aku tidak terbiasa memakan makanan seperti itu. Sekarang cepat kau masakkan aku makanan. No junk food, no fast food. Understand!” “Bukankah kau mengusirku barusan?” tanyanya tidak habis pikir. “Dibatalkan, kau harus membuatkanku makanan,” jawabnya tidak acuh. Andaikan saja membunuh tidak berdosa maka Nami akan melakukannya dengan senang hati. “Kau tidak punya siapa pun di rumah untuk memasakanmu?” tanya Nami sekali lagi. “Aku tinggal sendirian. Jangan banyak bertanya dan cepat masak.” Ia menyalakan televisi dan duduk dengan mengangkat kakinya ke atas meja. Nami harus menahan kesabarannya. Ia terpaksa melakukannya. Malas apabila pria itu melaporkannya kepada pihak berwajib. Urusan hukum di Amerika sulit untuk berkelit. Ia harusnya juga merasa bersyukur karena pria itu telah menukar tempatnya dengan Nami. Jika dia yang mengalami kecelakaan pastilah semua temannya akan kerepotan kerena dirinya. Nami menuju dapur rumah pria itu. Bersih dan terlihat jarang dipakai. Nami kemudian mengecek kulkasnya dan isinya lengkap. Nami berpikir untuk memasakkan makanan yang sederhana, tetapi ia tidak tahu apakah pria itu akan menyukainya atau tidak. “Makanan apa yang kau suka?” “Semua makanan sehat!” jawabnya berteriak. Nami tidak bertanya lagi. Ia memutuskan sendiri untuk memasak makanan yang diinginkannya. Ia harus cepat-cepat pergi dari rumah pria itu karena siang nanti ia akan bertemu dengan editornya. Ia masih harus membahas beberapa adegan di dalam cerita barunya yang akan segera diterbitkan. Nami adalah penulis novel yang ceritanya sudah banyak diterbitkan bahkan dijadikan film. Karya-karya sangat terkenal, tetapi orang-orang tidak pernah tahu dengan sosoknya. Ia adalah penulis misterius. Menjadi sorotan membuatnya tidak nyaman untuk bergerak bebas. Ia lebih suka seperti sekarang. “Aku tidak tahu kau suka atau tidak, tetapi rasanya tidak terlalu buruk.” Ia meletakkan masakannya di meja tepat di depan pria yang tengah menonton televisi. Pria itu menatapnya sebentar lalu menatap masakannya. Ia menurunkan kakinya kemudian mengambil sendok untuk mencicipi masakan Nami. Sebelum benar-benar mencicipinya ia mengorek-orek masakan Nami untuk menemukan kejanggalan. Bisa saja wanita itu memasukkan granat atau benda tajam ke dalam masakannya. Daripada benda tersebut, racun lebih masuk akal untuk membunuhnya. “Bagaimana?” tanya Nami penasaran. “Ini masih bisa dimakan oleh manusia. Tidak buruk,” komentarnya. Nami menampakkan raut kesal. “Sekarang aku ingin pulang. Jangan menggangguku lagi. Setidaknya sampai aku selesai menemui editorku.” Nami memakai mantelnya dan keluar dari rumah itu dengan cepat. Pria tersebut tidak berkomentar dan terus melanjutkan makannya. ❆❆❆ “Kau benar-benar akan datang dengan tangan yang seperti itu?” tanya Jeremy Scott pada Dean Gariando. “Memangnya aku bisa mengganti tulang patah sialan ini?” “Oke lupakan,” ia menghindar untuk berdebat dengan Dean. “Jadi wanita itu bertanggung jawab atas insiden ini. Dia memasak makanan untukmu siang tadi?” tanyanya. “Hm, hanya sebatas itu.” Jeremy Scott mengendarai mobilnya dengan cukup pelan. Ia baru saja selesai menjemput Dean karena Dean tidak bisa menyetir dan mobilnya sedang ada di bengkel. Mereka akan menghadiri acara pesta kesuksesan film garapan sahabat baik Dean. Sebagai sahabat tentu Dean akan menghadirinya meskipun kondisi tangannya sedang tidak baik. “Aku sangat kaget mendengar berita kecelakaanmu. Padahal kau baru saja pulang dari apartemenku.” “Menyetirlah dengan benar, kita akan terlambat.” Dean mengingatkan temannya dan mareka akhirnya menyudahi obrolan. Dean memang malas berbicara karena memang seperti itulah dirinya. Mobil Jeremy Scott melewati ramainya malam di New York City. Malam itu cerah, tetapi dingin masih terasa. Lagu-lagu Natal terdengar di mana-mana. Kerlap-kerlip lampu menambah marak suasana Natal di New York City. Pohon Natal berukuran super besar di tengah-tengah taman, sekelompok santaclaus yang bernyanyi di sekitaran Broadway, tempat-tempat makan penuh oleh orang-orang yang tengah bersantai. Semua terjadi di New York City kala Natal datang. Suasana yang sering Dean lewatkan saat Natal karena ia sering sibuk bekerja. “Kita sudah sampai.” Dean tersadar dan ia langsung turun dari mobil Jeremy. Hotel di kawasan Madison Square menjadi tempat acara tersebut berlangsung. Banyak artis, wartawan dan kalangan orang penting yang datang. Sejujurnya Dean memang tidak terlalu peduli dengan semua itu. Ia datang karena ini adalah acara sahabatnya. Ia tipikal orang yang malas berbaur dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya. “Banyak artis di sini. Ya, kau mungkin beruntung bisa mengajaknya berkencan.” Jeremy menyikut Dean. Ia begitu senang melihat acara yang ramai terutama banyaknya artis. Jeremy meninggalkan Dean yang sekarang berdiri sambil meminum wine. Dean melihat sahabatnya, Andrea Pallazo tengah dikelilingi orang-orang penting. Ia tidak berniat mengganggunya. Biarkan nanti dia yang akan menyapanya ketika temannya tidak sibuk. Dean memilih memperhatikan ruangan ballroom hotel tempat dilangsungkan acara dengan saksama. Tidak banyak orang yang dikenal Dean di sana dan terasa sangat membosankan untuk Dean Gariando. “Sudah kutebak acara ini akan ramai sekali.” “Tentu saja ramai, karena ini film yang sangat sukses. Dan kau adalah penulisnya.” “Oh kumohon, Neil diamlah atau kau akan membuka identitasku!” kesal Nami. Neil Alexinho terkekeh geli. Nami Anezaki sangat takut rahasianya terbongkar sebagai penulis terkenal dan karyanya yang telah difilmkan oleh Andrea Pallazo. Ia masih saja bersembunyi di balik layar. “Sorry,” dia meminta maaf. “Hei, kau ingin minum wine. Akan aku ambilkan jika kau mau.” “No, thanks. Aku tidak terlalu suka yang seperti itu,” jawab Nami. Nami memperhatikan dengan saksama ruangan itu. Andrea Pallazo yang mengundangnya langsung. Hanya Andrea Pallazo serta beberapa kru film yang mengetahui identitas Nami karena tentu saja karya film tersebut harus atas izin Nami sebagai penulis. Dan Neil Alexinho, editornya. Sebenarnya bukan kewajiban mengajak seorang editor, tetapi Nami lebih nyaman bila ada yang menemaninya. “Oke,” jawabnya singkat. “Hei aku melihat temanku di sana. Kuharap kau tidak keberatan aku menemuinya sebentar. Hubungi aku jika kau perlu denganku, oke.” Nami mengangguk setuju. Ia tidak bisa memaksa Neil Alexinho untuk terus bersamanya. Akhirnya Nami memilih untuk diam memperhatikan pesta. Namun, sesaat mata Nami berhenti berkeliling ketika menangkap sesosok pria yang sebelah tangannya di-gips, tangan satunya memegang segelas wine dan tatapannya saat ini tepat mengarah pada Nami. Oh dunia ini kecil sekali pikir Nami! “Oh sialan!” umpat Nami. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN